Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Jum'at, 11 September 2026
home lifestyle muslim detail berita

Panggilan Abi Umi ke Pasangan, Buya Yahya: Pembiasaan ke Anak

Fifiyanti Abdurahman Jum'at, 26 Agustus 2022 - 08:59 WIB
Panggilan Abi Umi ke Pasangan, Buya Yahya: Pembiasaan ke Anak
Ilustrasi keluarga muslim. Foto: Langit7/iStock.
LANGIT7.ID - , Jakarta - Banyak pasangan yang sudah menikah memberikan panggilan khusus kepada pasangannya, seperti sayang, babe, sweetheart, dan sebagainya.

Hal tersebut lumrah saja dilakukan, Nabi Muhammad SAW pun memberikan panggilan sayang pada istrinya, Aisyah.

Namun, bagaimana jika panggilan tersebut berupa panggilan yang biasa disematkan ke orang tua kita seperti Abi, Umi, Papa atau Mama? Bolehkah demikian?

Baca juga: Teladan Rasulullah, Bangun Romantisme Hubungan dengan Panggilan Sayang

Pengasuh Lembaga Pengembangan Da'wah dan Pondok Pesantren Al-Bahjah Yahya Zainul Ma'arif atau Buya Yahya mengatakan tidak ada pelanggaran syariat terkait hal tersebut.

Sebab, menurutnya itu merupakan cara mengajari anak memanggil mereka.

"Seorang istri memanggil suaminya dengan Abi, itu sebenarnya mengajarkan anak memanggil ayahnya dengan panggilan Abi. Coba misalnya mereka saling memanggil nama, bisa jadi anak juga menirunya," ujar Buya Yahya dikutip dari YouTube Al-Bahjah TV, Jumat (26/8/2022).

Dia melanjutkan, nanti jika anak sudah terbiasa memangil Abi atau Umi, maka Anda harusnya memiliki nama panggilan lain untuk istri maupun suami.

Baca juga: Romantis, Ini 5 Macam Love Language Rasulullah SAW

"Inikan semata-mata untuk membiasakan anak, tapi tetap kalau anak sudah terbiasa, harus punya panggilan spesial lah untuk pasangan," pungkasnya.

(est)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Jum'at 11 September 2026
Imsak
04:23
Shubuh
04:33
Dhuhur
11:53
Ashar
15:07
Maghrib
17:54
Isya
19:02
Lihat Selengkapnya
right-3 (Desktop - langit7.id)
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan