LANGIT7.ID, Sukoharjo - Pengasuh dan Kepala Laboratorium Astronomi Pondok Pesantren Modern Islam (PPMI) Assalaam, Ustadz AR Sugeng Riyadi, menilai, pendidikan ideal itu tidak boleh mengurung siswa di ruang kelas saja. Ilmu bukan sekadar teori saja, tapi harus dipraktikkan dalam bentuk karya.
Pendidikan seharusnya mengarahkan siswa untuk membuat satu karya dari ilmu yang didapat. Tidak hanya diberi pengetahuan saja, sehingga terkesan hanya sebuah teori yang terus berputar di ruang kelas.
"Untuk menghasilkan karya kan tidak sekadar membaca tapi juga harus dipraktikkan," kata Sugeng saat berbincang dengan LANGIT7.ID di Pesantren Assalam, Senin (29/8/2022).
Baca Juga: Toleransi ala PPMI Assalaam: Damai kepada Muslim, Non-Muslim, dan Pemerintah
Sugeng mencontohkan saat menjadi pengajar fisika. Dalam aktivitas belajar-mengajar, dia berada di ruang kelas saat pertemuan pertama dan terakhir. Selebihnya, dia mengajak para siswa praktik di lab fisika.
"Di lab saya bisa ajarkan teori, sekaligus praktik. Tapi di kelas, tidak ada praktik, teori tok. Sehingga kadang-kadang anak-anak, lab ayo kita praktikum. Terlalu banyak materi yang harus kita praktikkan, tidak cukup waktu hanya untuk belajar di kelas," ujar Sugeng.
Praktik siswa di lab Fisika diarahkan untuk membuat satu karya. Karya itu menjadi tolak ukur kelulusan siswa. Sugeng tak akan meluluskan siswa meski mendapat nilai 100 saat ujian, tapi tidak mengumpulkan karya.
"Walaupun nanti tidak ujian akhir, kalau karya jadi, kita luluskan," ujar Sugeng.
Baca Juga: Visi Peradaban Ponpes Assalaam Dirikan Observatorium dan Planetarium
Hal itu pula yang dia praktikkan saat mengampu ilmu astronomi di Pesantren Assalam. Dia selalu mendorong para santri Assalam untuk membuat karya. Dia menyebut pernah ada santri yang berhasil membuat kalender 100 tahun dalam satu lembar.
Karya tersebut berhasil mendapat juara I dalam ajang perlombaan internasional. Itu terjadi saat pandemi Covid-19 melanda dunia. Pembelajaran tatap muka ditiadakan, sehingga siswa bisa mencari dan mengikuti perlombaan internasional.
"Begitu dilombakan itu kalender 100 tahun, presentasi lewat zoom, juara 1. Itu namanya karya. Nah, kalau kita mengajarkan anak itu orientasinya adalah karya, mereka akan selalu terfikir bagaimana menciptakan karya-karya. Nanti mungkin dalam dunia entrepreneur dia mungkin akan mendirikan pabrik," ungkap Sugeng.
Tidak Sekadar Pintar, tapi Harus Beriman Di sisi lain, Sugeng juga memasukkan nilai-nilai agama Islam saat mengajar. Nilai tersebut bertujuan untuk memotivasi dan memberikan perspektif baru. Saat mengamati benda langit, para santri tidak sekadar melihat bulan dan bintang, tapi melihat itu sebagai ayat kauniyah.
"Maka, kita motivasi, kita tidak hanya melihat benda langit, tapi itu adalah ayat Allah. Sehingga, ketika melihat itu bagian dari membaca Al-Qur'an. tapi yang dibaca ayat kauniyah, bukan ayat qauliyah saja," ujar Sugeng.
(jqf)