LANGIT7.ID, Jakarta - Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Jakarta Timur (Jaktim) Kiai Haji (KH) Maarif Fuadi MA menilai Rasulullah SAW merupakan contoh terbaik dalam mewujudkan kerukunan antarumat beragama. Sebut saja, Piagam Madinah yang ampuh dalam mengatur kehidupan berbangsa.
Saat itu, umat Islam dan nonmuslim hidup berdampingan dengan baik. Rasulullah SAW mempraktikkan dan mengajarkan tentang kesetaraan dalam bermasyarakat dan tidak mendiskriminasi kelompok lain. Dalam hal muamalah, beliau tidak membedakan perlakuan terhadap orang Islam dan nonmuslim, baik di Makkah maupun di Madinah.
Bahkan sejarah mencatat,
Rasulullah SAW merupakan sosok yang memiliki ahlak paling mulia kepada nonmuslim sekalipun. Islam mengajarkan konsep perbedaan seharusnya membuat umat manusia bisa saling melengkapi, bukan malah menjadi faktor penyebab perselisihan.
"Agama Islam memandang segala perbedaan sebagai sebuah anugrah Tuhan yang begitu besar yang harus di syukuri. Masyarakat dalam pandangan Islam memiliki kedudukan yang sama, tidak ada yang merasa paling hebat atau paling kuat dari yang lain, memiliki hak dan kewajiban yang sama baik dalam bidang sosial, politik maupun hukum," kata Maarif kepada
Langit7.id, Senin (5/7/2021).
Dia mengungkapkan, salah satu solusi yang ditawarkan
Islam untuk mewujudkan kerukunan antarumat beragama adalah komunikasi. Dalam Islam, kata dia, dikenal dengan istilah musyawarah. Segala permasalahan bisa diselesaikan duduk bersama.
"Ketika terjadi permasalahan diselesaikan dengan mengedepankan klarifikasi, dialog, diskusi, musyawarah dan tidak memaksakan kehendak," ucapnya.
Diketahui, toleransi dan tenggang rasa sudah sering menjadi narasi dalam upaya mewujudkan persatuan. Hanya saja, kata dia, upaya kerap berhenti pada narasi, tidak sampai pada tahap realisasi di lapangan. Padahal, toleransi adalah modal sosial untuk menciptakan persatuan bangsa.
"Toleransi kerap mengalami pasang surut sesuai dengan latar belakang bangsa
Indonesia yang heterogen," ungkapnya.
(asf)