LANGIT7.ID, Jakarta - Wakil Presiden (Wapres)
KH Ma'ruf Amin mengingatkan kembali penerapan Islam Wasathiyah. Konsep ini cocok dengan Indonesia yang memiliki masyarakat heterogen.
Tantangan global yang dihadapi masyarakat saat ini salah satunya terkait kerukunan antarumat. Karena itu, pemerintah mendorong penerapan Islam Washatiyyah (
moderasi Islam) di Indonesia.
Kiai Ma'ruf mengatakan, penerapan Islam Washatiyyah di masyarakat tidak lah mudah. Perlu peran organisasi masyarakat (ormas) Islam untuk menggaungkannya, khususnya bagi kalangan muslim.
Baca Juga: Wapres: Ekonomi Umat Islam Masih di Posisi Marjinal"Saat ini pemerintah terus menggalakkan Islam wasathiyah di Indonesia sebagai upaya membangun kerukunan antarumat di dalam kemajemukan," kata Kiai Ma'ruf dalam
Muktamar Persis, Ahad (25/9/2022).
Menurut Wapres, peran ormas Islam sangat penting, untuk pembangunan akhlak generasi mudamenghadapi modernisasi dunia.
"Pemerintah menyadari peran organisasi masyarakat Islam dalam membangun bangsa ini juga sangat besar, baik melalui dakwah dan pendidikan, kegiatan sosial dan ekonomi kerakyatan, maupun pembangunan akhlak generasi muda menghadapi derasnya arus modernisasi dunia," ujarnya.
Apa itu Islam Wasathiyah?Mengutip dari MUI Digital, wasathiyah berasal dari akar kata 'wasatha'. Menurut Muhammad bin Mukrim bin Mandhur al-Afriqy al-Mashry, pengertian wasathiyah secara etimologi berarti:
وَسَطُ الشَّيْءِ مَا بَيْنَ طَرْفَيْهِArtinya: “sesuatu yang berada (di tengah) di antara dua sisi".
Wasathiyah bisa berarti realistis. Artinya, Islam Wasathiyah yaitu Islam yang berada di antara realitas dan idealitas. Islam memiliki cita-cita yang tinggi dan ideal untuk menyejahterakan umat di dunia dan akhirat.
Cita-citanya yang melangit, tapi ketika di hadapkan pada realitas maka bersedia untuk turun ke bawah. Wasathiyah dalam Islam bertumpu pada tauhid sebagai ajaran Islam yang mendasar. Ini sekaligus menegakkan keseimbangan dalam penciptaan dan kesatuan dari segala lingkaran kesadaran manusia.
(bal)