LANGIT7.ID, Jakarta - Ketua Komisi Dakwah MUI, Ahmad Zubaidi, menegaskan, posisi khatib di tengah masyarakat sangat penting. Dalam setahun, sekira 52 kali seorang khatib naik mimbar.
Berdasarkan data Kementerian Agama RI, Indonesia memiliki total 290/161 masjid per Mei 2022 yang tersebar di 34 provinsi. Jika angka itu dijumlahkan 52 kali perhelatan ibadah Jumat maka akan menghasilkan 15 juta lebih. Artinya, khatib berperan sebanyak 15 juta kali di tengah masyarakat dalam setahun.
Maka itu, seorang khatib harus menyampaikan pesan-pesan ajaran Islam dengan benar dan tepat. Tak perlu lama-lama asal pesan yang disampaikan bisa langsung diamalkan saat jemaah pulang dari salat Jumat.
Baca Juga: TGB: Jadikan Masjid Tempat Aman, Nyaman, dan Menyatukan
“Dai mengembang amanah menyampaikan ajaran Islam yang sebenar-benarnya. Maka, caranya pun harus cara yang benar. Bukan cara politisi, atau cara orang-orang yang ingin mendapatkan suara yang banyak dari masyarakat dengan cara memecah belah umat,” kata Zubaidi dalam Talk Show Khatib yang digelar secara daring, Kamis (6/10/2022).
Pesan keislaman yang sejuk itu penting agar masyarakat semakin bersatu dalam perbedaan. Zubaidi mengatakan, orang yang datang ke masjid salat Jumat itu bersifat plural, dalam artian datang dari berbagai latar belakang.
Ada pengusaha, pejabat, hingga masyarakat biasa. Pandangan politik pun berbeda-beda. Demikian juga dalam pandangan mazhab. Maka, khatib harus mampu menyampaikan narasi yang bisa merekatkan persatuan mereka.
Baca Juga: 2 Hal yang Dilarang saat Khutbah, Bisa Kurangi Pahala Salat
“Jangan sampai para jemaah kita pulang dari masjid malah ada yang berantem karena berdebat perkara politik. Atau mendebat apa yang disampaikan khatib, apalagi kalau khatib berbicara hal-hal yang berpotensi memecah belah umat,” kata Zubaidi.
Menurut Zubaidi, masjid boleh berpolitik. Tapi yang dimaksudkan adalah politik keumatan. Seorang khatib harus mampu mengajak umat bisa bersatu dalam kesatuan pandangan menjaga NKRI dan menjaga kesadaran umat.
Para khatib juga bisa memberikan pendidikan politik di dalam masjid kepada jemaah. Namun perlu ditekankan, pendidikan politik berbeda dengan kampanye.
Baca Juga: Tertidur saat Khutbah Jumat, Dianjurkan Berwudhu Kembali
Kampanye mengajak semua orang untuk satu pilihan. Sementara, pendidikan politik mengajak semua orang untuk saling menghargai dalam perbedaan pilihan politik.
“Tentu kita menyampaikan kepada jemaah kita, bahwa perbedaan pilihan politik adalah keniscayaan. Karena kita jangan sampai perbedaan itu menyebabkan perpecahan di kalangan jemaah,” kata Zubaidi.
(jqf)