LANGIT7.ID, Jakarta - TGH Muhammad Zainul Majdi atau akrab disapa
Tuan Guru Bajang (TGB) mengatakan, umat Islam saat ini sudah bosan dengan segala macam konflik. Perbedaan belum disikapi secara dewasa sehingga kerap menjadi faktor pemecah-belah umat.
Kendati begitu, ada satu tempat yang menjadi tempat bernaung semua golongan yakni masjid. TGB menilai, masjid sebagai tempat terakhir untuk mendapatkan kenyamanan dan keamanan dari hiruk-pikuk perbedaan.
“Ketika datang ke masjid muslim mencari ketenangan, memang tinggal masjid saja yang bisa menyatukan. Yang lain banyak sekali perbedaan, tapi untuk masjid mari kita jaga, jadi milik bersama,” kata TGB dalam Talk Show Khatib secara daring, Kamis (6/10/2022).
Maka itu, TGB mengajak semua umat Islam ‘memagari’ masjid dari segala macam bentuk kegaduhan demi kepentingan kelompok. Apalagi, jika kepentingan itu bersifat jangka pendek, seperti kampanye politik.
Baca Juga: Bias Politik Identitas di Indonesia, Selalu Dikaitkan pada Agama
TGB lalu menyampaikan dua hal penting terkait masjid, yakni:
1. Mimbar MasjidDalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari-Muslim, Rasulullah SAW bersabda,”Antara rumahku dan mimbarku terdapat taman di antara taman surga.”
TGB ingin fokus membedah kata ‘mimbarku’ dalam hadits tersebut. Mimbar itu merujuk pada mimbar Rasulullah di Masjid Nabawi. Dari mimbar itu, Rasulullah mentaklim, menuntun, dan mendidik umat Islam.
“Kita harus ingat, pada hakikatnya mimbar di masjid-masjid seluruh dunia adalah mimbar Nabi Muhammad. Jika kita menaiki mimbar sebagai khatib, sebagai pengurus masjid, maka pada saat itu kita sedang meminjam mimbar Nabi Muhammad SAW,” kata TGB.
Baca Juga: TGB: Toleransi Diterapkan di Kehidupan Sosial, Bukan dalam Akidah
Ketika meminjam, maka sesuatu itu adalah amanah dan harus dikembalikan dalam keadaan sama baik atau bahkan lebih baik. Artinya, kesucian mimbar Rasulullah harus dijaga.
Menjaga kesucian mimbar berarti tidak melontarkan narasi yang bisa memecah-belah umat. Ceramah yang disampaikan mesti mendidik dan menuntun jamaah mengamalkan ajaran-ajaran Islam.
“Mimbar sebagai seorang dai, maka, pada hakikatnya kita sedang meminjam mimbar Rasulullah. Ada kesucian, ada kehormatan, ada kemuliaan yang harus dijaga,” kata TGB.
2. Tempat Menentramkan HatiTGB menyampaikan, masjid merupakan tempat seorang hamba untuk menenangkan hati, memperbaharui iman, dan membersihkan jiwa dari kotoran maksiat.
فِيْهِ رِجَالٌ يُّحِبُّوْنَ اَنْ يَّتَطَهَّرُوْاۗ
“Di dalamnya (masjid) ada orang-orang yang ingin membersihkan diri.” (QS At-Taubah: 108)
Baca Juga: TGB: Toleransi Itu Sunnatullah, Bagian Syariat Islam
TGB menjelaskan, ayat di atas mengingatkan cita-cita orang yang datang ke masjid. Orang yang datang ke masjid adalah orang yang mendapatkan kenyamanan dan menenangkan hati.
“Itu idealisasi yang disampaikan Allah tentang orang datang ke masjid. Maka tugas kita dalam memfasilitasi, khatib dan pengurus masjid, supaya benar benar orang datang mendapatkan apa yang dia mau,” ucap TGB.
Masjid tidak boleh menjadi tempat penyebar narasi yang bisa memecah-belah umat. Orang yang tadinya datang ke mesjid ingin menghilangkan rasa benci, justru bertambah saat pulang.
“Jangan masuk ke masjid, keluar justru penuh kebencian, keluar jadi resah. Datang ke mesjid berharap dapat solusi, datang malah dapat seribu masalah,” ungkap TGB.
(jqf)