LANGIT7.ID, Jakarta - TGH Dr. Muhammad Zainul Majdi atau yang akrab disapa
Tuan Guru Bajang (TGB) menyebut toleransi merupakan salah satu wujud keindahan Islam. Toleransi berarti menempatkan sesuatu pada tempatnya. Ini penting diimplementasikan dalam kehidupan sosial, berbangsa, dan bernegara.
“Kenapa? Karena itulah ajaran Islam. Ajaran Rasulullah yang juga mengalir dari firman firman Allah di dalam Al-Qur’an,” kata TGB di acara Bedah Buku Toleransi karya Prof Quraish Shihab di Islamic Book Fair (IBF), Jakarta, Sabtu (6/8/2022).
Akan tetapi, implementasi toleransi itu akan berbeda jika berbicara tentang akidah dan muamalat. Ketika Allah berbicara tentang akidah dalam Al-Qur’an, narasi yang digunakan sangat sederhana. Dia mencontohkan Surah Al-Ikhlas, tidak ada improvisasi ketika Allah berbicara tentang akidah begitu pun dalam ritual ibadah. Sebab menurut TGB, keduanya tidak bisa ditoleransi.
Baca Juga: Ngaji Tafsir Al-Qur'an, Gus Baha dan TGB Bahas Kedamaian Beragama
Ketika masuk ke ranah sosial dan berinteraksi dengan orang-orang berbeda keyakinan, maka sikap toleransi sangat dibutuhkan. Islam memerintahkan untuk berpegang teguh pada akidah, dan menyuruh berkreasi dalam ranah muamalah.
“Karena itu, salah satu yang menjadi masalah adalah kalau yang muamalah di-akidahkan. Misal dalam proses pemilihan (Presiden), itu muamalah, tapi sering di-akidahkan,” kata Ketua Organisasi Internasional Alumni Al Azhar (OIAA) Indonesia itu.
Akidah dan muamalah harus ditempatkan pada tempatnya. Prinsip itu akan membawa kedamaian di tengah masyarakat Indonesia yang beragam. Setiap umat beragama tetap memegang teguh keyakinan masing-masing. Namun, bisa bekerjasama dalam berbagai kebaikan di ruang publik atau dalam muamalah.
Baca Juga: Jaga Aqidah, Toleransi Tidak Harus Membenarkan Semua Agama
Kerjasama itu bisa diikat dengan saling menghargai dan menghormati. Itu menjadi salah satu inti toleransi antarumat Beragama. Islam pun mengajar taaruf yang berarti saling berkenalan antara satu dengan yang lain.
“Maka itu, ini jelas, ini bukan soal mencampuradukkan akidah. Tidak ada toleransi dalam hal akidah dan ibadah. Dalam kehidupan sosial kita
ta'arafu, kita perlu menghormati orang yang berbeda, berempati juga, Jangan berpikir subjektif saja,” kata TGB.
Menurut dia, berfikir subjektif di ruang publik tidak bijak. Setiap penganut agama mengakui kebenaran agama masing-masing. Tapi itu cukup dibawa ke ruang privasi masing-masing. Tidak perlu digembar-gemborkan di ruang publik.
“Lakukan muamalah yang baik, akidah itu di dalam hati. Di ruang publik, hadirkan muamalah,” pungkas Mantan Gubernur NTB itu.
(jqf)