LANGIT7.ID, Jakarta - Presiden
Joko Widodo (Jokowi) mendorong jajaran Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) untuk bekerja keras mengembalikan kepercayaan publik kepada institusi Polri. Hal tersebut disampaikan Jokowi saat memberikan pengarahan kepada jajaran Polri di Istana Negara, Jakarta.
Jokowi mengungkapkan bahwa
kepercayaan publik terhadap Polri di bulan November masih 80,2 persen. Namun, angka tersebut turun menjadi 54 persen di bulan Agustus seiring dengan banyaknya kasus-kasus besar yang menimpa institusi
Polri.
Baca Juga: Presiden Jokowi Tegur Gaya Hidup Mewah Pejabat Polisi"Jatuh, terlentang, rendah sekali. Itulah pekerjaan berat yang saudara-saudara harus kerjakan untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat kepada Polri di tengah situasi yang juga tidak mendukung saat ini," kata Jokowi dikutip dalam keterangan Biro Pers Media dan Informasi Sekretariat Presiden, Sabtu (15/10/2022).
Menurut Jokowi, sebelum ada peristiwa penembakan di Duren Tiga yang menyeret mantan Kadiv Propam Polri,
Ferdy Sambo (FS), Indeks Kepercayaan Masyarakat menempatkan Polri di puncak teratas saat itu. Hal itu didorong kerja keras Polri dalam penanganan Covid-19 yang mendukung penyuntikan 440 juta dosis vaksin sehingga pandemi mereda dan ekonomi tumbuh 5,44 persen.
"Tetapi begitu ada peristiwa FS, runyam semuanya dan jatuh ke angka yang paling rendah. Dulu, dibandingkan institusi-institusi penegak hukum yang lain, (Polri) tertinggi. Sekarang, saudara-saudara harus tahu menjadi terendah. Ini yang harus dikembalikan lagi dengan kerja keras Saudara-saudara sekalian," ungkap Presiden.
Baca Juga: Kronologi Keterlibatan Irjen Pol TM dalam Kasus Peredaran NarkobaSelain itu, Jokowi mengingatkan bahwa situasi di semua negara saat ini sedang sulit karena menghadapi gelombang dan badai ekonomi global. Bahkan, 66 negara telah berada pada posisi rentan dan 345 juta orang di 82 negara sudah menderita kekurangan pangan akut.
Melihat fakta tersebut, Jokowi mengingatkan kepada seluruh jajaran Polri untuk memiliki kepekaan terhadap situasi krisis (sense of crisis) yang sama. Jokowi juga mengingatkan jajaran Polri lebih memperhatikan gaya hidupnya agar tidak menimbulkan kecemburuan sosial dan menjadi sorotan masyarakat.
"Saya ingatkan masalah gaya hidup,
lifestyle. Jangan sampai dalam situasi yang sulit ada letupan-letupan sosial karena adanya kecemburuan sosial ekonomi," ujarnya.
Baca Juga: Kekayaan Teddy Minahasa Tembus Rp29 Miliar, Tiga Kali Lipat dari Kapolri"Hati-hati, sehingga saya ingatkan yang namanya kapolres, wakapolres, yang namanya kapolda, yang namanya seluruh pejabat utama, perwira tinggi, mengerem total masalah gaya hidup. Jangan gagah-gagahan karena merasa punya mobil bagus atau motor gede yang bagus. Hati-hati. Hati-hati, saya ingatkan hati-hati," tambah Jokowi menerangkan.
Lebih lanjut, Jokowi mengingatkan bahwa teknologi saat ini menyebabkan perubahan interaksi sosial secara total. Menurutnya, saat ini adalah masa penuh keterbukaan karena semua orang bisa mengabarkan peristiwa yang terjadi pada media sosial, bukan hanya TV, media cetak, atau media daring.
"Saya terlalu banyak mendapatkan laporan sehingga kembali lagi gaya hidup. Urusan kecil-kecil tetapi itu bisa mengganggu kepercayaan terhadap Polri. Urusan tadi, urusan mobil, urusan motor gede, urusan yang remeh-temeh saja, sepatunya apa, bajunya apa, dilihat masyarakat sekarang ini. Itu yang kita harus mengerti dalam situasi dunia yang penuh dengan keterbukaan," tuturnya.
Baca Juga:
Terlibat Kasus Narkoba, Irjen Teddy Minahasa Batal jadi Kapolda Jatim
Kapolri Tegaskan Komitmen Berantas Judi Online dan Narkoba(asf)