LANGIT7.ID, Jakarta -
Santri merupakan generasi yang dididik untuk memahami ilmu agama Islam. Mereka diharapkan untuk berdakwah di tengah masyarakat setelah lulus dari pesantren.
Pengasuh Pondok Pesantren Al-Bahjah,
Buya Yahya, meminta para santri untuk selalu bersyukur bisa belajar agama di pondok pesantren. Setiap detik kehidupan di dalam pondok pesantren adalah ibadah.
"Bersyukurlah kepada Allah yang sudah memberikan kesempatan kepada anda untuk menuntut ilmu. Karena semenjak anda menuntut ilmu itu adalah sebetulnya ibadah,” kata
Buya Yahya dalam tausiahnya di Al Bahjah TV, Jumat (21/10/2022).
Baca Juga: Dear Santri, Ini Etika Menuntut Ilmu Berdasarkan Firman AllahSetelah lulus pesantren, maka para santri memiliki kewajiban. Ilmu yang telah dipelajari di pesantren harus disampaikan kepada masyarakat. Banyak media dakwah yang bisa digunakan. Bisa dari mimbar ke mimbar, maupun memanfaatkan perkembangan teknologi digital.
“Jika sudah punya ilmu anda punya kewajiban untuk menyampaikannya. Banyak santri pulang itu melempem, tidak berkiprah, hingga pada akhirnya ilmunya hilang, sehingga belajar bertahun-tahun seperti tidak pernah belajar,” kata Buya Yahya.
Kewajiban berdakwah dibebankan kepada orang yang memiliki ilmu agama. Para santri harus memahami ini. Memang ada kendala-kendala dalam berdakwah. Akan tetapi, kendala-kendala itu harus dilalui dan dijadikan batu loncatan.
Baca Juga: Etika Pergaulan Antara Santri dengan Ulama, Ini Kata Buya Yahya
Buya Yahya mencontohkan contoh kasus. Misal ada santri pulang kampung. Namun, di kampung tersebut sudah ada kiai atau tokoh agama yang sangat dihormati. Itu menimbulkan rasa tidak enak kepada sang santri.
“Perasaan tidak enak anda ini harus dipangkas. Maka dalam bahasan motivasi dakwah, ada kendala di dalam dakwah,” ujar Buya Yahya.
Buya Yahya menyampaikan dua kendala dakwah yang umum terjadi. Pertama, tawadhu tidak pada tempatnya. Ini berbahaya. Jikalau pun ada kiai sepuh, maka santri tidak boleh merasa tak punya kewajiban untuk berdakwah.
“Santri bisa bubar itu, yaitu alasannya masih ada kiai sepuh, kiai tua. Anda bantu beliau, jadi khatibnya. Cuma yang tidak mau itu, biasanya mau langsung gede. Ini niatnya sudah jelek,” ujar Buya Yahya.
Baca Juga: Asal-Usul Kata Santri dari Bahasa Sansekerta, Tamil, hingga India
Dia menegaskan, menjadi pendakwah tidak harus menjadi ustadz nomor satu. Santri harus menyadari posisinya sebagai ‘junior’ agar bisa membantu pendakwah ‘senior’. Dengan begitu rantai dakwah tidak pernah putus.
“Minta izin untuk mengisi juga. Bantu. Kalau tidak di masjid yang sama, anda minta izin di masjid yang berbeda. Harus. Kalau tidak, ilmu anda hilang. Ini tawadhu pada tempatnya. Sehingga banyak santri hilang ilmunya dan tidak berkiprah karena semacam ini. Tinggal minta izin kepada sang kiai, minta restu, minta dikoreksi,” tutur Buya Yahya.
Kedua, dalam berdakwah memang banyak hasutan. Orang yang mendakwahkan kebaikan pasti mendapat hasutan dari orang-orang yang tidak suka. Hal-hal semacam itu tak perlu dihiraukan.
Baca Juga: Puan Maharani: Santri Adalah Calon Pemimpin Indonesia
“Nabi Muhammad saja dihasut kok sama orang. Apalagi kelas-kelas kita. Tentu ada yang mengganggu dan sebagainya,” ungkap Buya Yahya.
Pengganggu tidak akan pernah bertahan lama. Sabar dan terus bersemangat menyampaikan ilmu yang telah dipelajari di pesantren. Tidak perlu patah semangat dan putus asa hanya karena pengganggu tersebut.
“Maju, berdakwah, mengajar, jangan ragu, semangat, tawadhu yang pada tempatnya, hormati guru, jangan menghasut. Beres. Anda akan menjadi penerusnya Rasulullah SAW,” ucap Buya Yahya.
(jqf)