LANGIT7.ID - , Jakarta - Dalam menentukan awal waktu salat,
Kementerian Agama menggunakan
ilmu falak. Hal tersebut disampaikan Kepala Subdit Hisab Rukyat dan Pembinaan Syariah Kemenag RI, Ismail Fahmi.
Ismail Fahmi menjelaskan, penentuan tersebut menggunakan rumus
kontemporer dengan basis data terbaru dengan acuan pergerakan matahari.
Baca juga: Masjid di El Corps Building, Pengingat Waktu Shalat untuk Pekerja"Sudah kita lakukan di Kemenag. Kita kumpulkan ahlinya lalu rumus itu kita masukkan ke dalam aplikasi maka muncullah yang menjadi acuan di Kemenag itu dalam bentuk web yang bisa nanti didownload oleh masyarakat. Tulis aja
Jadwal Shalat Bimas Islam," terangnya dalam webinar bertajuk Waktu Shalat Salah? Rabu (2/11/2022).
Kemudian, Ismail menjelaskan waktu salat yang sudah ditentukan dengan pertimbangan sains dan fiqih.
Waktu Dzuhur, kata Ismail, sangat akurat karena mempertimbangkan meridian dan miring matahari. Sehingga dapat dipastikan bahwa yang menjadi dasar di dalam perhitungan waktu Dzuhur yaitu saat
Rasulullah salat ketika matahari sudah condong.
"Kalau mudahnya itu ketika di atas kepala kita matahari sudah bergeser ke arah barat insya Allah sesuai. Dulu juga sudah kita jawab untuk penelitian waktu Dzuhur tinggal melihat bayangan yang ada. Kita berharap di saat pengukuran itu sebetulnya masyarakat harus menggunakan instrumen secara benar jangan mengukur main asal saja," katanya.
Sementara waktu Ashar, menggunakan
mazhab Syafi'iyah dengan berpatokan bahwa panjang bayangan itu sama dengan bendanya.
Baca juga: Bolehkah Menggunakan Bedug untuk Pemberitahuan Waktu Shalat?Begitu pula dengan waktu Maghrib, waktunya ketika terbenam matahari. Hal ini juga sudah di sesuaikan pada jamnya, yaitu minus 1 derajat setelah itu ditambah ikhtiar. Mekanisme penentuan waktu Maghrib dilakukan secara sains maupun fiqih.
"Ikhtiar ini buat pengamanan untuk waktu salatnya, agar dia bisa mencakup radius," ucap Ismail.
Kemudian, terkait penentuan waktu Isya menggunakan syafaq. Jamnya minus 18 derajat dengan posisi matahari di bawah ufuk.
"Setelah diteliti ternyata di minus 18 inilah syafaq itu menghilang dan datanglah waktu malam sehingga ini menjadi penentuan untuk awal waktu Isya," tuturnya.
Kemudian, untuk waktu subuh Ismail mengakui sangat beragam. Ada yang dimulai dari minus 13, 14, hingga 20. Namun, dari kriteria yang ada dan yang sudah berjalan jatuh pada minus 20.
Baca juga: Tantangan Waktu Shalat di Negara-Negara Sekitar Kutub Utara"Itu sudah diteliti sejak 2010 muncul, kemudian diteliti lagi dan alhamdulillah berakhir di 20. Memang itu sebuah kebenaran jadi mau diteliti seberapa banyak pun insya Allah pasti akan terbukti. Alhamdulillah semua yang menjadi acuan Kemenag tidak salah," pungkas Ismail.
(est)