LANGIT7.ID, Jakarta - Pakar Ilmu Falak Muhammadiyah, Susiknan Azhari, mengatakan,
gerhana bulan total sering dikaitkan dengan problematika penyatuan kalender Islam. Gerhana Bulan Total akan terjadi pukul 17:17 WIB/18:17 WITA/19:17 WIT dan berakhir pukul 19:49 WIB/20:49 WITA/21:49 WIT pada Selasa (8/11/2022).
“Peristiwa gerhana merupakan bagian penting dalam studi astronomi Islam. seringkali orang bertanya dan mengaitkan dengan persoalan penyatuan kalender Islam. mengapa dalam kasus hilal perdebatan tidak kunjung selesai?” kata Susiknan, dikutip laman resmi Muhammadiyah, Selasa (8/11/2022).
Peristiwa gerhana sudah bisa diprediksi jauh-jauh hari. Hasil prediksi itu selalu sesuai dengan realitas, termasuk peristiwa gerhana matahari sebagian pada 25 Oktober 2022 lalu.
Baca Juga: Dampak Gerhana Bulan bagi Kondisi Bumi dan Kehidupan Manusia
Kecanggihan teknologi dan perkembangan studi astronomi memungkinkan manusia bisa memprediksi waktu gerhana. Bahkan, prediksi bisa dilakukan untuk ratusan yang akan datang. Lalu, perdebatan kasus hilal tidak kunjung selesai?
“Kegelisahan yang wajar. Meskipun demikian untuk menjawabnya tentu tidak semudah membalikkan tangan. Di sini diperlukan berbagai pendekatan agar pihak-pihak yang ‘berseberangan’ bisa saling memahami dan dicari formulasi yang ‘menyenangkan’ semua pihak,” kata Susiknan.
Selama era reformasi, saat hasil perhitungan menunjukkan posisi hilal di bawah ufuk (-) tidak ada laporan keberhasilan melihat hilal. Dengan kata lain, semua pihak meyakini hilal tidak mungkin terlihat, meski ada yang melapor pasti ditolak.
Dalam praktiknya, selama ini saat posisi hilal di bawah ufuk umur, bulan selalu digenapkan 30 hari. Sementara, jika hasil hisab menunjukkan posisi hilal di atas ufuk (+), maka muncul beragam pandangan. Itu menjadi titik krusial yang selama ini terjadi.
Baca Juga: Materi Khutbah Rasulullah SAW Ketika Terjadi Gerhana
“Apakah titik krusial itu tidak bisa dikompromikan perspektif syar’i dan sains? Jawabannya sangat mungkin dipertemukan. Sesungguhnya, para pihak terkait sangat memahami bahwa benda-benda langit sangat teratur, tertib, dan bergerak sesuai tempat edarnya,” kata Susiknan.
Bukti konkret benda langit selalu bergerak teratur adalah gerhana yang terjadi selama ini yang selalu bersesuaian. Maka itu, konsep ‘hilal persatuan’ yang diupayakan memerlukan ‘keseimbangan pemahaman’ dan tidak boleh berat sebelah, seperti penentuan awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah.
Selain itu, dalam konteks penyatuan kalender Islam, peristiwa gerhana dapat menjadi acuan memahami nash secara dinamis sesuai perkembangan zaman. Dengan begitu, upaya penyatuan tidak hanya fokus pada persoalan kriteria.
Baca Juga: Gerhana Bulan Total Terjadi Hari Ini, Ini Fakta Menariknya
Aspek lain terkait kalender Islam perlu memperoleh perhatian. Umat islam saatnya memiliki satu sistem kalender Islam yang dapat diterima semua pihak. Itu agar ada kepastian dalam sistem transaksi uang di perbankan, jadwal penerbangan, internasional untuk jamaah haji, dan kepentingan lainnya.
“Untuk itu menurut Moedji Raharto umat Islam perlu mewujudkan kalender Islam yang mapan berbasiskan hisab, dan tidak meninggalkan histori rukyat untuk menjadi bahan evaluasi terhadap kriteria hilal yang dipedomani,” ujar Susiknan.
(jqf)