LANGIT7.ID, Jakarta - Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjadjaran (Unpad), Prof Poppy Rufaidah, menjadi orang Indonesia pertama yang berhasil meraih penghargaan '
Star of Excellence Award' dari America-Eurasia Center, Washington D.C.
Penghargaan tersebut diberikan langsung oleh Presiden America-Eurasia Center, Dr Gerard Janco kepada Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat, Sade Bimantara sebagai perwakilan dari Prof Popy. Penyerahan dilakukan pada acara America-Eurasia Center "
Embassies of the World in Washington, DC, Special Cultural and Business Networking Event".
Menurut Prof Poppy, penghargaan tersebut merupakan suatu upaya guna memperkuat hubungan dengan Amerika Serikat (AS). Selain itu juga menyatukan pimpinan kedutaan besar yang ada di Amerika Serikat bidang Pendidikan dan Kebudayaan.
Baca Juga: Muhammad bin Chakroun, Penerjemah Quran dan Tafsir Pertama ke Bahasa Prancis"Penghargaan ini berbeda dengan sebelumnya. America-Eurasia Center memberikan apresiasi atas apa yang telah dilakukan KBRI melalui Atikbudnya dalam memperkuat hubungan dengan AS dan menyatukan para Atikbud sehingga terbentuk Asosiasi Atikbud se-AS di Washington D.C," kata Prof Popy dilansir dari laman Universitas Padjajaran, Senin (14/11/2022).
Terpilihnya Prof Poppy dikarenakan sebagai sosok inisiator dari pembentukan asosiasi bagi para Atase Pendidikan dan Kebudayaan dari berbagai perwakilan kantor kedutaan besar di Amerika Serikat. Inisiasi tersebut digaungkan saat pertemuan yang diselenggarakan Kementerian Luar Negeri AS bidang Pendidikan dan Kebudayaan di Washington DC, awal Januari 2022.
Apa yang dilakukan Prof Popy kemudian berbuah manis. Pada 25 Mei 2022, resmi terbentuk Asosiasi Atase Pendidikan dan Kebudayaan Amerika Serikat/
Washington Educational & Cultural Attaché Association (WECAA).
"Kiprah ini yang dianggap America-Eurasia Center sebagai sesuatu yang perlu diapresiasi karena belum pernah ada asosiasi seperti ini," ujar Prof Popy yang juga selaku Presiden pertama WECAA itu.
Melalui WECAA, lanjut Popy, wadah ini sebagai upaya untuk memperkuat diplomasi pendidikan dan kebudayaan antar negara duta dengan Amerika Serikat. Popy mengaku terkejut sekaligus senang bisa memperoleh penghargaan prestisius tersebut.
Baca Juga: Ilmuwan Muslim Farouk El Baz, Otak di Balik Kesuksesan Misi Apollo"Saya sangat
surprise dapat kabar ketika sudah pulang. Suatu kejutan
happy ending sebagai Atdikbud, karena apa yang dilakukan selama di AS ternyata ada yang memberikan apresiasi," ujar Popy.
Popy tercatat sudah menyelesaikan tugasnya sebagai Atikbud di KBRI AS sejak 18 Desember 2018 hingga September 2022 lalu. Menurutnya, bekerja sebagai Atikbud di negara adi daya memiliki tantangan tersendiri, salah satunya meyakinkan mitra di AS bisa bekerja sama di bidang Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi.
"Kerja sama dengan Amerika Serikat terbuka luas, tinggal bagaimana kita proaktif. AS negara yang sangat menghargai kompetensi dan keunggulan yang dimiliki setiap orang, hal tersebut perlu dipresentasikan dengan sebaik-baiknya. Siapa yang bisa menyampaikan dan meyakinkan itu bisa menjadi penguat penjalin kerjasama," lanjut Popy menerangkan.
Saat ini, Popy masih menjalankan tugasnya sebagai guru besar bidang Marketing dan Manajemen Strategis di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unpad. Popy mengaku ingin berbagi pengalamannya selama di AS kepada perguruan tinggi di Indonesia.
"Sharing session pengalaman yang hampir empat tahun diperoleh selama di AS agar dilakukan oleh beragam pihak di kalangan perguruan tinggi dan instansi terkait di Indonesia. Khususnya dalam rangka peningkatan hubungan kerja sama Indonesia dengan AS," tutur Dewan Penasihat Asosiasi Atdikbud se-AS di Washington D.C/WECAA itu.
Baca Juga:
Kisah Talal Yassine, Supir Taksi yang Berhasil Jadi Bos Crescent Wealth
Rana Dajani, Ilmuwan Muslimah Paling Berpengaruh di Dunia(gar)