LANGIT7.ID -
Maksiat terlihat indah di mata manusia. Itu yang membuat manusia memiliki dorongan untuk bermaksiat, padahal maksiat dilarang oleh Allah Ta’ala. Pada saat itu, mata dan hati mendapat ujian yang berat. Rintangan mesti dilalui agar mata dan hati bisa diarahkan mencari ridha Allah.
Ulama asal Rembang,
KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau akrab disapa Gus Baha, menegaskan, maksiat lahir dari syahwat. Maka, tugas manusia adalah mengubah syahwat itu agar bisa condong pada kebaikan.
Ada banyak hal yang bisa dilakukan untuk melatih mata dan hati agar condong kepada kebaikan. Di antaranya membayangkan rasa takut kepada Allah seperti takut akan gempa bumi atau bencana lain. Dengan begitu, syahwat untuk bermaksiat bisa hilang. Ini merupakan analogi Imam Al-Ghazali yang disampaikan Gus Baha.
Baca Juga: Gus Baha: Bencana Alam Belum Tentu Azab, Bisa Jadi Penghapus Dosa
Berikut ini tiga cara agar mata dan hati manusia condong kepada kebaikan:
1. Melatih Cinta kepada IbadahHawa nafsu beriringan dengan hal-hal berbau maksiat. Misalnya menjadikan wanita cantik bukan mahram sebagai kesenangan mata. Pandangan mati bisa masuk ke dalam hati lalu merangsang syahwat. Jika tidak bisa ditepis, bisa-bisa berujung pada maksiat berupa zina.
“Kuatnya nikmat menuruti hawa nafsu. Kuatnya menikmati hawa nafsu dari hati adalah penyakit yang akut dan sulit diobati,” kata Gus Baha dalam tausiahnya yang diunggah di kanal Santri Gayeng, dikutip Rabu (30/11/2022).
Ada banyak latihan yang bisa dilakukan. Gus Baha mencontohkan, latihan bisa dilakukan melalui ibadah-ibadah sunnah seperti memperbanyak dzikir, shalawat, hingga tahajud. Terus berlatih sampai menemukan kenikmatan saat beribadah.
Baca Juga: Tanda Taubat Seorang Muslim Diterima Allah Ta'ala
“Dalam benak akan mendapat kenikmatan ketika melihat wanita cantik, uang, dihormati orang, dll. Itu karena tidak menemukan kenikmatan saat tahajud,” kata Gus Baha.
Hal utama yang bisa dilakukan adalah mengubah pikiran bahwa maksiat adalah perbuatan buruk, dan berdampak negatif pada diri sendiri. Selain itu, hadirkan pikiran bahwa maksiat yang dilihat sebagai kenikmatan adalah penyakit hati yang sulit diobati. Maka, harus dihindari agar tidak terserang penyakit kronis.
“Jika punya teori yang memuja maksiat sebagai nikmat, maka berarti kamu punya penyakit yang susah diobati. Penyakit paling susah diobati adalah keyakinan bahwa hidup ini tanpa maksiat tidak manis atau enak. Maka harus dilatih mencintai ibadah, kadang-kadang tahajud, menikmati hidup anugerah Tuhan,” ujar Gus Baha.
2. Meneror Diri SendiriMenikmati ibadah bisa saja menjadi langkah yang berat. Bangun tengah malam untuk tahajud sungguh berat. Apalagi, jika ada jadwal gelaran Piala Dunia. Maka, cara kedua yang harus dilakukan adalah meneror diri sendiri.
Baca Juga: Habib Abdurrahman Al Habsyi: Hukum Berinfak tapi Bermaksiat
“Kalau tidak bisa menikmati ibadah, maka teror diri sendiri. Caranya, bayangkan besok mati. Jika mati saya tidak membutuhkan uang, wanita cantik. Hanya butuh amal shaleh. Lalu, Istighfar,” ujar Gus Baha.
Teror diri sendiri seolah besok adalah hari kematian. Teror semacam ini akan memicu semangat untuk memperbanyak amal shalih. Bayangan kematian memantik langkah dan gerak bibir untuk beribadah kepada Allah.
Ibnu ‘Umar RA pernah menyatakan:
إذا أصبحت فلا تنتظر المساء ، وإذا أمسيت فلا تنتظر الصباح ، وخذ من صحتك لمرضك ، ومن حياتك لموتك
“Jika engkau berada di pagi hari, jangan tunggu sampai petang hari. Jika engkau berada di petang hari, jangan tunggu sampai mati. Manfaatkanlah waktu sehatmu sebelum datang sakitmu. Manfaatkanlah waktu hidupmu sebelum datang matimu.” (HR Bukhari)
3. Hadirkan Rasa Takut kepada AllahSyahwat untuk bermaksiat dalam hati tidak akan bisa hilang jika terus dibiarkan. Salah satu cara menghilangkan syahwat bermaksiat itu adalah oleh rasa takut yang mengagetkan atau kerinduan yang begitu dalam.
Baca Juga: 3 Cara Atasi Malas Beribadah, Salah Satunya Hindari Maksiat
Syahwat itu bisa hilang oleh rasa takut. Imam Al-Ghazali memberikan contoh dengan gampang. Ada orang yang ingin menyetubuhi istrinya yang cantik lalu terjadi gempa, masih bisa syahwat atau tidak? Tidak.
“Jadi, syahwat bisa dihilangkan oleh rasa takut. Imam Ghazali berkata, bayangkanlah kamu takut kepada Tuhan seperti halnya kamu takut akan gempa. Insya Allah syahwat tersebut akan hilang,” tutur Gus Baha.
Baca Juga: Gus Baha: Jadikan Ibadah sebagai Kenikmatan agar Tak Lagi Doyan Maksiat(jqf)