LANGIT7.ID, Jakarta - Anggota Dewan Hisbah Pengurus Pusat Persatuan Islam (PP Persis), Ustaz Amin Muchtar menjelaskan para ulama memberikan catatan ringkas, setelah menelusuri firman Allah Ta'ala. Menurut dia, dalam kitab Taisirul Latif Al Manaf halaman 288 Ibnu Katsir memberikan catatan periode hidup Ashabul Kahfi.
Ustaz Amin Muchtar menyampaikan, Ashabul Kahfi adalah para pemuda yang diberi hidayah taufik dan diilhamkan kepadanya, untuk mengenal Tuhannya serta mengingkari keyakinan dan ritual kaumnya, yaitu menyembah berhala.
"Jadi mereka menampakan akidah yang berbeda dengan kaumnya. Jadi Ashabul Kahfi itu dianggap sebagai generasi yang nyeleneh atau melawan arus,
out of the box," kata Ustaz Amin seperti dikutip
Langit7 dalam akun YouTube Sigabah Channel, Kamis (1/12/2022).
Baca Juga: Tafsir Surat Al-Kahfi: Hidayah Allah kepada Pemuda Penjaga TauhidLebih lanjut, Ustaz Amin menyebutkan bahwa Ibnu Katsir memberikan catatan periode hidup Ashabul Kahfi demi menyelamatkan keyakinan serta merawan akidah dengan berlari dari kaumnya. Hal itu dilakukan karena takut akan fitnah pada agama mereka.
"Nah kurang lebih menurut Imam Ibnu Katsir masa hidup Ashabul Kahfi, yaitu pada zaman seorang raja yang diktator lagi keras kepala bernama dekianos. Ini yang pertama terkait masa hidup Ashabul Kahfi," jelas dia.
Catatan kedua selain identitas dan periode hidup, kata Ustaz Amin, para ulama juga memberikan catatan berkenaan dengan berapa jumlah dari Ashabul Kahfi. Dia mengatakan, dalam Surat Al Kahfi ayat 22 menceritakan perselisihan pendapat di kalangan orang-orang sehubungan dengan kisah Ashabul Kahfi.
"Pendapat mereka ada tiga hal, ini menunjukkan bahwa tidak ada pendapat yang keempat. Dan bahwa pendapat yang pertama dan kedua adalah lemah, sebab disebutkan oleh firmanNya, Apa yang dinyatakan tak lebih sebagai terkaan terhadap perkara yang gaib," ujarnya.
Berdasarkan penjelasan Imam Ibnu Katsir pendapat yang tidak berlandaskan kepada pengetahuan, perihalnya sama dengan seseorang yang membidikan anak panahnya ke arah yang tidak diketahuinya. Maka lemparan panah itu tidak akan mengenai sasaran, dan jika mengenai sasaran maka hanya karena kebetulan.
"Maka tentang jumlah inilah Allah Ta'ala berfirman kepada Nabi Muhammad Saw. Katakanlah hai Muhammad, Tuhanku lebih mengetahui jumlah mereka," tuturnya.
Baca Juga: Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir: Asal-Usul Penamaan Surat SabaDengan demikian, kata Ustaz Amin Imam Ibnu Katsir menyatakan suatu petunjuk bahwa hal yang terbaik dalam menghadapi masalah seperti ini ialah mengembalikan pengetahuan tentangnya kepada Allah Taala. Sebab, kita tidak perlu mendalami hal seperti ini tanpa pengetahuan.
"Akan tetapi jika Allah memberitahukan kepada kita suatu pengetahuan mengenainya, maka kita mengatakannya. Jika tidak, hentikan berdebat tentang jumlah Ashabul Kahfi," ujarnya.
Selanjutnya, catatan ketiga menurut Ustaz Amin yang juga tak kalah penting untuk disampaikan melengkapi identitas di balik penamaan Surat Al-Kahfi atau Ashabul Kahfi, yaitu di mana letak Al Kahfi.
"Nah paling tidak hasil penelitian terdapat 33 lokasi yang diklaim sebagai Gua Al Kahfi dan sedikitnya sudah ada 104 penelitian di abad modern mengenai tempat ini," ujarnya.
Ustaz Amin menambahkan bahwa yang paling disoroti dari berbagai situs dan berbagai lokasi adalah gua yang berada di Yordania. Tepatnya di wilayah Rahib 1,5 kilometer timur Kota Abu Alanda, maka situs bersejarah ini dikenal dengan nama Ar Raqim.
"Beberapa bukti yang mendukung situs Ar Raqim ini sebagai tempat persembunyian Ashabul Kahfi, antara lain merujuk riwayat yang menyebutkan beberapa sahabat Rasulullah, seperti Muawiyah bin Abu Sofyan dan lainnya, pernah melintasi tempat itu di masa Umar Bin Khaththab kemudian mereka memasuki gua tersebut," tuturnya.
Baca Juga: Bagaimana Hukum Salat Dhuha Berjamaah?(zhd)