LANGIT7.ID, Jakarta - Asisten Profesor di Sekolah Pascasarjana Studi Turki di Universitas Marmara, Dr. Qayyim Naoki Yamamoto, mengatakan, manga
Jepang sarat dengan nilai-nilai Islam. Itu tidak terlepas dari hubungan peradaban Islam dan Jepang pada masa lalu.
Mangga merupakan salah satu budaya populer dari Jepang yang dapat didefinisikan sebagai karikatur, kartun, komik strip, komik dalam bentuk buku, atau singkatnya komik Jepang.
Baru-baru ini, Naoki Yamamoto melakukan satu penelitian berjudul ‘
Introduction to sufism through key concepts of manga (Pengantar Tasawuf melalui Konsep-konsep Utama Manga)’. Dia melakukan penelitian itu setelah kembali ke Jepang setelah 11 tahun berada di Mesir.
Ketertarikan meneliti kesamaan antara manga dan tasawuf saat diundang Rektor Universitas Ibnu Khaldun, Recep Şentürk, ke Istanbul. Dia belajar di Turki selama 10 tahun. Salah satu teman kelasnya membaca komik Naruto, salah satu manga populer dari Jepang.
Baca Juga: Patut Dicontoh, Suporter Jepang Bersihkan Sampah Usai Pembukaan Piala Dunia
“Tidak mengherankan karena ini adalah manga yang sangat populer,” kata Naoki Yamamoto dalam wawancara dengan Traversingtradition.com, dikutip Kamis (1/12/2022).
Naoki Yamamoto menyebut orang Turki sangat menyukai Naruto. Dari situ dia mulai menemukan keterkaitan antara tasawuf dengan manga. Orang Turki sangat dipengaruhi konsep "
sensei" (guru/mursyid) dan "
shugyou" (semangat kerja/sayru suluk), yang merupakan tema penting Naruto.
“Selain kedua konsep tersebut, pertobatan adalah tema utama yang digunakan dalam Naruto dan semua manga shounen lainnya,” kata Naoki Yamamoto.
Manga Shounen adalah genre yang menekankan pengembangan karakter. Secara khusus bertujuan untuk mendidik generasi muda agar memiliki rasa moralitas. Itu sebabnya protagonis dalam manga shounen selalu berhadapan dengan kesulitan dan harus mengatasi kesulitan.
Baca Juga: Pungut Sampah Usai Nonton Bola, Ini Makna Filosofi Keizen 5S
Akibatnya, mereka mungkin membuat kesalahan, yang merupakan poin yang sangat penting. Bahkan sensei (orang yang mengajarkan karakter utama) mungkin salah. Kakashi dan Jiraiya, beberapa guru Naruto, selalu memiliki beberapa kesalahan dan menyesali kehidupan masa lalu mereka.
Namun, tidak peduli seberapa banyak mereka sakit karena kesedihan. Mereka tidak pernah menyerahkan hidup mereka atau mengisolasi diri dari masyarakat. Sebaliknya, mereka tetap menerima siswa, mencintai mereka dengan tulus, sehingga berusaha membesarkan generasi penerus. Itu merupakan elemen dasar dari genre manga shounen.
Oleh karena itu, seiring berjalannya waktu, Naoki Yamamoto pada satu kesimpulan bahwa teman orang Turki menyukai Naruto bukan hanya karena manga ninja. Tetapi, juga karena unsur sufistik yang dikandungnya; guru (
hodja/mursyid), semangat kerja (
sayr u suluk), bimbingan (
irsyad), taubat (
tawba).
Memperkenalkan Tasawuf di JepangSaat kembali ke Jepang, Naoki Yamamoto memikirkan cara memperkenalkan tasawuf ke masyarakat Negeri Samurai Biru. Di Jepang, tasawuf sering diterjemahkan sebagai mistisisme dan hanya diselimuti oleh unsur mistik.
“Mistisisme semacam itu digambarkan seolah-olah tidak ada aturan hijab atau seolah-olah minum alkohol diperbolehkan, yang sangat umum di Jepang,” kata Naoki Yamamoto.
Baca Juga: Nostalgia, Deretan 7 Film Kartun Top Generasi 90-an
Dia ingin memperkenalkan, tasawuf lebih dari mistisisme semacam itu. Ada banyak unsur lain dalam tasawuf sepert moralitas (akhlak), kesusilaan (adab), dan tarekat. Dia ingin memperkenalkan wajah tasawuf yang sesungguhnya kepada masyarakat Jepang.
(jqf)