LANGIT7.ID, Jakarta - Rais Syuriah PBNU, KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau akrab disapa
Gus Baha, mengatakan, mencintai ulama atau kiai bukan diekspresikan dengan sering sowan atau berkunjung. Cinta itu bisa dibuktikan dengan banyak belajar dan menghadiri majelis ilmu kiai tersebut.
“Kalau cinta kiai, ya, ngaji saja. Cinta kiai, kok malah senang sowan. Itu namanya mengganggu,” kata Gus Baha dalam salah satu tausiahnya yang diunggah di kanal YouTube Santri Gayeng, dikutip Jumat (9/12/2022).
Menurut Gus Baha, sowan menjadi salah satu keanehan yang kerap ditemukan di tengah masyarakat. Banyak orang hanya suka sowan ke kiai saja, tapi malas datang ke majelis ilmu kiai tersebut.
“Orang Jawa memang aneh. Cinta orang alim itu artinya cinta ilmunya. Mestinya dengan mengaji saja itu cukup. Kadang tidak. Tidak suka ngaji, sukanya malah sowan. Minta barokah katanya. Dasar orang Jawa! repot,” ucap Gus Baha.
Baca Juga: Etika Pergaulan Antara Santri dengan Ulama, Ini Kata Buya Yahya
Orang alim, kata Gus Baha, sudah sangat baik meluangkan waktu dan tenaga untuk mengajarkan ilmu kepada masyarakat. Hal itu sepatutnya diapresiasi dengan menghadiri majelis ilmu dengan meramaikan majelis mereka.
“Kalau cinta ilmunya, kiai itu sudah baik, mau mengajar secara terbuka dan detail. Ketika ada orang alim, kamu bilang ‘orang alim kok, tidak mau disowani?’ Kamu saja sendiri yang jadi orang alim. Kamu sendiri bukan orang alim, kok banyak ngomong,” ucap Gus Baha.
Gus Baha menjelaskan, ada sebagian ulama atau kiai acapkali tidak senang jika sering disowani oleh banyak orang. Bukan berarti eksklusif dan alasan jual mahal.
Akan tetapi, tipikal orang alim itu sangat menjaga lisan, tidak banyak bicara, dan hanya berkenan bicara panjang lebar dan serius saat mengisi pengajian saja.
Baca Juga: Ustaz Jeje Zaenudin: Cintai Ulama dengan Teladani Akhlaknya
“Orang alim itu tidak mau banyak bicara, sebab khawatir terpeleset. Jadi bicaranya, ya saat mengajar. Selesai ngaji, kok masih sowan lagi?
Innalillahi wainna ilaihi rojiun,” kata Gus Baha.
Maka itu, kata dia, rasa saling pengertian harus dikedepankan. Bagi dia, datang ke majelis ilmu para kiai sudah cukup menjadi ekspresi cinta.
مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا، سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
“Barang siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR Muslim).
Gus Baha mengutip satu kisah yang terjadi pada masa Rasulullah SAW. Nabi Muhammad SAW sebagai pemimpin umat Islam kerap disowani umat Islam kala itu.
Baca Juga: Tak Ada Istilah Penghormatan Terakhir Bagi Pecinta Ulama
Namun, lama kelamaan banyak dari para sahabat lebih condong curhat masalah pribadi. Lalu, Allah Ta’ala menurunkan ayat tentang larangan sowan kepada nabi, kecuali dipanggil. Saat nabi di Masjid berarti milik umat, jika di rumah berarti milik keluarga.
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَدْخُلُوْا بُيُوْتَ النَّبِيِّ اِلَّآ اَنْ يُّؤْذَنَ لَكُمْ اِلٰى طَعَامٍ غَيْرَ نٰظِرِيْنَ اِنٰىهُ وَلٰكِنْ اِذَا دُعِيْتُمْ فَادْخُلُوْا فَاِذَا طَعِمْتُمْ فَانْتَشِرُوْا وَلَا مُسْتَأْنِسِيْنَ لِحَدِيْثٍۗ اِنَّ ذٰلِكُمْ كَانَ يُؤْذِى النَّبِيَّ فَيَسْتَحْيٖ مِنْكُمْ ۖوَاللّٰهُ لَا يَسْتَحْيٖ مِنَ الْحَقِّۗ
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu memasuki rumah-rumah Nabi kecuali jika kamu diizinkan untuk makan tanpa menunggu waktu masak (makanannya), tetapi jika kamu dipanggil maka masuklah dan apabila kamu selesai makan, keluarlah kamu tanpa memperpanjang percakapan. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mengganggu Nabi sehingga dia (Nabi) malu kepadamu (untuk menyuruhmu keluar), dan Allah tidak malu (menerangkan) yang benar.” (QS. Al-Ahzab: 53).
“Sering sowan ke Nabi, itu sama saja melukai hati Nabi. Cuma Nabi mau bilang itu tidak pantas, nabi kok mengusir tamunya? Akhirnya ada etika sahabat: kalau Nabi di rumah, tidak boleh sowan,” kata Gus Baha.
(jqf)