LANGIT7.ID - , Jakarta -
Abu Zayd al-Balkhi adalah seorang polymath Muslim abad ke-9, yang ahli yang dikenal sebagai pencentus konsep
kesehatan mental. Dokter muslim ini lahir pada tahun 849 M (235 H) di desa Persia Shamisitiyan, di dalam provinsi Balkh (dari mana dia mendapatkan namanya). Wilayah ini sekarang menjadi bagian dari Afghanistan modern.
Al-Balkhi menerima pendidikan awalnya dari ayahnya, dan seiring bertambahnya usia, dia mulai mempelajari cabang ilmu pengetahuan dan seni pada masa itu. Dari segi temperamennya, dia digambarkan sebagai orang yang pemalu dan kontemplatif.
Baca juga: Joel Hayward, Mualaf yang Dinobatkan sebagai Muslim Berpengaruh DuniaAl-Balkhi diketahui menulis lebih dari 60 buku dan manuskrip. Karya Al-Balkhi yang paling terkenal bisa dibilang adalah tulisannya tentangn Rezeki untuk Tubuh dan Jiwa (Al Masalih al-Abdan wal-Anfus). Dalam manuskrip monumental ini, Al-Balkhi membahas kesehatan fisik dan jiwa.
Sebagai catatan, jiwa di sini dapat disamakan dengan mental yang membawa kepada kondisi psikologis seseorang. Melansir About Islam, Sabtu (10/12/2022), karya Al-Balkhi ini berkaitan dengan konsep kesehatan mental.
Di mana bagian kedua dari karya tersebut mendapat perhatian dari dunia kontemporer, karena berkaitan dengan konsep kesehatan mental.
"Jika Nafs (jiwa) sakit, tubuh mungkin juga tidak menemukan kegembiraan dalam hidup dengan berkembangnya penyakit fisik,".
Mengutip dari Jurnal Studia Insania, Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari Banjarmasin karya Musfichin, menjelaskan isi dari bagian kedua karya Al-Balkhi.
Baca juga: Ansu Fati: Keyakinan pada Islam Membawa KesembuhanPada bab pertama, Al-Balkhi menulis tentang jumlah kebutuhan untuk mengelola kesehatan jiwa. Kemudian di bab selanjutnya tentang manajemen pemeliharaan kesehatan jiwa, dilanjut dengan manajemen pemulihan kesehatan jiwa.
Di bagian kedua itu juga, Al-Balkhi mengklasifikasi dan membatasi berbagai gejala psikologis dan solusi menangani phobia, kepanikan, hingga depresi.
"Pembahasan Al-Balkhi dapat dikatakan sangat komplit karena dua tema berbeda dibahas dalam satu karya yang sistematis, selain itu dia merupakan perintis pertama kesehatan mental yang sebelumnya belum diketahui bahwa ilmu psikiatri dan kesehatan mental adalah cabang kedokteran," terang Musfichin dalam jurnal tersebut.
Sementara di masa itu, penyakit psikologi masih dianggap tabu, memalukan, hingga dicap sebagai hukuman atas dosa-dosa akibat lemahnya iman.
Dengan menormalkan penyakitnya, klien dapat mulai berhenti memberikan label seperti ini kepada diri mereka sendiri. Lebih dari satu milenium yang lalu, Al-Balkhi mencoba menormalkan penderitaan psikologis para pembacanya.
Baca juga: Kisah Nasser Jaber, Donasikan 6.000 Makanan Halal untuk Imigran di Amerika SerikatProses menormalkan penyakit sangat penting dalam terapi karena kebanyakan dari penderita penyakit psikologis menganggap dirinya tidak normal, tidak biasa, dan sama sekali tidak wajar.
Al-Balkhi meyakini bahwa, “Ketika tubuh menjadi sakit, itu akan menghalangi pembelajaran (dan aktivitas mental lainnya), atau melakukan tugas dengan cara yang benar. Dan ketika jiwa menderita, tubuh akan kehilangan kemampuan alaminya untuk menikmati kesenangan dan akan mendapati hidupnya menjadi tertekan dan terganggu”.
Pemikiran ini seperti disebutkan dalam Al Quran surat Al Baqarah ayat 10,
فِى قُلُوبِهِم مَّرَضٌ فَزَادَهُمُ ٱللَّهُ مَرَضًا ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌۢ بِمَا كَانُوا۟ يَكْذِبُونَ
Fī qulụbihim maraḍun fa zādahumullāhu maraḍā, wa lahum 'ażābun alīmum bimā kānụ yakżibụn"Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta"
Baca juga: Abdur Rahman Blauvelt Dirikan Crowdfunding Muslim karena Ikuti Kata HatiDan hadist Nabi
shalallahu alaihi wasallam, "Ketahuilah! Sesungguhnya dalam badan manusia itu ada segumpal daging, apabila ia baik maka seluruh badannya akan baik. Tetapi jika ia rusak, maka rusaklah seluruh badannya. Ketahuilah bahwa ia (segumpal daging) itu adalah kalbu" (HR. al-Bukhari).
Dalam melakukan terapi seperti penyakit fobia, al-Balkhi menggunakan pengobatan berdasarkan perilaku dan manajemen kognitif. Cara ini berbeda dengan pendahulunya yang menganggap fobia sebagai gejala melankolis dan ditangani dengan obat-obatan.
Dia menganjurkan penggunaan terapi bicara, yang digunakan untuk mengubah pikiran seseorang, dan akibatnya mengarah pada perbaikan yang diinginkan dalam perilaku mereka.
Sementara untuk pengobatan depresi, dalam karyanya tersebut, al-Balkhi menganjurkan untuk mendiskusikan masalah pada teman atau orang yang dipercaya.
"Demikian Al-Balkhi mengatakan bahwa keseimbangan antara pikiran dan tubuh yang membawa kesehatan dan ketidakseimbangan akan menyebabkan penyakit" lanjut Musfichin.
(est)