LANGIT7.ID, Jakarta - Banyak anak yang sudah dewasa secara fisik tapi belum dewasa dalam pola pikir. Kendati sudah akil baligh, mereka belum bisa menyelesaikan masalah kehidupan. Menurut Psikolog Adriano Rusfi, hal seperti itu terjadi karena adanya kesalahan paradigma pengajaran dan pendidikan di tengah masyarakat Indonesia.
Pergeseran paradigma itu bermula sejak revolusi industri yang ditandai dengan penciptaan mesin uap. Mayoritas masyarakat akhirnya bekerja 8 jam per hari atau 2.000 jam per tahun. Jam kerja yang digunakan pun menggunakan waktu-waktu efektif seseorang, yakni sejak pukul 08.00 pagi hingga pukul 17.00 sore.
“Kondisi ini menjadikan para orang tua kehabisan waktu untuk pendidikan anak. Seringkali terjadi bahkan, ayah berangkat kerja ketika anak belum bangun dan pulang saat anak sudah tidur,” kata Adriano dalam Webinar Kolaborasi Rumah dan Sekolah Dalam Pendidikan Anak yang digelar Sekolah Alam Indonesia (SAI), Sabtu (10/12/2022).
Baca Juga: Orang Tua Wajib Beri Pendidikan Terbaik untuk Anak
Revolusi industri membuat para orang tua kehilangan waktu untuk anak. Tidak sempat lagi memberikan pendidikan yang cukup di rumah. Pada akhirnya rumah hanya menjadi tempat istirahat, bukan tempat mendidik.
“Tapi di sisi lain, orang tua banyak duit. Industri menyebabkan waktu tak banyak, tapi uang banyak. cukup untuk membelikan anak nutrisi dan membayar uang sekolah, uang tahunan, maka kemudian dititipkan anak itu ke sekolah,” kata Adriano.
Padahal, kata dia, sekolah sebenarnya dicetuskan untuk mengisi waktu luang anak. Sekolah tidak dicetuskan untuk merenggut waktu-waktu efektif anak bersama orang tua. Sekolah saat ini bukan lagi menjadi tempat memanfaatkan waktu lowong.
“Tapi sekolah sudah menjadi
laundry. Anak diantar pagi, dijemput sore. Sudah mirip
laundry. Tentunya kehendak menitipkan anak ke sekolah berangkat dari niat baik, jangan sampai kesibukan orang tua bekerja menyebabkan pendidikan anak terbengkalai,” ujar Adriano.
Baca Juga: Pengasuhan Positif dari Orang Tua Lahirkan Generasi Berkualitas
Di sinilah letak masalah tersebut muncul. Banyak orang tua memaknai sekolah sebagai tempat pendidikan. Padahal, kata Adriano, sekolah dari sisi kapasitas adalah lembaga pengajaran, bukan lembaga pendidikan.
Pendidikan dan pengajaran memiliki perbedaan yang sangat mendasar. Pengajaran hanya sekadar transfer pengetahuan dan keterampilan. Misal transfer pengetahuan matematika dan bahasa, serta transfer keterampilan seperti berenang dan olahraga.
"Kalau keterampilan dan pengetahuan itu tidak bisa diajarkan oleh orang tua di rumah, maka bisa diajarkan di sekolah,” kata Adriano.
Sedangkan, pembentukan karakter anak tidak didapat melalui pengajaran, hanya bisa melalui pendidikan. Karakter tidak bisa diajarkan, tapi dididik. Teori pembentukan karakter bisa diajarkan, tapi praktik tetap hanya bisa dilakukan melalui pendidikan.
“Yang berkompeten terhadap pendidikan sampai kapanpun tetap orang tua. Karena mendidik itu bukan mentransfer. Mendidik itu lebih berorientasi pada penularan karakter. Mendidik itu menularkan, bukan mentransfer,” ungkap Adriano.
Baca Juga: Metode Parenting ala Cak Nun, Perhatikan 4 Pola Asuh Ini
Adriano menegaskan, orang yang bisa menularkan karakter adalah orang-orang yang memiliki ketulusan sangat tinggi. Tidak ada yang lebih tinggi ketulusannya terhadap anak lebih dari orang tua.
“Walaupun guru-guru tentu sangat tulus, tapi bagaimana ketulusan mereka tidak akan mampu mengalahkan ketulusan orang tua di rumah,” ungkapnya.
Maka itu, kata dia, ketika pendidikan anak condong diserahkan sepenuhnya ke sekolah, maka hanya membentuk kecakapan akademik, tapi karakter berantakan. Ini akan menimbulkan banyak masalah seperti anak-anak remaja yang terjebak di tubuh orang dewasa.
“Bahkan, kita sekarang menghadapi kondisi mahasiswa kita ternyata belum dewasa. Karena mereka belum siap menghadapi hidup. Mereka itu remaja yang terjebak di dunia orang dewasa,” ujar Andriano.
(jqf)