LANGIT7.ID, Jakarta - Sederet
bencana alam kerap terjadi selama beberapa bulan terakhir. Mulai dari gempa bumi, banjir hingga erupsi gunung berapi. Bagi orang beriman, bencana alam merupakan
musibah yang mesti jadi sarana muhasabah.
Sekretaris Umum Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Dr. Okrisal Eka Putra, mengungkapkan, musibah berupa bencana alam merupakan cara Allah memanggil manusia untuk mendekat kepada-Nya.
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ
“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar,” (QS Al-Baqarah: 155).
Baca Juga: Hikmah di Balik Bencana, Berprasangka Baik ke Allah SWT
Musibah berupa bencana alam merupakan salah satu ranting ujian yang tertera dalam Al-Qur’an. Ujian itu terbagi menjadi dua, ada ujian yang menyenangkan dan ada pula yang tidak menyenangkan.
“Ujian yang menyenangkan bisa dihadapi dengan syukur, sedangkan ujian yang tidak menyenangkan cukup dengan bersabar,” kata Ustadz Okrisal dalam kajian Majelis Tabligh Muhammadiyah yang diikuti
Langit7 secara daring, Selasa (27/12/2022) malam
Tugas manusia di dunia adalah mencari ridha Allah. Untuk menggapai ridha-Nya butuh perjuangan, karena untuk merupakan kunci mendapatkan kesuksesan di akhirat kelak. Salah satu tangga mencapai ridha itu adalah ujian.
“Allah pasti akan menguji manusia. Tidak mungkin manusia lepas dari ujian Allah. Jadi, kalau menghindari tidak bisa. Satu-satunya cara yang dapat kita lakukan adalah dengan menguatkan pertahanan diri untuk menghadapi ujian itu. tidak bisa menolak ujian,” kata Ustadz Okrisal.
Baca Juga: Umat Jangan Olok-Olok Orang Tertimpa Musibah karena Maksiat
Namun, ada sebuah anomali yang terjadi di tengah masyarakat saat terjadi bencana alam. Menurut Ustadz Okrisal, masyarakat sudah banyak dipengaruhi pemikiran sekularisme, sehingga tak mengaitkan peristiwa bencana dengan kasih sayang Allah.
Hal itu yang menyebabkan keimanan dan ketakwaan seorang muslim tidak bertambah saat diberi musibah bencana alam. Bencana alam hanya dilihat dari sisi ilmiah, dan tidak mengaitkan dengan ujian dari Allah untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan.
“Saat musibah selesai, iman dan takwa tidak nambah, karena kita tidak menghadirkan Allah dalam musibah itu. Kita melihat musibah ini hanya sekadar ilmiah. ini dipengaruhi pemikiran-pemikiran sekularisme. Misal gempa dipengaruhi pergerakan lempeng bumi, banjir karena curah hujan tinggi,” ujarnya.
Pada sisi ini akidah sangat penting. Dengan pondasi akidah, seorang muslim akan memahami bahwa semua kejadian di muka terjadi atas izin Allah. Gempa bumi, banjir, hingga wabah tidak mungkin terjadi jika bukan karena izin Allah.
“Padahal, kalau Allah tidak mengizinkan itu terjadi, tidak akan terjadi. Keyakinan belum sampai pada tahap itu. artinya, kita sekuler aja. Begitu gempa berlalu, iman tidak bertambah. Tujuan Allah memberikan ujian untuk menarik kita lagi, mungkin lalai dari Allah selama ini,” ungkap Ustadz Okrisal.
Baca Juga: Kumpulan Doa saat Terjadi Hujan Deras, Baca agar Selamat
Padahal, kata dia, ujian berupa musibah itu merupakan bentuk cinta Allah kepada hamba-Nya. Allah ingin memanggil hamba-Nya untuk mendekat. Maka, sang hamba diberi ‘cubitan’ agar tersadar dari kesenangan dunia.
Dengan musibah, manusia diharapkan sadar dan mengingat kepada Allah. Itu sebenarnya tujuan utama dari setiap musibah yang diberikan Allah kepada hamba-Nya. Maka, pertahanan diri berupa akidah sangat penting dalam hal ini.
“Dalam tataran ini, masyarakat tidak melihat seperti itu, karena jiwa sekuler sudah tinggi sekali. Padahal, apapun musibah yang kita alami,tapi dengan musibah itu kita semakin dekat dengan Allah, itu Namanya anugerah bukan musibah,” ujar Ustadz Okrisal.
(jqf)