LANGIT7.ID, Jakarta - Isu ancaman
resesi 2023 mestinya tak perlu digaungkan secara negatif. Sebab pada dasarnya kondisi
perekonomian Indonesia diprediksi relatif stabil.
Ekonom senior, Hendri Saparini mengatakan, masyarakat sudah paham betul terkait ancaman resesi dan
krisis, sehingga kepercayaan diri masyarakat mestinya lebih didukung.
"Kalau pengambil kebijakan berkali-kali menyampaikan bahaya resesi atau krisis, itu menjadikan masyarakat tak confident untuk melakukan langkah ke depan untuk menghadapi ekonomi secara optimis," kata dia dalam
Webinar Economic Outlook 2023: Mendung atau Cerah? Peluang Dunia Usaha, yang diikuti
Langit7, Rabu (28/12/2022) malam.
Resesi sendiri berarti akan ada pertumbuhan ekonimi yang negatif secara kuartal berturut-turut. Beberapa negara di dunia disebut berpotensi menghadapi resesi.
Baca Juga: UMKM Bisa Jadi Andalan saat Resesi, Belajar dari Pandemi CovidAdapun Indonesia sendiri termasuk negara yang diprediksi akan menghadapi gelombang resesi. Namun, dia meyakini probabilitas resesi yang bakal dihadapi Indonesia sangat rendah.
"Jadi perekonomian yang tumbuh negatif juga kita alami saat pandemi Covid-19, tapi bukan berarti kita krisis," katanya.
Indonesia dalam ResesiPendiri CORE Indonesia ini menyebutkan, dunia memang akan mengalami perlambatan ekonomi. Namun, di sisi lain ekonomi dunia masih tetap tumbuh bagus.
Di tahun 2022, data IMF menyebutkan bahwa ekonomi dunia masih tumbuh sekitar 3,2 persen. Sedangkan di tahun depan perekonomian dunia diprediksi tumbuh 2,7 persen.
"Walaupun angkanya menurun, tapi tetap masih positif. Demikian juga proyeksi terakhir perekonomian di Indonesia yang sebesar 5,72 persen dalam Triwulan III-2022," ungkapnya.
Adapun resesi yang dialami sebagian besar negara di belahan dunia karena adanya ketergantungan pangan, energi, dan permasalahan lainnya. Namun, beberapa negara terdampak tersebut tidak berpengaruh signifikan terhadap perekonomian global maupun Indonesia.
Sementara inflasi Indonesia terbilang membaik di tahun ini dibandingkan tahun sebelumnya. Secara tahunan, inflasi November 2022 tercatat sebesar 5,42 persen (yoy), menurun dibanding inflasi bulan Oktober 2022 sebesar 5,71 persen (yoy).
(bal)