LANGIT7.ID - Pakar pengobatan herbal asal Amerika Serikat, dr Karima Burns, mengatakan, kesabaran dan pandangan hidup yang positif merupakan dua alat penyembuhan terhebat. Dalam dunia medis, kesehatan jiwa sangat mempengaruhi kesehatan fisik seseorang.
Pada titik ini, kalimat hamdalah atau Alhamdulillah memiliki pengaruh kuat terhadap kesehatan mental seseorang. Kesehatan mental seseorang memiliki kaitan erat dengan kesehatan fisik. Bahkan kesehatan mental berpengaruh besar pada kesehatan fisik. Itu sudah dikonfirmasi teknologi
Artificial Intelligence (AI).
“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata “Inna lillahi wa inna ilaihi raji‘un” (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali).” (QS. Al-Baqarah: 155-156).
Baca Juga: Penjelasan Medis Dzikir Beri Ketenangan: Neuron Otak Terakses Lalu Menuju Sistem Saraf
Salah satu ekspresi rasa sabar adalah mengucapkan Alhamdulillah. Saat seseorang mengucapkan kata tersebut kala terkena musibah, secara langsung akan tercipta energi positif yang mempengaruhi ketenangan jiwa. Pada akhirnya itu berpengaruh pada kesehatan fisik.
Menurut temuan ilmu pengetahuan modern, tampaknya rahmat tersebut seringkali datang dalam bentuk peningkatan kesehatan. Bernard Jensen berkata, dalam bukunya
The Science and Practice of Iridology mengatakan:
"Dokter di zaman baru akan menyadari bahwa bengkel manusia yang paling penting bukanlah tubuh fisik, tetapi pikiran yang mengendalikannya."
Dr. Ted M. Morter dalam bukunya,
Your Health, Your Choice, mengatakan, pikiran negatif adalah penghasil asam nomor satu dalam tubuh (dan tingkat keasaman tubuh yang tinggi merupakan penyebab utama penyakit). Tubuh bereaksi terhadap stres mental dan emosional negatif yang ditimbulkan oleh pikiran dengan cara yang sama bereaksi terhadap ancaman 'nyata' dari kerusakan fisik.
Faktanya, penelitian medis menunjukkan dari semua pasien yang berkonsultasi di Amerika Serikat, 70% yang mencengangkan ditemukan tidak memiliki dasar organik untuk keluhan mereka.
Baca Juga: Saat Bersin, Yuk Amalkan Sunnah Rasulullah Satu Ini
“Angka itu luar biasa tinggi. Namun, meskipun secara medis pasien ini tidak ditemukan sumber organik yang jelas untuk keluhan mereka, sebenarnya ada dasar fisik untuk fenomena ini,” kata dr Karima Burns, melansir aboutislam, Senin (2/1/2022).
Sejak Freud mempopulerkan gagasan psikoanalisis, orang sering berfokus secara eksklusif pada ranah mental untuk memecahkan masalah tertentu. Namun, mereka lupa bahwa manusia tidak dapat memisahkan ranah fisik dan mental.
“Pikiran ada di otak, dan otak adalah organ. Seperti semua organ lainnya, ia makan dari kumpulan nutrisi yang sama dengan yang diberikan oleh organ tubuh lainnya dan rentan terhadap semua masalah yang sama,” ucap Karima Burns.
(jqf)