LANGIT7.ID, Jakarta - Pakar
Parenting Irwan Rinaldi mengungkapkan, kedekatan orang tua kepada Allah sangat berpengaruh dalam mendidik
kesehatan mental anak. Orang tua harus sehat secara mental terlebih dahulu sebelum mendidik anak.
Kesehatan mental memiliki pengaruh besar terhadap tiga aspek kehidupan yaitu aspek fisik (bertindak/hidup normal), aspek psikologis (produktif/merasa), dan aspek sosial (kontribusi/berfikir).
“Ujungnya, kesehatan mental akan menjadikan anak kita anak yang tangguh. Tangguh berarti lincah, tangkas, dan adaptif,” kata pria yang akrab disapa Ayah Irwan itu dalam webinar Peran Keluarga Menjaga Kesehatan Mental Anak oleh Inalead diikuti
Langit7 secara daring, dikutip Sabtu (7/1/2023).
Baca Juga: Keluarga Miliki Peran Signifikan Dukung Kesehatan Mental
Pembangunan kesehatan mental sangat penting. Ini karena kesehatan mental akan mempengaruhi kesehatan fisik dan kesehatan pikiran anak. Kesehatan mental juga akan meningkatkan kualitas dan daya tahan hidup.
“Kesehatan mental pun membuat tumbuh kembang lebih sehat. Logikanya sederhana, kesehatan mental akan mempengaruhi kesehatan fisik dan psikologis, sehingga memiliki pengaruh besar terhadap tumbuh kembang anak,” kata Ayah Irwan.
Untuk membangun kesehatan mental itu, maka orang tua harus terlebih dahulu membangun sisi dalam anak. Jika orang tua menjaga sisi dalam anak, maka Allah akan menjaga sisi luarnya.
“Mental itu urusan ‘dalam’. Kalau urusan ‘dalam’ itu bukan urusan kita, tapi urusan Allah yang lebih banyak. maka, kalau mau menghebatkan kesehatan mental anak, maka harus menghebatkan kesehatan mental kita dulu,” kata Ayah Irwan.
Baca Juga: Melacak Teori Kesehatan Jiwa dalam Islam, Ibadah Bisa Jadi Psikoterapi
Kesehatan mental anak bergantung pada kesehatan mental orang tua. Kesehatan mental paling utama dalam hal ini adalah menguatkan hubungan dengan Allah. Banyak orang yang terlalu ‘menuhankan’ teori
parenting, dan melupakan hubungan dengan Allah.
Padahal, kata dia,
parenting Ilahiah menjadi pondasi dasar sebelum mendidik anak-anak menggunakan teori-teori parenting lain. Teori parenting sangat penting, tapi itu diterapkan setelah orang tua membangun kedekatan dengan Allah.
“Kita lupa, kalau ingin menyehatkan kesehatan mental anak, mau enggak mau harus menyehatkan kesehatan mental kita. Menyehatkan mental kita harus mendekatkan diri kepada Allah. Jadi, sejauh apa kita melibatkan Allah dalam proses pembenahan diri kita,” ungkap Ayah Irwan.
Saat hilir sudah jernih, dengan izin Allah hulu pun akan ikut jernih. Orang tua hebat adalah mereka yang mengasah
tazkiyatun nafs setiap hari. Rajin tahajud dan selalu mendoakan anak setiap kali selesai shalat lima waktu.
Baca Juga: Mental Illness dalam Perspektif Islam dan Relasinya dengan Keimanan
“Bagaimana kita menghebatkan anak-anak kalau kita tidak menghebatkan diri kita.
Tazkiyatun nafs. Orang tua yang baik itu kalau meninggalkan shalat tahajjud bisa menangis berjam-jam. Selalu berdoa membayangkan wajah anak-anaknya memohon kepada Allah,” ujar Ayah Irwan.
Setelah membangun kedekatan kepada Allah, barulah orang tua mendidik kesehatan mental anak. Dalam hal ini, ayah dan ibu harus bekerjasama. Peran pengasuhan tidak hanya dipegang ibu, tapi ayah pun memiliki andil yang sangat besar.
“Misalnya, bagaimana ayah terlibat membangun konstruksi kelaki-lakian dan keperempuanan anak di usia 2-4 tahun. bisa lewat bermain dan lain-lain. Ibu juga di usia 0-2 tahun sudah membangun kesehatan mental dengan bercerita,” ujar Ayah Irwan.
Saat anak berusia 0-2 tahun, ibu bisa menceritakan kisah-kisah yang berasal dari Al-Qur’an dan Sunnah. Bahkan, Sirah Nabawiyah seharusnya sudah khatam saat anak sudah menginjak usia dua tahun.
Baca Juga: Manfaat Mengucap Alhamdulillah untuk Kesehatan Jiwa
“Meskipun pada usia 0-2 tahun anak-anak tidak terlalu mengerti, tetapi sudah dibuatkan lapisan-lapisannya,” kata Ayah Irwan.
Setelah anak berusia 2 tahun, ayah melanjutkan apa yang sudah ditanamkan oleh ibu. Misal, ayah sering mengajak anak bermain sambil mengajari anak belajar hikmah dari alam semesta. Saat anak berusia 6-7 tahun ke atas, ayah sudah mensimulasikan cara mengatasi tekanan hidup anak laki-laki dan perempuan.
“Nanti sama ayah sekitar 2-4 tahun ke atas dilanjutkan dengan proses yang tadi. 6-7 tahun ke atas ayah sudah mensimulasikan bagaimana cara untuk mengatasi tekanan hidup anak laki-laki dan perempuan,” tutur Ayah Irwan.
(jqf)