LANGIT7.ID, JAKARTA - Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia, Buya Anwar Abbas menyampaikan, persatuan umat dan kepemimpinan kuat merupakan pondasi bagi perekonomian bangsa. Sebab kunci peningkatan ekonomi adalah kepemimpinan kuat yang bisa diterima oleh semua pihak.
Dia menilai, dengan begitu maka akan membentuk persatuan yang solid di kalangan masyarakat muslim Indonesia, sebab perekonomian di Tanah Air didomonasi oleh non-muslim.
"Kita umat Islam yang jumlahnya sekitar 86,6 persen atau kita bulatkan 90 persen. Presentasi kita di 10 orang terkaya hanya satu. Saudara-saudara kita yang tidak beragama Islam yang minoritas itu presentasi mereka sembilan," kata Buya Anwar dalam diskusi secara virtual yang diikuti
Langit7.id bertajuk 'Refleksi Tahun 2023: Muhasabah dan Catatan MUI ke Depan', beberapa waktu lalu.
Menurut dia, pentingnya mengendalikan ego pribadi guna mencapai persatuan dan kesatuan tersebut. Ego inilah yang harus dileburkan dalam kepentingan bersama yakni bangsa dan umat.
“Dalam banyak sajian data, ekonomi bangsa ini dikuasai bukan oleh orang pribumi bahkan umat Muslim sendiri. Nah ini yang selalu menjadi PR bersama sejak zaman penjajahan,” ujarnya.
Baca Juga: Sri Mulyani Optimis Indonesia Tak Masuk Negara Resesi di 2023Buya menilai, kelemahan umat Islam dalam memimpin perekonomiam bangsa adalah karena tidak mampu menutup kelemahan satu sama lain. Titik lemah tersebut berada pada elite strategis pengusaha, maka itu para pengusaha tersebutlah yang mengendalikan perekonomian bangsa.
“Kalau berbicara ekonomi tak hanya tentang pertumbuhan saja, tapi juga pemerataannya. Seperti yang terjadi di Maluku Utara, peningkatan ekonomi sebesar 27 persen, tapi hanya berada di elit pengusaha bukan rakyat kecil,” ujar dia.
“Seharusnya dengan angka tersebut menjadikan Maluku Utara sebagai daerah yang tidak memiliki warga miskin. Tapi realitas menyuguhkan peningkatan hanya terjadi pada pemilik modal, sedangkan masyarakat hanya mendapat serpihannya,” imbuhnya.
(zhd)