LANGIT7.ID, Jakarta - Rektor Universitas Paramadina, Prof Didik J Rachbini, menegaskan, intelektual muda atau mahasiswa memiliki peran penting sebagai episentrum gerakan dalam mencerdaskan kehidupan berbangsa dan bernegara.
Kelompok intelektual adalah kelompok elit yang bertanggungjawab dan mengetahui serta memahami dari dekat cara kehidupan sosial politik dan ekonomi bangsa. Bersifat elit karena mayoritas pendidik masih berpendidikan SMA ke bawah.
“Sebagai kelompok elit, golongan intelektual efektif jika mengadakan satu kegiatan dan bertanggungjawab dalam melaksanakan kegiatan kolektif tertentu misalnya gerakan penyelamatan lingkungan hidup, gerakan membaca, gerakan mendidik anak-anak, dan sebagainya,” kata Prof Didik dalam Stadium General dan Latihan Kepemimpinan-1 HMI Komisariat Universitas Paramadina Cabang Jakarta Raya, Rabu (25/1/2023).
Baca Juga: Berislam Tidak Hanya Tentang Ritual tapi Juga Intelektual
Intelektual bergerak dengan pemikiran-pemikiran yang terisi oleh pengetahuan. Terlebih intelektual muda di kampus yang akan mengisi bidang-bidang kehidupan sosial politik dan ekonomi nanti.
“Kelompok intelektual juga mempunyai wawasan dan pengetahuan yang kompleks. Baik itu pengetahuan teknis dan mekanis, arsitek, budaya, seni, kedokteran dan lain-lain,” ujar Prof Didik.
Tetapi, terkadang kelompok intelektual dipersempit secara khusus menjadi sosok intelektual menjadi pemikir bangsa. Kelompok ini aktif dalam pemikiran masalah bangsa dan kerap menulis di media-media nasional. Dosen dan profesional lain seperti arsitek dimasukkan juga sebagai golongan intelektual.
Peran Intelektual Menurut Prof Didik, kelompok intelektual memiliki peranan penting berdasarkan kategorinya. Pertama, peranan profesional yang jika sudah lulus menjadi sarjana, maka dia akan menjalankan peran-peran profesional sesuai bidang keahliannya. Peranan-peranan itu sangat tradisional, konservatif, biasa saja dan tidak punya elan khusus. Hidupnya mengalir saja.
Baca Juga: 5 Tokoh Peletak Pondasi Pendidikan Islam Berkualitas di Indonesia
“Tetapi golongan intelektual cendekia pasti berbeda. Dia harus punya kepekaan terhadap situasi sosial politik ekonomi di sekitarnya,” ungkap Prof Didik.
Kedua, peranan intelektual yang telah disebutkan dalam Al-Qur’an sebagai mereka yang selalu membaca dengan jeli ayat Kauniyah dan ayat-ayat qauliyah. Kelompok ini rajin menyimak tanda-tanda alam sekitar.
“Pendeknya mereka menjadi intelektual yang
curiosity yang dalam terhadap kehidupan alam semesta, sosial dan peradaban. Mereka akan aktif di berbagai bidang riset, pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan seterusnya. Itu adalah kelompok intelektual yang mempunyai peran lebih ketimbang hanya menjalankan peran profesionalnya saja,” tutur Prof Didik.
Baca Juga: Tantangan Kampus Islam Integrasikan Agama dan Sains
Ketiga, di negara berkembang peran intelektual menjadi sangat penting. Biasanya mereka adalah kelompok muda yang belum mapan, karena dia melihat secara dalam sistem sosial politik di sekitarnya selalu timbul masalah.
“Dia akan menemui adagium “
Power Tends to Corrupt, but Absolute Power Corrupt Absolutely,” ucap Prof Didik.
(jqf)