LANGIT7.ID, Jakarta - Praktisi Neuroparenting, Yirawati Sumedi, menegaskan, orangtua wajib mendidik anak-anak memiliki keterampilan untuk bertahan di era transformasi digital.
Keterampilan yang harus dimiliki anak menurut perempuan yang akrab disapa Bunda Ira ini bertumpu pada cara berpikir dan bukan lagi keterampilan fisik. Hal ini sesuai dengan perkembangan zaman dan teknologi.
“Keterampilan yang harus dimiliki
generasi stroberi untuk bertahan di masa depan. Memang, itu lebih kepada keterampilan berpikir. Bukan fisik lagi,” kata Bunda Ira dalam webinar bertajuk Fenomena Generasi Stroberi yang diikuti Langit7, Selasa (31/1/2023).
Baca Juga: Mengenal Generasi Stroberi, Kreativitas Tinggi tapi Mental Lembek
Anak-anak yang dianggap sebagai anak generasi stroberi harus diberi keterampilan mumpuni dalam mengolah pola fikir. Ada 10 komptensi yang harus diajarkan kepada anak sejak kecil. Sebanyak 10 kompetensi ini, meliputi
Complex problem solving, critival thinking, creativity, people management, coordinating with other, emotional intelligence, judgement and decision making, mau membantu orang lain, andal bernegosiasi dan mempengaruhi orang lain, serta mampu bersikap fleksibel dan adaptif.
Complex problem solving merupakan keterampilan yang dibutuhkan anak untuk mengatasi sebuah masalah. Anak-anak tidak bisa memiliki
complex problem solving jika tidak pernah terlatih untuk berfikir secara analitik dan sistematis.
“Bagaimana mereka bisa memiliki
complex problem solving kalau persepsinya bermasalah. Kalau kemudian asosiasi dan logikanya juga bermasalah,” ujar Bunda Ira. Begitu juga dengan
critical thinking dan
creativity.
Critical thinking dan c
reativity tidak bisa berkembang jika pola komunikasi dengan orangtua cuma satu arah. Harus ada komunikasi dua arah yang melibatkan anak.
Baca Juga: Melatih Pola Pikir Anak agar Bertahan di Era Transformasi Digital
Anak juga harus dididik memiliki keterampilan
people management, yaitu cara anak mengatur orang dengan cara yang positif. Ada pula keterampilan
coordinating with other yakni kemampuan berkoordinasi yang dihasilkan dari pendidikan sosialisasi sejak dini.
“Bagaimana anak memiliki kemampuan berkoordinasi kalau misalnya mereka tidak pernah diajarkan untuk bersosialisasi. Ini sangat susah, apalagi kalau di rumah hanya diberikan ponsel, pulang sekolah memainkan ponsel, dan sibuk dengan hal serupa di sekolah,” ungkap Bunda Ira.
Emotional intelligence juga menjadi salah satu tantangan luar biasa. Orangtua seharusnya sudah mendidik kemampuan anak dalam mengatus emosi saat berusia 0-7 tahun. Masalahnya, anak pada usia tersebut lebih banyak dididik untuk mengasah kemampuan kognitif, dengan harapan anak jadi pintar.
Baca Juga: Hapus Segera, 34 Aplikasi Berbahaya di Play Store Bisa Curi Data Pribadi
“Jadi, emosinya tidak diasah dan mengutamakan pada kemampuan kognitif, dengan harapan jadi anak pintar. Jadi, kita terlupa mengasah emosi dari usia 0-7 tahun,” ujar Bunda Ira.
“Masih banyak terjadi hari ini, kita menyaksikan orang dewasa mengalami mudah dibajak otak emosinya oleh situasi yang ada di sekitarnya,” imbuhnya.
Kemudian,
judgment and decision making. Kadang kala orangtua menyaksikan anak tidak bisa memutuskan sesuatu yang sebenarnya sudah diputuskan sendiri. Anak cenderung masih mengikuti pendapat orangtua, saudara, ataupun lingkungan sekitar.
Baca Juga: Begini Cara Daftar dan Syarat Nikah Gratis di KUA
“kalau kita berbicara ke belakang, otomatis kita berbicara banyak aspek pengasuhan yang salah satunya adalah sensor motoriknya anak. Kalau bicara sensor motorik sangat berpengaruh pada keterampilan berfikir,” ungkap Bunda Ira.
Begitu pula keterampilan untuk mau membantu orang lain, andal bernegosiasi dan kemampuan persuasi juga bagus serta mampu bersikap fleksibel dan adaptif. Tiga keterampilan tersebut merupakan hasil dari latihan anak dari orang tua.
“Hasil latihan dia ketika sudah bersosialisasi dengan teman-temannya, dan saudaranya. Hal-hal inilah yang harus kita ajarkan kepada anak-anak di era transformasi digital. Jadi, jangan dikit-dikit bilang ‘dasar generasi stroberi’, karena setiap perkataan adalah doa. Itu yang harus dicamkan dengan baik,” ujar Bunda Ira.
(jqf)