LANGIT7.ID - , Jakarta -
Quarter life crisis adalah fase yang dialami oleh individu usia 20 sampai 30-an yang merasa tidak puas dengan kehidupan dan berencana mencari kebahagiaan yang sebenarnya. Fase ini bisa menjadi masa yang membingungkan dan membuat seseorang merasa kurang pasti akan masa depan.
Namun, dengan menerapkan
gaya hidup islami,
quarter life crisis seharusnya bukanlah apa-apa. Salah satu gaya hidup yang bisa diterapkan adalah gaya hidup ala santri pesantren.
Baca juga: 3 Peran Santri Zaman Now: Jaga NKRI, Bangun Negara, dan Jaga BumiWakil Presiden KH Ma’ruf Amin saat menghadiri Anugerah Satu Abad Nahdlatul Ulama (NU), di Teater Tanah Airku, Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, Selasa malam (31/01/2023) mengatakan bahwa santri adalah
agen perubahan yang berperan membawa perbaikan di manapun berada.
“Islahil umat ini memperbaiki umat, masyarakat, ke arah yang lebih baik. Kalau bahasa saya memperbaiki umat itu santrinisasi umat. Jadi umat ini kita santrikan semua,” kata Kiai Ma’ruf dikutip pernyataan media Setwapres, Kamis (2/2/2023).
Maksud Kiai Ma'ruf terkait menyantrikan masyarakat adalah mengajak berpikir dan berperilaku ala santri sejati. Lebih jauh dia menegaskan, yang dimaksud santrinisasi bukanlah Islamisasi.
Santrinisasi lebih kepada menjadi umat terbaik dengan mengamalkan kebaikan yang sesuai dengan prinsip-prinsip NU. Umat terbaik adalah mereka yang mampu melakukan amal ma’ruf sesuai dengan cara-cara dakwah nahdiyah.
Baca juga: Santri Harus Bermimpi Besar, Ini Tips Sukses Setelah Lulus Pesantren“Dan juga membangun umat yang kuat.
Ummatan qowiyyan dan juga umat yang memiliki ketangguhan,
resilience,” tegasnya.
Dengan berpedoman pada prinsip-prinsip tersebut, Kiai Ma'ruf pun mengajak nahdiyyin dan nahdiyyat untuk tetap mengamalkan kebaikan secara berkelanjutan (
sustainable improvement).
Dia berpesan, agar dalam memasuki abad ke-2 ini, NU perlu menyiapkan langkah-langkah strategis yang lebih menantang, baik di tingkat nasional maupun global .
“Karena itu saya kira kita memasuki abad ke dua, seratus tahun ke dua, maka kita perlu menyiapkan langkah-langkah,
khutuwat islahiyah, insyithah islahiyah, yang lebih tajam lagi yang lebih mengarah lagi sesuai dengan tantangan yang kita hadapi baik pada tingkatan keumatan, kebangsaan dan kenegaraan maupun pada tantangan yang sifatnya global,” pungkasnya.
Baca juga: Mahfud MD: Santri Wajib Jaga NKRI dan KebhinekaanBerdasar uraian Kiai Ma'ruf, dapat disimpulkan tiga karakter santri:
1. Agen perubahan (islahil umat)
2. Senantiasa ber-amar ma’ruf nahi munkar
3. Memiliki ketangguhan pribadi
(est)