LANGIT7.ID, Jakarta - Subuh sebelum keberangkatan Rasulullah dan pasukannya ke Mekkah, Abu Sufyan, menemui Nabi Muhammad di tendanya. Cahaya fajar di kawasan Marr Al Zahran ikut menyaksikan ketika sang pemimpin Quraisy itu mengucapkan dua kalimat syahadat.
Momen itu berawal saat adzan subuh menggema di seluruh area perkemahan, memecah kesunyian fajar. Kaum Muslimin segera bangkit dan berbondong-bondong menyiapkan peralatan shalat mereka.
Abu Sufyan bergetar menyaksikan apa saja yang terjadi di depan matanya. Hatinya takjub saat telinganya mendengar lantunan adzan.
"Apa itu?"
"Shalat," kata Abbas.
"Berapa kali mereka shalat semalam?" tanya Abu Sufyan.
Saat diberitahu bahwa umat Islam menunaikan shalat sehari lima kali, Abu Sufyan berkata, "Demi allah, itu terlalu banyak!"
Setelah itu, dia melihat orang-orang berdesakan satu sama lain. Para sahabat saling berebut mendapat limpahan bekas air wudhu Rasulullah shalallahu alaihi wasallam. Seumur hidupnya, tak pernah dia menyakiskan kewibawaan seseorang melebihi saudara sepersusuannya, Muhammad.
"Hai Abu Fahdl, aku tidak pernah melihat kewibawaan seperti ini," kata Abu Sufyan.
Lalu Abu Sufyan meminta dipertemukan kepada Rasulullah. Sebelum subuh itu, Rasulullah telah meminta Abu Sufyan mengucapkan dua kalimat syahadat, tapi ia hanya mengucapkan syahadat bagian pertama, Laa ilaha ilallah.
Subuh itu, ia mengucapkan syahadat secara lengkap. Mengakui, menerima, dan mengimani Muhammad sebagai pembawa risalah Allah yang paling otoritatif.
(bal)