LANGIT7.ID, Jakarta - Usamah bin Zaid bin Haritsah bin Auf bin Kinanah, adalah sahabat Nabi Muhammad SAW. Keberanian dan kesalihannya membuat dia ditunjuk Rasulullah memimpin pasukan dan menjadi panglima perang termuda.
Dikutip dari buku "Usamah bin Zaid" oleh Dinar Fajar, Sabtu (18/2/2023), Usamah terkenal sebagai pahlawan perang Mu'tah. Perang Mu'tah merupakan peperangan antara kaum muslimin melawan pasukan kekaisaran Bizantium Romawi Timur, yang berlangsung pada Jumadil Awal, 8 Hijriah atau 629 Masehi.
Selain itu, Usamah juga terlibat dalam perang yang terjadi di Mekah. Di antaranya seperti pada Perang Hunain dan Perang Thaif.
Baca Juga: Teladan Keimanan Abu Bakar As-Shiddiq, Khalifah Pertama Umat IslamAtas jasa dan keberaniannya itu, Rasulullah pun memuliakannya, bahkan sampai Usamah wafat. Usamah juga menjadi salah seorang sahabat yang paling disayang Rasulullah karena akhlak dan keberaniannya.
Kisah Usamah Pimpin Para Sahabat Usamah Ibnu Zaid, belum genap berusia 20 tahun ketika Rasulullah SAW memerintahkannya menjadi panglima perang. Di antara prajuritnya itu adalah Abu Bakar dan Umar bin Khattab.
Ditunjuknya Usamah sebagai panglima perang itu sontak menimbulkan perdebatan di kalangan para sahabat. Hal itu lantaran usia Usamah yang terbilang masih sangat muda untuk memimpin pasukan.
Hingga akhirnya, hal itu pun sampai ke telinga Rasulullah SAW. Dalam keadaan sakitnya (yang berujung pada wafatnya Nabi Muhammad SAW), Rasulullah lantas bergegas dan menemui para sahabat.
"Wahai sekalian manusia, aku mendengar pembicaraan mengenai pengangkatan Usamah. Demi Allah, seandainya kalian meragukan kepemimpinannya, berarti kalian meragukan pula kepemimpinan ayahnya, Zaid bin Haritsah. Demi Allah Zaid sangat pantas memegang pimpinan, begitu pula dengan putranya Usamah."
Rasulullah melanjutkan, "Ayahnya sangat aku kasihi, putranya pun demikian. Mereka orang baik. Hendaklah kalian memandang baik mereka berdua. Mereka juga sebaik-baik manusia di antara kalian."
Baca Juga: 7 Sahabat Nabi Berkulit Hitam, Abu Dzar hingga AymanUsamah ditunjuk Rasulullah memimpin pasukan untuk memerangi orang-orang Romawi. Dia ditugaskan untuk pergi ke tempat di mana ayahnya, Zaid bin Haritsah terbunuh, yaitu perbatasan Balqo‘ dan Darum di bumi Palestina.
Mendengar perkataan Rasulullah yang marah itu, para sahabat pun akhirnya menyusun barisan dan langsung bergabung ke dalam pasukan Usamah.
Keesokan harinya, Usamah bersama 3.000 orang pasukannya memulai perjalanan. Namun di tengah jalan, dia menghentikan langkah pasukannya karena mendengar kabar Rasulullah wafat.
Abu Bakar yang disepakati para sahabat sebagai khalifah pun memerintahkan Usamah untuk menuruti wasiat Rasulullah dan melanjutkan perjalanannya.
Usamah Pukul Mundur Romawi dari Perbatasan SuriahDi saat yang sama, Kekaisaran Romawi Timur atau Bizantium, juga telah mendengar kabar tentang wafatnya Rasulullah. Namun, mereka keheranan melihat pasukan di bawah kepemimpinan Usamah yang justru melanjutkan peperangan dan memukul mundur mereka dari perbatasan Suriah.
Kekaisaran Bizantium kebingungan melihat potensi kekuatan umat Islam yang ternyata tak terpengaruh akan kabar wafatnya Rasulullah. Akibatnya, orang-orang Romawi tidak lagi menjadikan perbatasan Suriah sebagai bagian wilayah kekuasaannya. Sehingga pada akhirnya kekuatan mereka pun mulai menyusut.
Pasukan Usamah memenangi pertempuran tersebut dan kembali dengan selamat. Sampai-sampai di kalangan kaum muslimin sendiri terheran-heran. Mereka berkata, “Kami belum pernah melihat pasukan yang lebih aman dari pasukan Usamah.”
Usamah dan Ayahnya Dicintai Rasulullah SAWUmar bin Khattab RA pun membagikan uang perbendaharaan di antara umat Islam. Dia memberikan Abdullah ibn Umar bagiannya dan ketika giliran Usamah tiba, Umar memberinya dua kali lipat.
Sontak Abdullah berkata, “Engkau lebih memilih Usamah, meskipun aku mengalami dengan Rasulullah SAW apa yang tidak dia alami.”
Umar Al Khattab RA pun menjawab, “Usamah lebih dicintai Rasulullah SAW daripada kamu, dan ayahnya lebih dicintai Rasulullah daripada ayahmu.
Siapa pun dia dan dan ayahnya yang begitu dekat di hati dan cinta Rasulullah. Itu adalah posisi tertinggi yang tidak dicapai oleh ibn Umar, begitu pula ayahnya."
Baca Juga:
Kisah Khalifah Umar II, Bangun Kembali Gereja yang Sempat Dirobohkan
Kala Raja Terkaya di Dunia Pergi Haji, Makmurkan Tiap Tempat yang Dilewati(gar)