LANGIT7.ID - , Jakarta - Kehadiran teknologi saat ini mempengaruhi pola
komunikasi antar manusia. Sebagian orang memilih untuk menikmati
smartphone ketimbang ikut dalam obrolan, termasuk saat berkumpul bersama keluarga.
Kehadiran perangkat teknologi atau
gadget kini hampir tidak bisa dikendalikan. Aktivitas di
dunia maya lebih dipilih daripada berinteraksi langsung. Bahkan hal ini menjadi satu kebiasaan yang bisa mendatangkan masalah di kemudian hari.
Baca juga: 13 Tahun Makin Mesra, Intip Potret Keharmonisan Dimas Seto dan Dhini AminartiWakil Ketua Komisi Perempuan, Remaja, dan Keluarga (KPRK) MUI, Zahratun Nihayah menyebut kebiasaan penggunaan gawai secara berlebih bisa berdampak pada
keharmonisan keluarga. Ironisnya, kebiasaan tersebut sudah jarang disadari saat ini.
“Ternyata kita semua tidak menyadari secara menyeluruh (penggunan gadget berlebihan) bagaimana dampaknya bagi anak, bagi remaja, keluarga, atau bahkan kita orang dewasa,” ujarnya dalam Halaqoh Mingguan ke-29 Komisi Informasi dan Komunikasi (Infokom) MUI seperti dikutip MUIDigital, Rabu (1/3/2023).
Sebab itu, lanjut Dekan Fakultas Psikologi UIN Jakarta itu, diperlukan kontrol diri terhadap anak dan keluarga.
“Mari kita refleksi diri. Kadang kita sendiri sebagai orang tua tidak bisa mengontrol itu (bermain gadget). Ini sudah berapa jam WA-an dan sudah berapa jam Netflix-nya,” imbuhnya.
Baca juga: Solusi Menjaga Keutuhan dan Keharmonisan Rumah TanggaZahratun pun membagikan empat tips dalam beraktivitas untuk menghilangkan ketergantungan terhadap penggunaan gadget, yaitu:
1. Membangun komunikasi efektif di lingkungan keluarga.
2. Mengupayakan sosialisasi dan interkasi dengan teman sebaya.
3. Menyibukkan diri dengan aktivitas menarik yang sarat dengan interaksi, komunikasi, dan kerjasama.
4. Memperbanyak menyimak ajaran tentang pentingnya mendidik generasi muda (anak-anak) dengan benar dan bertanggungjawab.
Baca juga: Kemenag: SE Pengeras Suara untuk Keharmonisan Antarumat BeragamaDia juga mengingatkan tantangan dalam mendidik anak yang berbeda tiap zamannya. Tantangannya tentu berbeda dan lebih besar jika melihat karakteristik zaman saat ini.
“Kita perlu mendidik anak berdasarkan zamannya karena dia hidup bukan lagi di masa kita (orang tua). Komunikasi antar-cohort itu ternyata sangat berbeda caranya. Ini mendorong kita untuk mempertimbangkan tantangan apa yang dihadapi anak kita,” kata dia.
(est)