LANGIT7.ID - Bayt Al-Hikmah merupakan salah satu tanda peradaban Islam pernah menjadi sentral ilmu pengetahuan dunia. Perpustakaan dan lembaga terjemahan tersebut dibangun pada masa Khalifah Harun Ar-Rasyid pada Abad ke-8 M.
Bayt al-Hikmah merupakan perpustakaan umum pertama di Baghdad sekaligus akademi ilmu pengetahuan pertama milik umat Islam. Penerjemahan karya-karya filsafat, kedokteran, astronomi, matematika, dan lain-lain yang berasal dari Yunani, Persia, dan India terjadi secara besar-besaran pada masa Khalifah Harun ar-Rasyid dan Khalifah al- Ma’mun di Bayt Al-Hikmah.
Melalui kedua khalifah ini, Bayt al-Hikmah mengalami kemajuan yang besar terutama dalam pengembangan keilmuan. Selama 500 tahun Baghdad menjadi tuan rumah berbagai kegiatan akademis, bahkan mencetak ilmuwan dari seluruh dunia.
Pembangunan Bayt Al-HikmahPutra Harun Ar-Rasyid, Khalifah Al-Ma’mun memiliki peran penting dalam perluasan Bayt Al-Hikmah, baik dari segi fisik maupun dari segi manfaat di bidang keilmuan. Pada masa beliau, Bayt Al-Hikmah menjadi pusat studi berbagai cabang Ilmu.
Melalui Bayt Al-Hikmah, umat Islam menyajikan kepada dunia akses ke karya-karya filsuf besar seperti Aristoteles dan Hipocrates. Tanpa peran umat Islam, tradisi keilmuan Yunani mungkin telah hilang selamanya.
Bayt Al-Hikmah tidak hanya menyimpan buku-buku berbahasa Yunani, tapi juga buku berbahasa Farsi, Aram, Ibrani, Syria, India, dan latin. Orang Kristen dan yahudi dari seluruh dunia berbondong-bondong datang dan belajar ke Bayt Al-Hikmah. Menariknya, umat Islam menyambut semua golongan yang belajar di tempat itu tanpa terkecuali.

ilustrasi peta Kota Baghdad di masa Khalifah Harun Al Rasyid, Bayt Al Hikmah berada di tengah pusat kota.
Memiliki Cabang Ilmu yang Berbeda-bedaBayt Al-Hikmah tak hanya menjadi tempat pengkajian ilmu filsafat dan teologi. Studi dalam metafisika, ilmu agama, aljabar, kedokteran, fisika, biologi, kimia, trigonometri, astronomi dan banyak disiplin ilmu lain berkembang di pusat intelektual ini.
Setelah mempelajari seni membuat kertas melalui ekspedisi umat Islam ke Cina, Baghdad menjadi salah satu pusat produksi dan reproduksi buku, menyederhanakan proses pembukuan sehingga buku lebih mudah diakses.
Ada pula observatorium astronomi, yang didirikan sebagai bagian dari Bayt Al-Hikmah, memungkinkan para astronom mengamati alam semesta. Dari situ, para astronom juga menguji kebenaran literasi yang menyinggung masalah astronomi yang dihasilkan ilmuwan India, Yunani, dan Persia.
Proyek ini melampaui kajian astronomi, karena beberapa sejarawan mengklaim kegiatan tersebut sebagai upaya sains skala besar pertama yang didukung oleh negara. Sebuah pelopor proyek astronomi seperti Large Hadron Collider di Jenewa.
Baca Juga: Rektor Unida Gontor: Rusaknya Ilmu karena Terpisah dari ImanIlmuwan Besar Melahirkan Karya HebatBayt Al-Hikmah menjadi rumah bagi para akademisi dan ilmuwan ternama dunia waktu itu. Ja'far Muhammad ibn Musa ibn Shakir disebut sebagai ilmuwan pertama yang mengeksplorasi gagasan bahwa benda-benda langit di sekitar kita, seperti bulan dan planet-planet, tunduk pada hukum fisika yang sama seperti di bumi.
Ja’far Muhammad menulis buku berjudul ‘
Astral Motion and the Force of Attractions’, berisi pemikiran tentang kekuatan fisik yang menginspirasi Newton dan hukum gravitasi universalnya.
Ada pula Al-Kindi, filsuf ternama. Ia adalah salah satu ilmuwan terkemuka di Bayt Al-Hikmah. Ia menerjemahkan karya-karya Aristoteles, dan mengembangkannya dengan teologi Islam. Buah pemikiran Al-Kindi menjadi perdebatan di bidang ilmu Filsafat dan teologi bahkan berabad-abad setelah ia meninggal.
Al-Khawarizmi, ahli matematika terkemuka, adalah salah satu tokoh hebat Bayt Al-Hikmah. Bersama Al-Kindi, dia memperkenalkan ke seluruh dunia bilangan yang kita gunakan saat ini yakni angka 1,2,3,4 dan seterusnya. Bukunya, Kitab al-Jebr menjadi istilah dalam ilmu matematika, yaitu Aljabar. Ia merupakan tokoh yang pertama kali meletakkan rumus-rumus matematika.
Akhir Era Bayt Al-HikmahBayt Al-Hikmah sebagai kekuatan intelektual dunia pada akhirnya runtuh, baik secara fisik maupun metaforis, akibat kekalahan Baghdad oleh bangsa Mongol pada 1258 M. Beberapa ahli memperkirakan, sebanyak 90.000 laki-laki, wanita, dan anak-anak dibunuh saat kota itu diserang.
Tidak ada yang tersisa dari Bayt Al-Hikmah. Sungai Tigris disebut menghitam akibat tinta dari buku-buku di Bayt Al-Hikmah serta memerah akibat tumpahnya darah ribuan kaum muslimin.
Pelajaran Penting758 tahun berlalu, ada beberapa pelajaran yang dapat diambil dari cahaya ilmu dalam sejarah peradaban islam. Saat tuduhan Islam bertentangan dengan ilmu pengetahuan mengemuka, Bayt Al-Hikmah menjadi pengingat dan mengungkap kebenaran yang sesungguhnya.
Ketika agama diamalkan dengan benar, tidak ada peperangan, maka ilmu pengetahuan akan berkembang. Agama Islam identik dengan ilmu. Itu terbukti dari wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad SAW adalah perintah untuk menuntut ilmu.
Sejarah mencatat Bayt Al-Hikmah 500 tahun menghiasi bumi dengan cahaya ilmu. Tak hanya itu, umat islam juga melakukan hal serupa selama 7 abad di Andalusia, yang hingga saat ini menjadi legenda. Bahkan hari ini, para pemikir muslim secara aktif terlibat dalam segala jenis upaya ilmiah serupa.
Ketika dalam kondisi terbaik, baik di Baghdad, Damaskus, Cordoba atau Granada, umat Islam melakukan ekspansi dengan rasa aman dan membawa kedamaian. Keamanan memberi ruang untuk ide dan ilmu pengetahuan berkembang.
Umat Islam tidak hanya ahli di bidang filsafat dan teologi, tapi di semua cabang ilmu pengetahuan. Bahkan, ilmu diajarkan ke semua golongan. Tidak ada penghalang untuk non muslim belajar kepada umat Islam.
sumber: mvslim.com(jqf)