LANGIT7.ID-, Jakarta- - Pimpinan AQL Islamic Center, Ustadz
Bachtiar Nasir (UBN) mengatakan, Rasulullah SAW merupakan nabi dan rasul terakhir yang diutus sebagai rahmatan lil-alamin.
"Dan tidaklah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam." (QS Al-Anbiya: 107)
Dalam ayat tersebut, Allah SWT menegaskan risalah kenabian yang dibawa Rasulullah SAW merupakan rahmat bagi alam semesta. Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan, Allah SWT menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai rahmat-Nya kepada seluruh alam.
"Barangsiapa yang menerima dan mensyukuri rahmat itu, maka ia akan hidup bahagia di dunia dan di akhirat, sebaliknya barangsiapa yang menolak dan mengingkarinya, maka ia merugi di dunia dan akhirat," ungkap UBN dalam tausiahnya, dikutip Sabtu (20/5/2023).
Baca juga:
Gus Baha: Umat Islam Harus Kuat Secara Ekonomi dan PolitikDiutusnya Muhammad sebagai rasul juga merupakan rahmat bagi orang-orang kafir. Itu karena mereka tidak akan dimusnahkan. Ibnu Abbas saat menafsirkan ayat di atas menjelaskan, barangsiapa yang beriman kepada Allah dari akhir akhirat, maka Dia telah menetapkan rahmat baginya di dunia dan akhirat.
"Sedangkan yang tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya tidak akan dikenakan azab yang memusnahkan sebagaimana yang menimpa umat-umat sebelumnya," ungkap UBN.
Objek utama diutusnya Nabi Muhammad SAW sebagai rahmatan lil-alamin adalah manusia. Itu agar manusia mengenal dan mengikrarkan Tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah SWT.
"Sesungguhnya yang diwahyukan kepadaku adalah: 'Bahwasanya Tuhamu adalah Tuhan Yang Esa. Maka hendaklah kamu berserah diri (kepada-Nya)." (QS Al-Anbiya: 108)
Baca juga:
Kejagung Diharap Telusuri Aliran Dana Korupsi Menkominfo Johnny G PlateJadi, esensi Nabi Muhammad SAW sebagai rahmatan lil-alamin adalah membawa manusia kepada kalimat tauhid laa ilaaha illallah. Hal ini juga ditegaskan dalam Surah Al Ahzab ayat 45-46.
Dalam Surah tersebut, Allah menjelaskan fungsi risalah kenabian yang diamanahkan kepada Nabi Muhammad SAW. Pertama, sebagai saksi atas segala amal perbuatan yang kita lakukan yang baik maupun yang buruk.
Kedua, sebagai pembawa kabar gembira agar manusia senantiasa konsisten dalam keimanan dan ketakwaan. Ketiga, sebagai pemberi peringatan agar manusia berhenti dari kezaliman, kejahiliyyahan dan kebodohan.
"Keempat, sebagai penyeru manusia untuk kembali kepada Allah SWT. Kelima, sebagai pelita yang menerangi jalan manusia di tengah kegelapan hawa nafsu mereka," ujar UBN.
(ori)