LANGIT7.ID-, Jakarta- - Mursyid Tarekat Idrisiyyah Tasikmalaya, Syekh Muhammad Fathurahman, menjelaskan makna
shalat bisa mencegah seseorang dari perbuatan keji dan mungkar. Hal ini termaktub dalam Surah Al-Ankabut ayat 45.
Syekh Muhammad menjelaskan, shalat merupakan ibadah istimewa karena perintahnya diambil langsung ke langit dalam peristiwa Isra dan Mi'raj Rasulullah SAW. Shalat juga menjadi ibadah yang pertama kali dihisab pada hari pembalasan kelak.
"Shalat yang benar secara fikih (sesuai aturan) dan tasawuf (khusyu) akan menjadi benteng diri pelakukanya dari perbuatan keji dan mungkar," kata Syekh Muhammad saat menyampaikan khutbah Jumat di Masjid Istiqlal, Jakarta, dikutip Jumat (26/5/2023).
Fahsya (keji) berarti perbuatan jahat yang berimbas kepada diri sendiri saja. Sementara, mungkar merupakan perbuatan jahat yang berimnas kepada orang lain. Shalat yang sesuai aturan akan berefek kepada seluruh kehidupan manusia.
Baca juga:
Dikenal Ramah, Imam Masjid Asal Indonesia Disukai di Uni Emirat ArabShalat merupakan sarana yang dapat menghubungkan hati kepada Allah SWT. Dalam shalat, seorang muslim diajarkan cara merendahkan diri di hadapan-Nya. Dengan memosisikan kaki dan kepala sama rendah, merasakan kenikamatan sujud, berarti telah merendahkan diri di hadapan-Nya.
"Betapa rendahnya kita sebagai hamba dan betapa Agungnya Allah SWT sebagai Pencipta," ujar Syekh Muhammad.
Shalat berjamaah juga mengajarkan arti kepemimpin yang sati, setiap gerakan imam diikuti makmum dan setiap doa diamini. Makmum tidak boleh mendahului gerakan imam. Kedudukan semua sama di sisi Allah SWT. Tidak ada perbedaan petani, pedagang, pengusaha, atau seorang jenderal.
Rasulullah SAW meminta umatnya untuk shalat sebagaimana beliau shalat. Umat Islam tidak hanya diperintahkan hanya melihat aspek zahir shalat saja, tapi juga aspek batin.
Ittiba' (mengikuti) Nabi Muhammad SAW bukan hanya aspek fikih sematan, tapi juga persoalan hati. Bukan hanya mengikuti tindakan saja, tapi juga hati. Al-Qur'an sudah menggambarkan kondisi hati Rasulullah dan orang-orang shalih saat shalat.
"Apabila dibacakan ayat-ayat Allah SWT Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka tersungkur sujud dan menangis." (QS Maryam: 58)
Abdullah bin Syikhir mengatakan,
"Aku pernah melihat Rasulullah SAW shalat sambil menangis terisak-isak seakan-akan di dalam badannya terdapat suara air mendidih." (HR Ahmad, Abu Daud, Nasai, dan Tirmidzi).
Baca juga:
Yahya Staquf Sebut Muhammadiyah-NU Dua Sayap Islam Saling MelengkapiShalat yang menghadirkan aspek fikih dan tasawuf akan menjaga seseorang dari perbuatan keji dan mungkar. Kala berbisnis tidak melupakan Allah SWT. Di luar shalat pun tidak melupakan dzikir kepada-Nya.
"Di luar masjid mereka tidak lupa. Bisa dibayangkan bagaimana ketika berada di luar shalat," ungkap Syekh Muhammad.
Shalat membutuhkan hati yang tenang. itu karena harus menghadirkan Allah SWT dalam hati dan menyingkirkan urusan lain selain-Nya. Shalat merupakan media untuk mengingat-Nya.
"Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." QS Ar-Ra'd: 28)
Setiap ibadah memiliki dua sisi, aspek zahir dan batin. Shalat Subuh ada aspek zahir. Ilmu fikih yang membimbing teori atau mazhab yang menjadi produknya. Tidak cukup shalat hanya mengikuti bimbingan fikih saja, namun tetap membutuhkan aspek batin yakni kekhusyuan.
Baca juga:
UAS Lelang Jaguar Pemberian Hamba Allah, Harga Dibuka Rp150 JutaDalam kita Al-Ghunyah karangan Syekh Abdul Qadir Al-Jailani mengatakan, khusyu merupakan bagian dari syarat shalat. Demikian pula Imam Al-Ghazali. Kalau tidak khusyu, maka shalat tidak sha karena satu syarat hilang.
"Maksudnya bagi yang belum khusyu shalatnya harus ditingkatkan bukan ditinggalkan. Agar shalat menjadi nikmat, sujudnya nikmat, maka hatinya juga harus khusyu. Orang yang khusyu berarti hadir hatinya," ujar Syekh Muhammad.
Makna hadir hati dalam shalat adalah hati ikut hadir menghadap Allah SWT. Hati yang ghaib tidak dihitung di sisi-Nya. Menurut Syekh Ibnu Athaillah As-Sakandari, cahaya ada yang masuk ke dalam hati (dukhulun fi al-qalb) dan ada yang mantul kembali (wushulun fi al-qalb).
"Cahaya yang mantul membuat efek shalat dan dzikir tidak terbawa ke luar masjid. Rajin shalat tapi tetap maksiat. Adapun cahaya yang masuk kemudian meresap ke dalam hati membuat dada lapang dan pikiran cerah," tutur Syekh Muhammad.
(ori)