LANGIT7.ID-, Jakarta- - Ulama asal Rembang, Jawa Tengah, KH Ahmad Bahauddin Nursalim (
Gus Baha), menuturkan alasan seorang muslim harus memilih pemimpin yang baik. Menurut dia, pemimpin yang baik merupakan solusi bagi segala permasalahan bangsa Indonesia.
Dia menegaskan, membangun sebuah bangsa besar yang adil dan makmur hakikatnya dimulai dari individu setiap warga negara. Hal ini harus ditanamkan agar bangsa Indonesia bisa bersaing di kancah internasional.
"Solusi bangsa ini tidak sekadar hanya pemerintah itu baik dan pemimpin itu baik, tapi rakyat juga harus baik. Kebaikan itu dimulai dari kita," jelasnya saat haul ke-41 KH Abdul Hamid di Pesantren Salafiyah Kota Pasuruan, dikutip Sabtu (3/5/2023).
Langkah pertama menjadi orang baik atau warga negara yang baik dimulai dari memperbaiki shalat dan sujud kepada Allah SWT. Dia mengungkapkan, masyarakat harus dilatih bangga bisa sujud dan menikmati sujud kepada Allah.
Baca juga:
Fakta Menarik Argentina, Punya Masjid Terbesar di Amerika Latin"Diajarkan dan dilatih syaraful mukmin qiyamuhu billail, mulianya umat Islam karena qiyamul lail dan yakin bahwa sujud adalah kenangan dan aset terbaik sehingga tidak hasud dengan jabatan serta kesuksesan orang lain," ucap Gus Baha.
Ketika sudah nyaman dengan sujud, maka dia tidak hasud ketika tidak jadi wali kota dan tidak hasud ketika tidak jadi kiai besar dan mubaligh populer. Itu karena sudah punya nikmat yang lebih baik dari dunia seisinya yaitu sujud.
"Kalau sudah begitu, maka nanti jadi menteri dan pejabat juga enak. Karena tidak dituntut macam-macam dan asyik dengan tahajud serta sujud. Jika tidak asyik dengan tahajud dan sujud maka pekerjaannya demo menuntut pemerintah," beber Gus Baha.
Gus Baha mengajak masyarakat umum untuk membangun persepsi bahwa sujud adalah nikmat terbesar menjadi hambanya Allah. Masyarakat juga sibuk memperbaiki diri dan menyelesaikan tanggung jawab masing-masing.
"Nilai bersama ini mari kita bangun, tsaqofah islamiyyah atau budaya Islam. Dimulai dari kita. Saya punya banyak hadis, setan paling menangis ketika melihat orang sujud. Karena sebab sujud, setan dikeluarkan dari surga," tutur Gus Baha.
Sebenarnya, kata dia, budaya tersebut sudah mulai terbangun di tengah masyarakat Indonesia. Dia menyebut keberkahan Indonesia karena masyarakatnya shalat dan sujud. Banyak orang cantik menolak lamaran orang kaya hanya karena tidak shalat.
“Jadi rakyat Indonesia sudah heroik. Demi cari menantu yang salih saja, maka rela memiliki menantu yang miskin asal salat,” ungkap Gus Baha.
Demikian pula dengan bab kepemimpinan. Masyarakat akan menganggap seorang pemimpin baik jika rajin mendirikan shalat. Masyarakat Indonesia yang antizina dan prostitusi, maka tidak akan memilih pemimpin yang punya perilaku seperti itu.
"Kalau rakyat sudah punya konsensus seperti itu, maka rakyat tidak akan memilih pemimpin yang terkenal tidak shalat. Apapun baiknya calon pemimpin itu dalam sosial. Sehingga tolak ukur kebenaran jadi tolak ukuran politik juga," ungkap Gus Baha.
Baca juga:
Tralee Boxing Club, Klub Tinju Irlandia Ramah bagi MuslimahSetelah itu, melatih masyarakat untuk tidak bergantung dengan pemerintah dalam hidup sehari-hari. Sehingga, masyarakat lebih mandiri dan terbiasa mengatasi masalah sendiri. Di pelosok negeri banyak masyarakat yang mandiri tanpa bergantung ke pemerintah.
Bangun tempat sujud seperti masjid lewat iuran. Bahkan jauh sebelum negara Indonesia ada, masyarakat terbiasa mandiri. Malah ikut membantu negara. Sifat heroik ini perlu terus dijaga.
"Saya bisa tegas dalam sisi ilmiah. Negara ini atau umat Islam tidak boleh dilatih bergantung pada pemerintah. Nanti agama ini jadi bergantung ke wali kota. Saya ingin agama seperti di eranya Mbah Hamid Pasuruan, suka sedekah dan tidak berharap pemberian orang," ungkap Gus Baha.

(ori)