Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Senin, 25 Mei 2026
home edukasi & pesantren detail berita

Tips Membangun Keluarga Islami, Libatkan Allah dalam Mengasuh Anak

Muhajirin Selasa, 01 Agustus 2023 - 21:00 WIB
Tips Membangun Keluarga Islami, Libatkan Allah dalam Mengasuh Anak
ilustrasi
LANGIT7.ID-, Jakarta- - Penulis dan Praktisi Parenting, Bunda Karina Hakman, membagikan tips membangun keluarga Islami dengan mencontoh keluarga para nabi dan rasul. Poin penting yang harus dipahami adalah calon keluarga harus membangun visi bersama sejak awal, bahkan sebelum menikah.

"Komunikasi dan diskusi itu harus ada, bahkan sebetulnya sebelum menikah. Bahkan dalam surat Ash-Shaffat ayat 100, Nabi Ibrahim berdo’a kepada Allah untuk dianugrahkan anak yang shalih, 'Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang yang saleh'," kata Karina dalam kuliah online Edufic, Senin malam (31/7/2023).

Maka itu, para ayah yang memiliki sedikit waktu bersama anak, dia harus memanfaatkan waktu tersebut sebaik mungkin. Waktu kebersamaan harus berkualitas dan mendidik anak agar bertauhid, seperti didikan Nabi Ibrahim AS kepada anaknya. Bukan hanya berupa arahan yang terus-menerus diberikan.

Baca juga:Pentingnya Keterlibatan Ayah dalam Pengasuhan Anak

1. Ta’aruf, Tafahum, Takaful dalam Balutan Baik Sangka dan Cinta
Ta’aruf, tafahum, dan takaful dalam balutan baik sangka dan cinta merupakan konsep yang basic. Di antara tanda kebesaran Allah SWT adalah mempertemukan dua jiwa yang sefrekuensi. Laki-laki yang baik agamanya bertemu dengan wanita shalihah pula.

"Di antara tanda-tanda kebesaran Allah SWT adalah Dia menjadikan pasangan bagi sesama manusia yang sejiwa, belahan hati, yang paling jadi soulmate agar menjadi Sakinah, Mawaddah, Wa Rahmah," ujar Karina.

”Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.” (Q.S Al-Hujuraat: 13)

Ayat di atas menerangkan, seorang istri dan suami berasal dari latar belakang yang berbeda. Sehingga, dalam bab pengasuhan untuk melibatkan ayah dalam pola asuh, ibu harus mengenal siapa dan bagaimana ayah dari anak-anaknya.

"Ketika kita ingin melibatkan suami kita dalam proses pengasuhan anak dan kita melihat ada beberapa kekurangan, maka kita bisa intropeksi diri. Karena pernikahan itu sekufu, dan sekufunya dari takwa," tutur Karina.

Maka itu, dengan adanya ta’aruf atau mengenal satu sama lain yang diiringi oleh baik sangka, maka akan mudah untuk lebih memahami bahkan dengan lirikan mata. Selanjutnya, apabila ta’aruf dan tafahum sudah terbangun, maka takaful akan lebih mudah.

Takaful adalah saling tolong menolong sebagaimana firman Allah SWT dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 187, "Mereka adalah pakaian bagimu, dan kamu adalah pakaian bagi mereka". Pakaian memiliki fungsi menutupi aib ataupun menutupi sesuatu yang harus ditutupi.

"Maka suami istri apabila memiliki aib satu dengan yang lain ditutupi terlebih dahulu, kemudian saling tolong menolong dan diperindah satu sama lain," ungkap Karina.

2. Bertahap Penuh Kebijaksanaan
Para istri harus bersabar dan bertahap penuh kebijaksanaan pada saat ingin melibatkan suami dalam proses pengasuhan anak. Hal ini dilandasi dalam Q.S. An-Nahl ayat 125, ”Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik.”

Artinya, jika ingin mengajak suami terlibat dalam pengasuhan, fokus utamanya pada diri sendiri seorang istri maupun ibu yang baik untuk anak-anak. Dalam kaidah dakwah, hal itu membangun tsiqoh (rasa yakin, taat percaya sekaligus).

"Sehingga seorang suami apabila sudah Tsiqoh kepada istrinya, apapun yang disampaikan istrinya ia percaya, walaupun jangan juga terlalu berlebihan," jelas Karina.

Berbicara tentang ranah akademis, secara psikologis manusia memiliki kemampuan menerima nasihat yang kapasitasnya terbatas. Maka itu, apabila ingin memberikan nasihat maka harus bertahap.

"Begitupun juga yang bisa dilakukan oleh pasangan suami istri yang saling memberikan nasihat secara bertahap dan lemah lembut. Sehingga tidak perlu dengan cara mengomel-ngomel untuk membawa hubungan yang harmonis," ujar Karina.

3. Membangun Kualitas Waktu dalam Segala Keterbatasan
Dalam hal ini tugas pertama Ayah kepada anak adalah membangun kelekatan hati. Mengajak anak bermain, membaca bersama, maupun aktifitas fisik lainnya. Setelah membangun kelekatan hati, maka bersama-sama membangun keteladanan Islami dan mengajak anak untuk bisa terlibat.

"Seperti berjama’ah ke masjid bersama," ungkap Karina.

Sebagaimana Nabi Ibrahim yang membangun pondasi Baitullah Bersama Ismail seraya berdo’a kepada Allah SWT.

”Dan (ingatlah) ketika Ibrahim meninggikan pondasi Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa), "Ya Tuhan kami, terimalah (amal) dari kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui” (Q.S. Al-Baqarah: 127)

Apabila sudah bisa membangun kelekatan dan keteladanan, maka akan mudah untuk memberikan pengajaran kepada anak. Sebagaimana Luqman ketika memberikan pengajaran maupun nasihat yang terdapat dalam Q.S. Luqman ayat 13.

”Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, "Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar."

Saat mendidik anak, hal utama yang harus dinanamkan adalah pondasi tauhid. Penanaman pondasi tauhid kepada anak ini dilakukan sejak usia dini secara bertahap. Apabila pondasi sudah terbentuk, maka memberikan arahan akan lebih mudah.

Baca juga:Aturan Pemasangan Bendera Merah Putih HUT RI sesuai Undang-Undang

4. Menjaga Taat pada Allah Sekalipun Berat
”Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, "Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka bagaimanakah pendapatmu!" Dia (Ismail) menjawab, "Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insy? Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar." (Ash-Shaffaat: 102)

Hidup memiliki banyak sekali ujian. Seorang muslim ita bisa belajar dari kisan Nabi Ibrahim yang bisa menjaga ketaatan dan pengorbanan yang luar biasa kepada Allah SWT. Ayat di atas bisa dibayangkan beratnya seorang ayah yang sudah menunggu anak lebih dari 100 tahun.

"Lalu anaknya pun ditempatkan di Makkah, dan saat bertemu kembali anaknya diminta untuk dikurbankan. Itulah yang beliau pahami pada saat itu. Tapi itulah pengorbanan Nabi Ibrahim. Yang kemudian Allah SWT ganjar dengan balasan terbaik," jelas Karina.

5. Taqwa, Tawakal, dan Doa
”Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya. Dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu..” (Q.S. Ath-Thalaq: 2-3)

Taqwa yang dimiliki tidak sebatas disimpan, namun bisa diwujudkan dalam bentuk ibadah. Sudah banyak metode parenting yang dipelajari dan dipraktikkan, namun anak-anak masih susah untuk diatur.

"Usut punya usut harta yang berputar di rumah tersebut adalah harta yang syubhat atau harta yang haram, maka segeralah meminta ampunan kepada Allah SWT. Kita harus menjaga Taqwa kita dari berbagai sisi," jelas Karina.

Kemudian, tawakal kepada Allah SWT. Salah satu wujud dari tawakal adalah doa. Sebagaimana doa Nabi Ibrahim ketika menempatkan anak dan istrinya di tanah gersang yang saat ini dikenal Makkah.

Diceritakan oleh Syekh Habib Ali Zainal Abidin, saat Nabi Ibrahim sudah jalan jauh, beliau rindu oleh anak dan istrinya yang sudah tidak terlihat karena saking jauhnyaa. Beliau lalu berdoa sebagaimana dalam Q.S. Ibrahim ayat 37.

” Ya Tuhan, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan (yang demikian itu) agar mereka melaksanakan salat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.”

Jika seseorang bertawakkal, Allah cukupkan kebutuhannya. Seorang muslim tidak boleh meremehkan doa. Doa merupakan senjatanya orang mukmin. Allah SWT sudah menjanjikan untuk dikabulkan doa bagi hamba-Nya.

"Doa itu representasi dua hal. Pertama, sebagaimana kita bersungguh-sungguh di hadapan Allah SWT. Kedua, seberapa kita yakin kepada Allah SWT," ungkap Karina.



(ori)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Senin 25 Mei 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:53
Ashar
15:14
Maghrib
17:47
Isya
19:00
Lihat Selengkapnya
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)