Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Kamis, 07 Mei 2026
home edukasi & pesantren detail berita

Mengenal 2 Makna Cinta Perekat Hubungan Orangtua dan Anak

Muhajirin Selasa, 02 Januari 2024 - 08:00 WIB
Mengenal 2 Makna Cinta Perekat Hubungan Orangtua dan Anak
ilustrasi
LANGIT7.ID-, Jakarta- - Fungsionaris IMWU (International Muslim Women Union) Chapter Indonesia dan Pimpinan Pusat Wanita Islam, Ustadzah Siti Fathiyah Khotib mengatakan, menjadi orangtua yang dicintai anak memiliki tantangan tersendiri.

Cinta, kata dia, memiliki dua makna. Pertama, cinta misi, adalah cinta yang membawa misi kebahagiaan di dunia dan di akhirtat. Cinta yang bertepuk sebelah tangan dimana cinta yang tidak bisa kita balas.

“Contoh dari cinta misi seperti cinta para Nabi kepada kaumnya, cinta Rasulullah SAW kepada umatnya, cinta orang tua kepada anak, dan cinta guru kepada murid,” kata Siti Fathiyah dalam webinar Edufic, Ahad malam (31/12/2023).

Para Nabi berkorban seluruh jiwa raganya untuk mendakwahkan islam, untuk menyelamatkan kaumnya dari api neraka. Demikian pula Rasulullah SAW, ketika beliau wafat bukan anak istri yang dipikirkan, melainkan umatnya.

Orang tuapun meregang nyawa demi buah hati yang mereka cinta. Mereka rela membawa buah hati mereka ke mana-mana kurang lebih sembilan bulan. Hal ini tentu tidak bisa dibalas oleh anak. Semua orang tua memiliki harapan dan keinginan bahwa anaknya bisa mendapatkan kesuksesan di dunia dan di akhirat.

“Betapa lelahnya menjadi seorang ibu di saat ia mengandung yang merasa tidak nyaman saat tidur, tidak nyaman saat makan, bahkan saat melahirkan dimana ia harus meregang nyawa demi buah hatinya, atau saat masa menyusui, Itu sangat lelah di atas lelah,” ujar Siti Fathiyah.

Maka itu, saat Rasulullah SAW ditanya kepada siapa harus berbakti, ia menjawab kepada “ibumu”. Lalu kepada siapa lagi? Ibumu, lalu kepada siapa lagi, Ibumu sampai 3 kali kemudian yang ke-empat adalah Ayahmu.

“Sehingga derajat Ibu lebih tinggi 3 tingkat dari pada derajat Ayah, karena ibu bisa mengandung, melahirkan, dan menyusui saat Ayah tidak mampu melakukannya,” kata Siti Fathiyah.

Lalu, bagaimana peran seorang Ayah? Ia berdo’a dan berharap kepada Allah SWT agar anak yang dikandung oleh istrinya menjadi anak yang shalih dan shalihah. Ini adalah cinta misi orang tua kepada anak yang tidak bisa dibalas, dan anak harus tahu itu. Ketika anak paham tentang perjuangan orang tua yang sedemikian rupa, dia akan mencintai orang tua.

“Pemahaman ini dapat ditumbuhkan oleh orang tua kepada anak melalui kedekatan, kepekaan, juga kesdaran,” tutur Siti Fathiyah.

Kedua, cinta jiwa, adalah cinta kepada pasangan, cinta istri kepada suami maupun cinta suami kepada istri. Selama cinta itu didasari dengan keikhlasan dan halal tentunya maka cinta itu penuh misteri. Seperti misteri kimia jiwa seseorang.

“Jadi, kita tidak pernah tau kenapa si A menikah dengan si B atau si C menikah dengan si D, apakah bisa ditukar? Tentu saja tidak bisa. Sebab ini merupakan cinta jiwa yang penuh dengan misteri,” kata Siti Fathiyah.

“Terkadang kita perlu mengetahui bahwa untuk dapat berhasil mendidik anak yang shalih dan shalihah bisa kita mulai dari mencari pasangan yang shalih atau shalihah terlebih dahulu. Tidak sebatas kita berpikir apakah dia cocok menjadi suamiku atau istriku? Namun kita juga perlu pertimbangkan, apakah dia cocok menjadi ayah atau ibu dari anak-anakku,” lanjutnya.

Hal itu dikarenakan mendidik anak itu tugas berdua, bukan hanya ibu saja atau ayah saja melainkan keduanya. Ayah dan Ibu turut terlibat penuh dalam pengasuhan maupun mendidik anak.

Dalam hal berkomunikasi atau berdialog kita banyak menjumpai anak dan Ibu lebih sering berdialog bersama. Sehingga Al-Qur’an memberikan contoh komunikasi antara anak dan Ayah seperti yang dilakukan oleh Luqman kepada putranya, atau Nabi Ibrahim kepada Nabi Ismail.

“Jadi, peran Ayah juga sangat penting dalam mendidik anak,” ungkap Siti Fathiyah.

Dengan demikian, sebelum menikah maka harus mencari pasangan yang shalih dan shalihah. Sebab nantinya, bibit, bebet, dan bobot anak-anak dilihat dari orang tua. Sebagaimana anjuran Rasulullah SWA dalam memilih pasangan berdasarkan empat hal yang terdapat dalam hadis berikut yang artinya:

“Dari Abu Hurairah ra. Dari Nabi Muhammad SAW telah berkata: Wanita umumnya dinikahi karena 4 (empat) hal: hartanya, nasabnya, kecantikannya, dan agamanya. Karena itu, pilihlah yang memiliki agama, kalian akan beruntung.” (H.R. Bukhari).

Berdasarkan hadis di atas, untuk mencari pasangan laki-laki bisa dengan 3T (Taqwa, Tampan, Tajir) untuk mencari pasangan wanita bisa dengan 3S (Shalihah, Sabar, Cantik).

“Kemudian, hadis di atas diakhiri dengan kalimat penutup, yaitu pilihlah yang agamanya paling baik maka kamu akan beruntung. Karena kedepannya, anak-anak kita memiliki sifat yang tidak jauh berbeda dengan orang tuanya,” ungkap Siti Fathiyah.

(ori)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Kamis 07 Mei 2026
Imsak
04:25
Shubuh
04:35
Dhuhur
11:53
Ashar
15:13
Maghrib
17:48
Isya
19:00
Lihat Selengkapnya
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)