JAKARTA, LANGIT7.ID - Abu Bakar Al-Shiddiq, sahabat terdekat Nabi Muhammad SAW, dikenal karena kesetiaan dan keimanan yang kokoh.
Namun, ada satu momen penting dalam sejarah Islam yang membuatnya mendapat gelar "Ash Shiddiq" - pembenaran - yakni saat peristiwa Isra' dan Mi'raj Nabi Muhammad SAW.
Mengapa Abu Bakar mendapatkan gelar tersebut?
Merujuk
situs resmi Muhammadiyah, diceritakan dalam satu malam, Nabi Muhammad SAW dijemput oleh Allah SWT untuk menempuh perjalanan dari Mekah ke Yerusalem dan naik ke langit (Mi'raj).
Di masa itu, perjalanan semacam ini memakan waktu berbulan-bulan, tapi Nabi Muhammad SAW menceritakan hal tersebut sebagai kenyataan yang terjadi semalam saja.
Baca Juga: 5 Fakta Menarik Tentang Muslim di Negara China yang Jarang DiketahuiKabar perjalanan ini segera menyebar di kalangan kaum Quraisy.
Banyak yang mengejek dan meragukan cerita tersebut, bahkan ada yang menyebut Nabi Muhammad SAW gila.
Bagi mereka, perjalanan melampaui logika dan hukum alam sulit diterima, tetapi Nabi Muhammad SAW tetap mengungkapkan kisahnya dengan penuh keyakinan.
Sementara orang lain meragukan, Abu Bakar justru menunjukkan keyakinan luar biasa.
Ketika beberapa orang meragukan cerita Nabi SAW, Abu Bakar dengan tenang berkata, "Jika Rasulullah mengatakan demikian, maka pastilah itu kebenaran."
Baginya, tidak ada keraguan sedikit pun, bahkan menghadapi klaim yang dianggap mustahil.
Peristiwa ini mengukuhkan keyakinan Abu Bakar terhadap Nabi Muhammad SAW dan meneguhkan gelarnya sebagai "Ash Shiddiq."
Gelar ini mencerminkan sikapnya yang selalu membenarkan setiap perkataan dan tindakan Nabi SAW tanpa rasa ragu, meski banyak orang lain yang meragukan.
Baca Juga: Kisah Nabi Saleh Lengkap dari Lahir Sampai WafatKisah Isra’ dan Mi’raj juga mengandung pelajaran mendalam tentang iman dan takdir ilahi.
Bagi Abu Bakar, jika Rasulullah SAW berkata demikian, itu adalah kebenaran mutlak.
Isra’ dan Mi’raj mengajarkan kita mempercayai yang tak terlihat dan menerima hikmah dalam setiap takdir Allah.
Sebagai umat Islam, kita diajak merenungkan perjalanan spiritual ini untuk memperkuat rasa iman, bahwa dalam takdir Ilahi, ada kebenaran yang lebih tinggi melampaui pemahaman manusia.***
(hbd)