LANGIT7.ID-Jakarta; Qatar kembali menegaskan dukungannya terhadap solusi dua negara pada Selasa, merespons pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengulang seruannya untuk memindahkan warga Palestina dari Gaza ke Mesir atau Yordania.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majed al-Ansari, tidak mengungkapkan detail pembicaraan dengan pejabat AS, namun menyatakan bahwa Qatar seringkali memiliki pandangan berbeda dengan sekutunya.
Baca juga: Iran Puji Perlawanan Gaza di Tengah Konflik dengan Israel"Posisi kami selalu jelas mengenai pentingnya rakyat Palestina mendapatkan hak-hak mereka, dan solusi dua negara adalah satu-satunya jalan ke depan," ujar al-Ansari dalam konferensi pers rutin ketika ditanya tentang komentar Trump.
"Kami memang tidak selalu sependapat dalam banyak hal dengan semua sekutu kami, bukan hanya Amerika Serikat, tetapi kami bekerja sangat erat dengan mereka untuk memastikan kami merumuskan kebijakan bersama," tambahnya.
Qatar, AS, dan Mesir bersama-sama menjadi mediator gencatan senjata Gaza dan kesepakatan pembebasan sandera yang mulai berlaku lebih dari seminggu lalu, menghentikan pertempuran selama lebih dari 15 bulan yang dipicu oleh serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 terhadap Israel.
Pada hari Senin, Trump kembali menyuarakan keinginannya untuk memindahkan warga Gaza ke negara lain, setelah sebelumnya menyatakan ingin "membersihkan" wilayah Palestina yang hancur tersebut.
Presiden AS tersebut mengatakan kepada wartawan bahwa dia "ingin mereka tinggal di wilayah di mana mereka bisa hidup tanpa gangguan, revolusi, dan kekerasan yang begitu banyak."
Al-Ansari mengatakan Qatar, yang menjadi tuan rumah pangkalan militer AS terbesar di kawasan tersebut, "terlibat penuh dengan pemerintahan Trump dan utusan (Steve) Witkoff," perwakilan khusus presiden untuk Timur Tengah.
"Saya tidak akan berkomentar tentang jenis diskusi yang kami lakukan dengan mereka saat ini, tetapi saya dapat mengatakan bahwa diskusi tersebut sangat produktif," kata al-Ansari.
"Kami telah bekerja sangat erat dengan pemerintahan Trump mengenai isu-isu regional secara keseluruhan, termasuk masalah Palestina."
(lam)