Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Selasa, 21 April 2026
home masjid detail berita

Alam Barzakh: Kisah Nabi Muhammad Berbicara dengan Mayat Kafir yang Telah Dikubur

miftah yusufpati Kamis, 15 Mei 2025 - 17:00 WIB
Alam Barzakh: Kisah Nabi Muhammad Berbicara dengan Mayat Kafir yang Telah Dikubur
Pertanyaan pun mungkin muncul: seperti apakah kehidupan setelah kematian itu? Penjelasan secara ilmiah sangat terbatas. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Ibnu Hisyam dalam Sirah-nya meriwayatkan bahwa setelah Perang Badar usai, Nabi Muhammad SAW mendatangi pemakaman para pemuka kaum musyrik yang tewas dalam pertempuran tersebut. Beliau menyebut nama-nama mereka satu per satu:

"Wahai penghuni al-Qalib (sumur atau kubur). Hai 'Utbah bin Rabi'ah, hai Syaibah bin Rabi'ah, hai Umayyah bin Khalaf, hai Abu Jahl bin Hisyam. Apakah kalian telah menemukan apa yang dijanjikan Tuhan kalian dengan benar? Karena sesungguhnya aku telah menemukan apa yang dijanjikan Tuhanku dengan benar."

Para sahabat yang menyaksikan kejadian itu bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah engkau berbicara dengan orang-orang yang telah mati?"

Nabi menjawab: "Kalian tidak lebih mendengar dari mereka atas apa yang aku ucapkan, hanya saja mereka tidak dapat menjawabku."

Di sisi lain, Imam Muslim meriwayatkan dari Masruq yang berkata bahwa ia bertanya kepada Abdullah bin Mas'ud tentang ayat:

"Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati. Mereka hidup di sisi Tuhan mereka dengan mendapatkan rezeki." (QS Ali 'Imran [3]: 169)

Abdullah bin Mas'ud menjelaskan bahwa mereka telah menanyakan hal itu kepada Rasulullah Saw., dan beliau bersabda:

"Arwah mereka berada dalam rongga burung hijau yang bertengger pada pelita-pelita di bawah 'Arsy. Mereka bebas terbang ke mana pun di surga sesuka hati, lalu kembali ke pelita-pelita tersebut. Tuhan mereka menengok mereka dan bertanya: 'Apakah kalian menginginkan sesuatu?' Mereka menjawab, 'Apa lagi yang kami inginkan, sedangkan kami bebas terbang di surga?'

Pertanyaan itu diulang tiga kali, dan ketika mereka menyadari bahwa mereka harus meminta sesuatu, mereka berkata: 'Ya Tuhan, kembalikanlah ruh kami ke jasad kami agar kami dapat gugur lagi di jalan-Mu.' Karena tidak ada permintaan lain, maka mereka dibiarkan seperti itu."

Riwayat lain dari Ali bin Abi Thalib menyebutkan bahwa beliau bertanya kepada Yunus bin Zibyan tentang pandangan orang terhadap ruh orang-orang mukmin. Yunus menjawab bahwa mereka berada di rongga burung hijau dalam pelita-pelita di bawah 'Arsy Ilahi. Ali berkomentar:

"Mahasuci Allah. Seorang mukmin lebih mulia di sisi Allah daripada sekadar ditempatkan di dalam rongga burung hijau, wahai Yunus. Jika seorang mukmin wafat, ruhnya ditempatkan pada wadah sebagaimana wadahnya ketika di dunia. Mereka makan dan minum, dan jika ada yang datang kepada mereka, mereka akan mengenalnya sebagaimana keadaannya semasa di dunia."

Penjelasan secara Ilmiah

Pertanyaan pun mungkin muncul: seperti apakah kehidupan setelah kematian itu? Penjelasan secara ilmiah sangat terbatas, meskipun terdapat berbagai riwayat yang dijadikan acuan.

Mustafa Al-Kik, dalam bukunya Baina 'Alamain, mengemukakan bahwa manusia memiliki dua jasad: jasad duniawi dan jasad barzakhi.

Ia mencoba menjelaskan keberadaan barzakh melalui teori frekuensi dan gelombang, sebagaimana radio mampu menangkap berbagai suara melalui gelombang yang berbeda. Gelombang-gelombang itu saling bersilangan tetapi tidak menyatu, sehingga sesuatu yang "ada" bisa jadi tidak terlihat karena berada pada frekuensi yang berbeda dari kemampuan penglihatan manusia.

Ia merujuk pada ayat:

"Maka mengapa ketika nyawa telah sampai ke kerongkongan, padahal kamu ketika itu melihat (yang sekarat), sedangkan Kami lebih dekat kepadanya daripada kamu, tetapi kamu tidak melihat." (QS Al-Waqi'ah [56]: 83–85)

Serta firman Allah: "Aku bersumpah dengan apa yang kamu lihat dan dengan apa yang tidak kamu lihat." (QS Al-Haqqah [69]: 38–39)

Kedua ayat ini, menurut Mustafa, menunjukkan adanya dua bentuk realitas: yang dapat dilihat oleh manusia karena sesuai dengan frekuensi bumi, dan yang tidak dapat dilihat karena berada di luar jangkauan penglihatan manusia. Teori ini pun dijadikan penjelasan atas percakapan Nabi dengan para penghuni al-Qalib dalam riwayat sebelumnya.

Prof Dr M Quraish Shihab mengatakan seberagam apa pun penafsiran dan riwayat yang ada, kita tidak bisa secara mutlak menyalahkan atau mengafirkan mereka yang tidak meyakini kehidupan barzakh, selama mereka masih mengucapkan dua kalimat syahadat.

"Sebab, akidah harus dibangun atas dasar nash yang pasti (qath’i), baik dari Al-Qur’an maupun dari makna yang tidak dapat ditafsirkan dengan banyak kemungkinan. Sementara penafsiran yang ada tentang kehidupan barzakh belum mencapai derajat tersebut," katanya.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Selasa 21 April 2026
Imsak
04:27
Shubuh
04:37
Dhuhur
11:55
Ashar
15:14
Maghrib
17:53
Isya
19:02
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سَبَّحَ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah. Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)