Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Sabtu, 18 April 2026
home edukasi & pesantren detail berita

3 Kritik terhadap Muktazilah: Kisah al-Asyari Bertanya kepada Guru Besarnya

miftah yusufpati Ahad, 18 Mei 2025 - 04:15 WIB
3 Kritik terhadap Muktazilah: Kisah al-Asyari Bertanya kepada Guru Besarnya
Mutazilah melancarkan tekanan dan bahkan hukuman terhadap siapa saja yang menolak doktrin-doktrin mereka. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID- Menurut catatan sejarah Al-Asy‘ari (w. 330 H/942 M) adalah yang pertama kali menyatakan kekecewaannya terhadap konsep teologi Mu‘tazilah yang sangat rasionalistik.

Konon, pada suatu ketika, al-Asy‘ari bertanya kepada guru besarnya, al-Jubba’i—seorang teolog Mu‘tazilah terkemuka pada zamannya—tentang nasib seorang anak dan seorang dewasa yang sama-sama masuk surga karena keimanannya.

Namun, sesuai dengan konsep keadilan Tuhan dalam pandangan Mu‘tazilah, orang dewasa itu menempati kedudukan yang lebih tinggi dibanding si anak. Mengapa demikian? tanya al-Asy‘ari. Al-Jubba’i menjawab: karena orang dewasa sempat melakukan amal kebajikan, sedangkan si anak belum.

Lalu, al-Asy‘ari mengejar dengan pertanyaan lanjutan: mengapa si anak tidak diberi umur lebih panjang agar ia juga sempat beramal seperti orang dewasa? Al-Jubba’i menjawab: Tuhan tahu, jika si anak hidup lebih lama, ia akan menjadi manusia durhaka. Dan karena Tuhan harus berbuat yang terbaik bagi manusia, maka demikianlah adanya.

Al-Asy‘ari kembali menekan: jika begitu, bagaimana jika orang-orang yang masuk neraka memprotes karena mereka tidak dimatikan sejak kecil saja, agar tidak sempat menjadi manusia durhaka?

Baca juga: Pemikiran Teologi Muktazilah: Sifat-Sifat Tuhan Tidak Sebangun dengan Hakikat-Nya

KH Masdar F. Mas'udi dalam buku berjudul "Kontekstualisasi Doktrin Islam" bab "Telaah Kritis atas Teologi Muktazilah" (Yayasan Paramadina) mengatakan yang menarik dari diskusi ini bukan hanya karena al-Jubba’i kehabisan jawaban, tetapi juga karena al-Asy‘ari sebenarnya sama-sama menggunakan logika untuk menyampaikan argumennya.

Bedanya, al-Jubba’i (dan kaum Mu‘tazilah) menggunakan logika untuk mendefinisikan Tuhan menurut batas-batas manusia, sementara al-Asy‘ari menggunakan logika justru untuk menegaskan bahwa Tuhan berada di luar batas-batas nalar manusia.

Jika kritik al-Asy‘ari itu juga merupakan kritik kita terhadap Mu‘tazilah, KH Masdar F. Mas'udi, maka kritik kedua adalah pada klaim mereka sebagai pemilik kebenaran tunggal yang harus diterima semua pihak.

Sebenarnya, kritik ini tidak hanya relevan bagi Mu‘tazilah, tetapi juga untuk seluruh aliran teologi pada masa itu, karena semuanya mengklaim hal serupa.

Bedanya, Mu‘tazilah mengklaim menemukan kebenaran mutlak melalui logika akal, sementara lawan-lawannya—seperti golongan Khasywiyah yang mengaku sebagai pengikut Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H/855 M)—mengklaim kebenaran melalui teks-teks naqal (wahyu dan hadis).

Itulah sebabnya, salah satu ciri menonjol dari sejarah pemikiran keagamaan saat itu adalah kesembronoannya dalam menuduh pihak lain sebagai kafir, musyrik, murtad, dan sejenisnya, hanya karena perbedaan pendapat.

Dalam konteks Mu‘tazilah, sikap intoleran ini diwujudkan dalam prinsip amar ma‘ruf nahi munkar yang justru meresahkan banyak pihak yang berseberangan dengan mereka.

Baca juga: Kisah Imam Hambali Dipenjara dan Disiksa karena Melawan Muktazilah

Dengan dalih tersebut, Mu‘tazilah melancarkan tekanan dan bahkan hukuman terhadap siapa saja yang menolak doktrin-doktrin mereka. Tragedi teologis ini dikenal sebagai mihnah (inqusition), yang dijalankan dengan dukungan kekuasaan dan birokrasi negara, yang karena alasan-alasan politis bersedia mendukung agenda mereka.

Kritik ketiga terhadap Mu‘tazilah adalah bahwa karena mereka lahir dari keprihatinan terhadap realitas teoritis—bahkan yang bersifat metafisik—isu-isu yang mereka angkat nyaris tidak memiliki dampak nyata bagi kehidupan umat secara umum. Kritik ini sebenarnya juga berlaku untuk aliran-aliran teologi lainnya, karena berangkat dari kegelisahan intelektual yang serupa.

Sebagai contoh, salah satu prinsip utama ajaran Mu‘tazilah adalah tentang “keadilan” Tuhan. Isu ini seharusnya sangat relevan dengan konteks sosial saat itu, terutama mengingat berbagai tindakan sewenang-wenang para penguasa.

Namun, karena pemaknaannya yang elitis dan spekulatif, keadilan yang dimaksud ternyata lebih bersifat eskatologis—berkaitan dengan peran Tuhan di akhirat—dan bukan pada keadilan yang dirasakan langsung oleh umat di dunia.

Ironisnya, dalam konteks keadilan sosial di dunia nyata, Mu‘tazilah justru bekerja sama dengan rejim yang berkuasa untuk menindas siapa saja yang dianggap berbeda atau menentang pandangan mereka.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Sabtu 18 April 2026
Imsak
04:28
Shubuh
04:38
Dhuhur
11:56
Ashar
15:14
Maghrib
17:54
Isya
19:03
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)