Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Senin, 20 April 2026
home masjid detail berita

Pesan-Pesan Al-Quran Mengenai Makanan: Halal dan Thayyib

miftah yusufpati Selasa, 03 Juni 2025 - 05:15 WIB
Pesan-Pesan Al-Quran Mengenai Makanan: Halal dan Thayyib
Penyebutan berbagai macam jenis makanan ini menuntut kearifan dalam memilih dan mengatur keseimbangannya. Ilustrasu: Gulf News
LANGIT7.ID-Prof Dr M Quraish Shihab dalam bukunya berjudul "Wawasan Al-Quran" menjelaskan Allah SWT memerintahkan agar manusia memakan makanan yang sifatnya halal dan thayyib.

Kata halal berasal dari akar kata yang berarti “lepas” atau “tidak terikat”. Sesuatu yang halal adalah sesuatu yang terlepas dari ikatan bahaya duniawi dan ukhrawi. Karena itu, kata halal juga berarti “boleh”. Dalam bahasa hukum, kata ini mencakup segala sesuatu yang dibolehkan agama, baik kebolehan itu bersifat sunnah (anjuran untuk dilakukan), makruh (anjuran untuk ditinggalkan), maupun mubah (netral/boleh-boleh saja). Karena itu, boleh jadi ada sesuatu yang halal (boleh), tetapi tidak dianjurkan, atau dengan kata lain, hukumnya makruh.

Nabi Muhammad SAW, misalnya, melarang seseorang mendekati masjid apabila ia baru saja memakan bawang. Nabi bersabda sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Daud melalui Ali bin Abi Thalib:

Rasul Saw. melarang memakan bawang putih kecuali setelah dimasak.

Dalam riwayat At-Tirmizi dikemukakan bahwa seseorang bertanya: “Apakah itu haram?” Beliau menjawab: "Tidak, tetapi saya tidak suka aromanya."

Baca juga: Makanan Olahan: Kisah Larangan Khamar secara Berangsur 3 Tahap

Kata thayyib dari segi bahasa berarti lezat, baik, sehat, menenteramkan, dan paling utama. Pakar-pakar tafsir ketika menjelaskan kata ini dalam konteks perintah makan menyatakan bahwa ia berarti makanan yang tidak kotor dari segi zatnya, tidak rusak (kedaluwarsa), atau tidak tercampur benda najis. Ada juga yang mengartikannya sebagai makanan yang mengundang selera bagi yang akan memakannya dan tidak membahayakan fisik maupun akalnya.

Kita dapat berkata bahwa thayyib dalam konteks makanan adalah makanan yang sehat, proporsional, dan aman. Tentunya, sebelum itu, makanan tersebut harus halal.

a. Makanan yang Sehat

Makanan yang sehat adalah makanan yang memiliki zat gizi yang cukup dan seimbang. Dalam Al-Qur’an disebutkan berbagai jenis makanan yang sekaligus dianjurkan untuk dikonsumsi, misalnya:

* Padi-padian (QS As-Sajdah [32]: 27),
* Pangan hewani (QS Ghafir [40]: 79),
* Ikan (QS An-Nahl [16]: 14),
* Buah-buahan (QS Al-Mu’minun [23]: 19; Al-An’am [6]: 141),
* Lemak dan minyak (QS Al-Mu’minun [23]: 21),
* Madu (QS An-Nahl [16]: 69), dan lain-lain.

Penyebutan berbagai macam jenis makanan ini menuntut kearifan dalam memilih dan mengatur keseimbangannya.

Baca juga: Makanan Halal Menurut Al-Quran: Makanan Nabati dan Hewani

b. Proporsional

Proporsional berarti sesuai dengan kebutuhan pemakannya, tidak berlebihan, dan tidak kekurangan. Karena itu, Al-Qur’an menuntut orang tua—khususnya para ibu—agar menyusui anaknya dengan ASI (air susu ibu), serta menetapkan masa penyusuan yang ideal:

"Para ibu (hendaklah) menyusukan anaknya dua tahun sempurna, bagi siapa yang hendak menyempurnakan penyusuan." (QS Al-Baqarah [2]: 233).

Dalam konteks ini, dapat pula dipahami dan dikembangkan makna firman Allah:

"Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengharamkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan jangan pula melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas." (QS Al-Maidah [5]: 87).

Baca juga: Quraish Shihab: Perhatian Al-Qur'an terhadap Makanan Sangat Besar

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Senin 20 April 2026
Imsak
04:27
Shubuh
04:37
Dhuhur
11:55
Ashar
15:14
Maghrib
17:53
Isya
19:03
Lihat Selengkapnya
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)