LANGIT7.ID-Tak ada manusia yang sepenuhnya bersih. Juga tak ada yang sepenuhnya hitam. Demikian potongan pesan moral yang coba dirangkai
Syaikh Yusuf Al-Qardhawi dalam karya klasiknya,
Fatawa Qardhawi.
Iman, kata dia, tumbuh secara bertahap. Demikian pula kemunafikan. Semuanya berjalan perlahan, seperti kabut yang menebal atau sinar yang merembes perlahan ke dalam relung jiwa.
“Tiada orang Mukmin yang murni atau sempurna,” tulis Al-Qardhawi. “Setiap orang mempunyai kelemahan… dan sifat buruk yang sukar dihilangkan.”
Dalam dunia yang makin terpolarisasi, ketika setiap orang buru-buru mengadili: apakah seseorang Mukmin sejati atau munafik sejati, pandangan ini terasa segar dan menyejukkan. Ia mengingatkan bahwa kehidupan iman adalah spektrum, bukan dikotomi. Ia terdiri dari gradasi, bukan vonis.
“Pandangan orang jarang ditujukan pada hal-hal yang berada di pertengahan antara dua hal,” tulisnya. Hitam dan putih lebih mudah dipahami. Tapi siapa yang bisa membaca kelabu?
Dalam Shahih Bukhari, Al-Qardhawi mengutip sabda
Nabi Muhammad ﷺ kepada sahabat Abu Dzar al-Ghifari, “Engkau masih memiliki sifat jahiliyah.”
Baca juga: Tali Cinta Sang Pencipta: Tafsir Al-Ghazali atas Penyakit, Ilmu, dan Iman Abu Dzar bukan orang sembarangan. Ia termasuk sahabat awal yang memeluk Islam dan dikenal zuhud. Tapi Nabi tidak menutup mata bahwa dalam dirinya masih tersisa sisa-sisa kebiasaan lama. Bahkan para sahabat pun bukan malaikat.
Ali bin Abi Thalib, seperti dikutip dari riwayat Ibn Mubarak, menggambarkan hati orang beriman yang perlahan menjadi putih bersih, seiring pertumbuhan imannya. Sebaliknya, kemunafikan menciptakan bercak hitam yang makin menebal. Tapi semuanya bertahap, dan tak sekaligus.
“Jika dibuka hati seorang Mukmin, maka tampak putih sekali. Jika dibuka hati orang kafir, maka tampak hitam sekali,” kata Ali. “Tapi awalnya sedikit-sedikit.”
Konsep ini membantah ekstremisme penghakiman yang kerap melanda komunitas Muslim. Tidak setiap dosa membuat seseorang murtad. Tidak setiap kelemahan adalah kemunafikan. Bahkan seseorang yang tak pernah berjihad, jika tak tergerak hatinya untuk itu, hanya dianggap “sedikit memiliki nifak”. Bukan serta merta kafir, seperti disebutkan dalam hadis yang juga dikutip Al-Qardhawi.
Baca juga: Orang-Orang Kafir setelah Mati Akan Disiksa 99 Ular, Begini Penjelasan Imam Al-GhazaliDi sinilah Islam menampakkan wajahnya yang manusiawi: agama yang mengakui keterbatasan, tapi terus memberi peluang perbaikan. Jalan menuju keimanan adalah perjalanan, bukan garis finish.
Maka setiap kalbu hari ini adalah perpaduan putih dan hitam. Pertanyaannya: ke mana warnanya terus bergerak?
(mif)