LANGIT7.ID-Dalam salah satu sabdanya yang populer dan sahih,
Rasulullah ﷺ menetapkan sebuah garis terang dalam sejarah umat Islam. Ia bersabda:
خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ“
Sebaik-baik manusia adalah masaku, lalu generasi sesudahnya, lalu generasi sesudahnya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Tiga kurun itu—masa Nabi, sahabat, tabi'in dan tabi'ut tabi'in—oleh Nabi ﷺ bukan hanya disebut “terbaik”, tetapi dijadikan tolak ukur untuk mengukur semua masa sesudahnya. Mereka adalah bintang penuntun, dan ketika bintang itu padam, gelap mulai turun.
Nabi ﷺ sendiri pernah menggambarkan dalam sabdanya:
النُّجُومُ أَمَنَةٌ لِلسَّمَاءِ، فَإِذَا ذَهَبَتِ النُّجُومُ أَتَى السَّمَاءَ مَا تُوعَدُ، وَأَنَا أَمَنَةٌ لِأَصْحَابِي، فَإِذَا ذَهَبْتُ أَتَى أَصْحَابِي مَا يُوعَدُونَ، وَأَصْحَابِي أَمَنَةٌ لِأُمَّتِي، فَإِذَا ذَهَبَ أَصْحَابِي أَتَى أُمَّتِي مَا يُوعَدُونَBintang-bintang adalah penjaga langit. Jika ia lenyap, datanglah ancaman. Aku adalah penjaga bagi para sahabatku. Jika aku wafat, datanglah ujian bagi mereka. Dan para sahabatku adalah penjaga umatku. Jika mereka tiada, datanglah cobaan atas umatku.
Baca juga: Apa yang Dimaksud dengan Fikih Tabiin? Berikut Ini Penjelasannya Ustaz Muhammad Hidayatulloh dari Yayasan Ma’had Islami (YAMAIS) Sidoarjo, dalam pengajian daring di laman PWM Jawa Timur menjelaskan, sabda-sabda tersebut adalah peta perjalanan umat yang semakin menjauh dari mata air kenabian. “Setelah tiga kurun itu, kita hidup dalam zaman kabut, zaman fitnah, zaman di mana sumpah mendahului kesaksian dan kesaksian mendahului sumpah,” ujarnya.
Makna
qarn dalam hadis dimaknai sebagai satu abad, atau secara sosial, sebagai satu generasi. Rasulullah ﷺ meletakkan generasinya sebagai model ideal: generasi dengan keimanan murni, amal yang teruji, dan sanad yang bersambung langsung ke wahyu.
Tapi apa yang terjadi setelah itu?
ثُمَّ يَجِيءُ أَقْوَامٌ تَسْبِقُ شَهَادَةُ أَحَدِهِمْ يَمِينَهُ، وَيَمِينُهُ شَهَادَتَهُ(Kemudian datang generasi yang kesaksiannya mendahului sumpahnya dan sumpahnya mendahului kesaksiannya.)
Kita menyaksikan sendiri gejalanya kini. Di ruang sidang, di media sosial, di dunia pendidikan. Fakta bisa dikalahkan opini. Amanah bisa dikalahkan popularitas. Bahkan agama diperdagangkan demi ambisi politik.
Baca juga: Kisah Tabiin Amir bin Syurahabil: Kaisar Romawi Saja Memuji Kecerdasannya Karena itulah, warisan keilmuan dari generasi awal menjadi penting untuk dihidupkan kembali. Bukan sekadar nostalgia, tetapi demi menjaga kesinambungan ruh syariah. Kitab-kitab ulama seperti Imam Malik, Abu Hanifah, asy-Syafi’i, dan Ahmad bin Hanbal adalah jembatan yang masih bisa dilalui, meski jalan di sekitarnya semakin terjal.
Ayat Al-Qur’an memperingatkan kita tentang nasib generasi yang mengabaikan pesan Tuhan:
أَلَمۡ يَرَوۡاْ كَمۡ أَهۡلَكۡنَا مِن قَبۡلِهِم مِّن قَرۡنٖ... فَأَهۡلَكۡنَٰهُم بِذُنُوبِهِمۡ وَأَنشَأۡنَا مِنۢ بَعۡدِهِمۡ قَرۡنًا ءَاخَرِينَApakah mereka tidak memperhatikan berapa banyak generasi yang telah Kami binasakan sebelum mereka… lalu Kami binasakan mereka karena dosa-dosa mereka dan Kami ciptakan generasi lain setelah mereka. (QS al-An’am: 6)
Kita adalah bagian dari generasi “lain itu”. Kita tidak hidup bersama Nabi, tapi kita masih bisa menapaki jejaknya. Kita tidak menyaksikan Perang Badar, tetapi kita bisa mengambil kekuatannya: keyakinan, kejujuran, dan keberanian di atas iman.
“Meneladani Rasulullah ﷺ dan para sahabat adalah satu-satunya cahaya yang tersisa,” ujar Ustaz Hidayatulloh. “Jika tidak, kita hanya akan berjalan dalam gelap, membanggakan nama Islam tanpa tahu arah kiblatnya.”
Baca juga: Kisah Tabiin Abu Al-Aliyah: Menolak Dibius saat Kakinya Diamputasi, Pilih Dibacakan Al-Quran(mif)