LANGIT7.ID-Seorang
darwis muda, penuh semangat dan haus akan kebijaksanaan, datang kepada
Nasrudin Hoja. “Wahai Mullah,” katanya, “aku ingin belajar tentang kebijaksanaan hidup darimu.”
Nasrudin mengangguk dengan wibawa seorang guru besar. “Tentu bisa,” ujarnya, “tapi dengan satu syarat: kebijaksanaan bukanlah teori, ia hanya bisa dipelajari lewat praktik.”
Darwis itu setuju, dan sejak hari itu ia mengikuti ke mana pun Nasrudin pergi, mengamati setiap tindak-tanduknya seperti murid yang mencatat wahyu.
Malam itu, udara dingin menyergap. Nasrudin menggosok dua batang kayu di dekat perapian kecil. Percikan muncul, lalu nyala api kecil mulai tampak. Ia membungkuk, meniupnya pelan-pelan agar api membesar.
“Mengapa api itu kau tiup?” tanya si darwis penuh ingin tahu.
“Supaya menjadi lebih panas dan lebih besar,” jawab Nasrudin sambil terus meniup.
Baca juga: Kebenaran, Roti, dan Mimpi: Kisah Nasrudin dan Para Pencari Setelah api cukup besar, Nasrudin menggantungkan panci di atasnya dan mulai memasak sop. Tak lama, aroma harum memenuhi udara. Ketika sop matang, ia menuangkannya ke dalam dua mangkok.
Ia duduk, meniup-niup sopnya sebelum menyendok.
“Sekarang sop itu kenapa kau tiup?” tanya si darwis lagi.
“Supaya jadi lebih dingin dan enak dimakan,” jawab Nasrudin tenang.
Darwis itu termenung sejenak, lalu berdiri.
“Wahai Mullah,” katanya dengan nada kecewa, “aku rasa aku tidak jadi belajar darimu. Tadi kau meniup api agar panas, sekarang meniup sop agar dingin. Kau tidak konsisten dalam pengetahuanmu!”
Nasrudin memandang darwis itu lama, lalu tersenyum simpul. “Ah, konsistensi,” gumamnya pelan, “kadang ia lebih membingungkan daripada kebijaksanaan itu sendiri.”
Baca juga: Kisah Humor Sufi Nasrudin Hoja: Laporan di Atas Roti Hikmah Kisah:Tidak setiap hal di dunia bisa diukur dengan logika tunggal atau prinsip yang kaku. Dalam hidup, apa yang bijak di satu keadaan bisa menjadi bodoh di keadaan lain. Orang bijak bukan yang selalu konsisten dalam bentuk, tapi yang tepat dalam konteks.
(mif)