LANGIT7.ID-Sebuah keluarga kecil yang Allah sebut setara dengan keluarga para nabi, bahkan diabadikan sebagai nama sebuah surat dalam Alquran. Sebuah pelajaran tentang iman, kesucian, dan keteguhan di tengah badai fitnah.
Di Baitul Maqdis, di sebuah rumah sederhana di kalangan Bani Israil, hidup sebuah keluarga kecil yang jarang dilihat orang sebagai istimewa. Imran bukanlah raja seperti Daud, bukan pula nabi setenar Musa. Ia hanya seorang lelaki saleh, dikenal baik di komunitasnya, menikah dengan perempuan salehah bernama Hannah binti Faquda.
Namun keluarga sederhana inilah yang kelak Allah sebut bersama keluarga para nabi besar, diabadikan namanya sebagai judul surat ketiga dalam Alquran: **Ali Imran, keluarga Imran.**
"
Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim, dan keluarga Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing)." (QS Ali Imran: 33)
Bukan kebesaran istana yang membuat mereka mulia, bukan pula jumlah keturunan yang melimpah. Justru keluarga ini kecil, hanya empat anggota: Imran, Hannah, putri sulung Asy-ya’, dan putri bungsu Maryam. Tetapi Allah menempatkan mereka di barisan yang sama dengan Adam, Nuh, dan Ibrahim — para bapak umat manusia.
Bagaimana keluarga kecil ini mencapai martabat sebesar itu?
Baca juga: Kisah Humor Nasrudin Hoja: Jubah-Jubah yang Diselundupkan Lebih Besar dari Keturunan Nabi?Di tengah sejarah panjang Bani Israil, nama Imran nyaris tak muncul dalam catatan politik. Ia bukan nabi, meski dari garis keturunan Nabi Daud. Tetapi di dalam keluarganya, iman dan kesucian terjaga erat, ketika banyak kaumnya sudah karam dalam kemaksiatan.
Sebagai perbandingan, bahkan keluarga Nabi Nuh sempat gagal: putranya menolak beriman hingga akhirnya tenggelam bersama kaum kafir. Allah menegur Nuh dengan keras:
"
Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu, sesungguhnya ia adalah perbuatan yang tidak baik …" (QS Hud: 46)
Berbeda dengan keluarga Nuh yang terpecah oleh kekafiran anaknya, keluarga Imran justru menjadi contoh: semua anggotanya bertakwa dan tetap di jalan Allah. Mereka bukan hanya menjaga diri, tetapi juga melahirkan keturunan yang akan menjadi nabi besar dan tanda kekuasaan Allah.
Baca juga: Kisah Humor Sufi Nasrudin Hoja: Membaca Jalan Pikiran yang Terbalik Nazar Seorang IbuPuncak kisah keluarga ini bermula pada satu peristiwa kecil: sebuah doa di kamar Hannah, ketika ia sedang mengandung.
Hannah, yang sudah lama mendambakan anak, merasa doanya akhirnya dikabulkan. Dalam sukacita, ia bernazar: jika anak itu lahir, ia akan menyerahkannya sepenuhnya untuk berkhidmat di Baitul Maqdis, melayani rumah ibadah suci Bani Israil.
"
Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada-Mu anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Terimalah nazarku ini. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS Ali Imran: 35)
Tapi yang lahir ternyata bukan anak laki-laki sebagaimana ia harapkan, melainkan bayi perempuan — Maryam. Di tengah tradisi yang memandang rendah peran perempuan dalam pelayanan ibadah, Hannah tetap menepati nazarnya. Maryam kecil diasuh dan dilatih di Baitul Maqdis oleh pamannya sendiri, Nabi Zakariya.
Tak ada yang menyangka bahwa dari rahim Maryam kelak lahir mukjizat besar: seorang nabi tanpa ayah.
Baca juga: Kisah Humor Sufi Nasrudin Hoja: Di Bawah Pohon Arbei Putri yang DimuliakanMaryam tumbuh menjadi perempuan yang suci, ahli ibadah, selalu berada di mihrabnya. Para malaikat datang menyapanya, bahkan memberinya kabar gembira tentang kelahiran seorang anak laki-laki — bukan dari hubungan dengan laki-laki mana pun, melainkan sebagai tanda kekuasaan Allah.
Rasulullah ﷺ bersabda: "Lelaki yang sempurna jumlahnya banyak, tetapi tidak ada wanita yang sempurna selain Maryam binti Imran dan Asiyah, istri Firaun." (HR Bukhari dan Muslim)
Namun hidup Maryam tidak mudah. Kaumnya menuduhnya berzina ketika ia pulang membawa bayi Isa. Fitnah itu begitu besar hingga disebut dalam Alquran:
"
Dan karena kekafiran mereka (terhadap Isa) dan tuduhan mereka terhadap Maryam dengan kedustaan besar (zina)." (QS An-Nisa: 156)
Allah sendiri yang membersihkan namanya, menegaskan bahwa ia tetap menjaga kehormatan dan Nabi Isa adalah utusan Allah — bukan anak zina, bukan pula anak Tuhan.
Baca juga: Peristiwa Muharram: Tafsir Spiritual atas Kisah Nabi Idris Cucu-Cucu yang Jadi NabiKeluarga kecil ini melahirkan dua nabi besar. Dari putri sulung Asy-ya’ yang menikah dengan Nabi Zakariya lahirlah Nabi Yahya — seorang pemuda yang lembut, ahli ibadah, sudah diberi hikmah sejak kecil:
"
Sesungguhnya Allah menggembirakanmu dengan kelahiran seorang putramu Yahya, yang membenarkan kalimat dari Allah, menjadi ikutan, menahan diri, dan seorang Nabi termasuk orang-orang saleh." (QS Ali Imran: 39)
Sementara dari Maryam lahirlah Nabi Isa, salah satu dari lima rasul ulul azmi, yang kelahirannya tanpa ayah menggetarkan dunia dan menjadi tanda bagi semesta:
"
Dan (ingatlah kisah) Maryam yang memelihara kehormatannya, lalu Kami tiupkan ke dalam tubuhnya ruh dari Kami dan Kami jadikan dia dan anaknya tanda bagi semesta alam." (QS Al-Anbiya: 91)
Dua nabi dalam satu keluarga kecil — sebuah pencapaian yang bahkan keluarga nabi besar lain belum tentu miliki.
Baca juga: Peristiwa Muharram: Kisah Nabi Daud di Tengah Bayang-Bayang Kekuasaan Menjaga Iman, Menjaga MartabatDalam masyarakat yang mulai kehilangan arah, keluarga Imran menjadi seperti lilin di kegelapan. Mereka tidak punya pasukan, tidak punya istana, tidak punya pengaruh politik besar. Tapi mereka punya yang lebih penting: iman yang kokoh dan martabat yang terjaga.
Bukan jumlah yang membuat mereka besar. Bukan harta yang membuat mereka mulia. Melainkan kesucian, ketulusan, dan komitmen mereka kepada Allah.
Ali Imran mengajarkan bahwa keluarga bukan hanya tentang darah, tapi juga tentang iman. Bahkan keluarga nabi pun bisa gagal jika kehilangan iman — seperti putra Nuh yang tenggelam bersama kaum kafir. Sebaliknya, keluarga kecil seperti Imran bisa naik derajat, jika menjaga iman hingga akhir.
Baca juga: Asal-Usul Kota Makkah dan Kisah Nabi Ibrahim Nama yang DiabadikanKetika nama-nama besar para penguasa Bani Israil hilang ditelan waktu, nama keluarga ini justru diabadikan dalam kitab suci. Surat Ali Imran bukan sekadar kisah tentang Maryam atau Isa, melainkan tentang keluarga biasa yang mencapai derajat luar biasa — dengan iman.
Bagi keluarga Muslim hari ini, kisah Ali Imran seperti cermin: bahwa yang membuat keluarga kita mulia bukan gelar, bukan jumlah anak, bukan pangkat. Tapi sejauh mana kita menjaga iman, kehormatan, dan ketaatan pada Allah.
Di rumah-rumah sederhana yang mungkin tak pernah tercatat dalam sejarah manusia, siapa tahu ada satu keluarga yang di mata Allah sudah seperti keluarga Imran — kecil, tapi martabatnya besar.
(mif)