LANGIT7.ID-, Jakarta - - Pemerintahan Presiden RI
Prabowo Subianto, melalui Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), bekerjasama dengan
Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyediakan
rumah subsidi untuk dai hingga guru ngaji.
Program Rumah Bersubsidi Bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) ini juga menyasar kelompok rentan lain seperti buruh, nelayan hingga tenaga kerja informal lainnya.
Baca juga: Renovasi Rumah Subsidi, Pakar Interior: Ada Batasan yang Harus Dipatuhi"Kini saatnya guru ngaji juga bisa memiliki rumah subsidi pemerintah," ujar Menteri PKP
Maruarar Sirait di Tasyakur Milad 50 Tahun Majelis Ulama Indonesia di Jakarta pada Sabtu (26/7/2025) lalu.
Maruarar mengatakan, inisiatif ini merupakan dukungan pemerintah bagi para tokoh spiritual,
guru ngaji, dan
dai atas kontribusi dalam membangun bangsa,
"Sejak didirikan pada 26 Juli 1975 MUI telah menjadi pilar moral, kompas spiritual dan rujukan, serta juga memberikan nasihat kepada pemerintah bangsa dan negara ini seperti yang tadi Pak Kyai Maruf Amin sampaikan," kata Maruarar Sirait.
Seorang guru ngaji dari Yayasan Insan Madani Bogor, Anwar, mengaku bahagia menempati rumah subsidi tersebut bersama keluarganya, karena airnya bersih, pengelolaan sampahnya baik, dan keamanan lingkungannya terjaga.
Anwar menyebutkan sebelumnya dia mengontrak di Bekasi dengan harga hampir Rp1 juta. Adapun rumah subsidi, kata dia, dicicil sebesar Rp1,1 juta per bulan.
Baca juga: Gandeng Goto Bangun Rumah Subsidi, DPR Minta Pemerintah Transparan"Saya senang daripada ngontrak rumah. Dulu bayar kontarakan Rp 1 juta per bulan sedangkan KPR FLPP saya bayar angsuran Rp 1,1 juta tapi sudah bisa punya rumah sendiri. Apalagi bangunannya bagus, airnya bagus, lingkungannya juga bagus," katanya.
Hal yang sama diungkapkan Mafaza Adinda Rosa, guru Bahasa Arab di sebuah madrasah di Depok, yang mengambil rumah subsidi di Bekasi.
Dinda menyebutkan selain rumahnya yang bagus, warga di lingkungan perumahan subsidi itu juga mudah bergaul, sehingga dia senang tinggal di sana.
Sebagai informasi, program rumah ini memiliki kuota mencapai 350 ribu unit, naik signifikan dari sebelumnya sekitar 200 ribu unit.
Kuota tersebut secara khusus dialokasikan kepada kelompok prioritas, 20 ribu untuk petani, 20 ribu untuk nelayan, 20 ribu untuk buruh, 20 ribu untuk tenaga migran, 20 ribu untuk guru termasuk guru ngaji, serta ribuan lainnya untuk bidan, perawat, sopir, hingga wartawan.
Hingga saat ini, tercatat sebanyak 1.975 guru ngaji dari seluruh Indonesia telah melakukan akad KPR subsidi melalui skema Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP).
Baca juga: Yang Baru Dari Presiden Prabowo: Program Rumah Subsidi Untuk Dai, Guru Ngaji dan Aktivis di Bawah MUI(est)