Langit7, Cianjur - Jamur tiram merupakan salah satu komoditas yang cukup diminati dan memiliki cakupan pasar menjanjikan. Dengan prospek bisnis yang menjanjikan itu, jamur tiram juga perlu didukung dengan teknik budi daya yang maksimal.
Seperti yang dilakukan di Pusat Pengembangan dan Pelatihan Jamur Tiram (P3JT), Ciloto, Cianjur, Jawa Barat. Berada di bawah Yayasan Daarul Quran (Daqu) Agrotechno grup, selain berfokus pada pendidikan agama di pondok pesantren, Daqu Agrtechno juga membidangi sektor pertanian dan peternakan untuk memberdayakan masyarakat sekitar.
![Berbagi Manfaat Budi Daya Jamur Tiram di Daarul Quran Agrotechno]()
PJ Daqu Bisnis Nusantara Divisi Pertanian, Ainur Sudirman mengatakan, selain memberikan pelatihan, P3JT Ciloto juga membudi dayakan jamur tiram. Mulai dari hulu hingga hilirnya, pihak P3JT Ciloto telah memiliki fasilitas untuk pembibitan hingga panen.
“Di sini sebenarnya kita tidak hanya jamur tiram, tapi juga ada budi daya sayur. Sampai dengan hari ini, budi daya sayur kami organik, karena kita memanfaatkan limbah dari jamur tiram itu sendiri,” ujarnya.
Baca juga: Berinovasi Ciptakan Produk Kerupuk Ikan Lele, Hasilkan Omzet Rp5 Juta SebulanSebenarnya, kata dia, tidak sulit untuk menjual hasil panen jamur tiram. Namun, kebanyakan pebudi daya jamur tiram kesulitan untuk memanfaatkan limbah hasil jamur tiram.
P3JT sendiri memanfaatkan sistem zero waste, sehingga dari produksi awal sampai pembuangan limbahnya, secara keseluruhan dapat dimanfaatkan.
“Dengan adanya P3JT Ciloto, kita bisa memasok bahan makanan yang bermanfaat untuk santri yang ada di Daqu ini. Karena guru kami, Kiai Yusuf berkonsentrasi untuk mengedepankan kesehatan para santri,” katanya.
Untuk itu, lanjut dia, pihaknya berupaya untuk membuat pertanian organik. Di mana makanan sehat dihadirkan untuk para santri penghafal Al-Quran di pondok pesantrennya.
![Berbagi Manfaat Budi Daya Jamur Tiram di Daarul Quran Agrotechno]()
Di P3JT ini memiliki kapasistas hingga 25 ribu kumbung jamur tiram yang dapat dipanen secara harian. Dari situ, ia mengaku dapat memanen jamur tiram sebanyak dua kuintal per harinya.
“Produksi per bulan rata-rata bisa hingga tiga ton. Artinya, secara serapan kita punya potensi besar, karena selain memasok pangan ke santri, kita juga bisa serapkan ini ke pasar untuk konsumsi masyarakat luas,” ujarnya.
Baca juga: Mantan Supir Grab Sukses Ternak Entok di Tengah PandemiWalaupun terbilang bukan barang mewah, tapi jamur tiram sendiri dipilih karena memiliki pangsa pasar yang cukup luas. Selain itu, permintaan akan komoditas jamur tiram di pasar selama ini juga relatif stabil dan konsisten.
“Jamur tiram ini memiliki harga yang stabil antara Rp10-11 ribu per kilogramnya untuk petani. Sementara di pasar bisa mencapai Rp15-16 ribu per kilogram,” ujarnya.
Prospek bisnis itulah yang menjadikan komoditas jamur tiram dipilih untuk dibudi dayakan di Daqu Agrotechno ini. Selain itu, dari budi daya jamur tiram ini pula, Daqu Agrotechno mampu menyerap banyak tenaga kerja dari warga sekitar.
Ia menambahkan, para kiai di Daqu Agrotechno seringkali mengingatkan untuk tidak hanya berfokus pada profit usaha. Melainkan bagaimana bisa menebar banyak manfaat ke warga sekitar sebagai bentuk sedekah.
(zul)