LANGIT7.ID-, Iran -
Iran telah memasuki hari ke-10 (hingga Minggu, 18 Januari) tanpa internet. Ini menjadi momen
pemadaman internet paling ekstrem dalam sejarah, dengan 92 juta warga terputus dari semua layanan internet dan bahkan gangguan pada telepon dan pesan teks.
Pemerintah Iran memutus layanan pada 8 Januari, tampaknya untuk membungkam perbedaan pendapat dan mencegah pengawasan internasional terhadap tindakan keras pemerintah terhadap para demonstran.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan, internet diputus sebagai tanggapan terhadap apa yang ia gambarkan sebagai "operasi teroris" yang diarahkan dari luar.
Pemerintah belum mengatakan kapan layanan internet akan kembali, tetapi laporan baru menunjukkan bahwa, di balik layar, pihak berwenang mungkin sedang membuat rencana untuk membatasinya secara permanen.
Pada 15 Januari, situs berita IranWire melaporkan bahwa juru bicara pemerintah Fatemeh Mohajerani mengatakan kepada wartawan bahwa akses web internasional tidak akan tersedia setidaknya hingga Tahun Baru Iran, yang jatuh pada akhir Maret.
Pengamat kebebasan internet di FilterWatch meyakini pemerintah sedang tergesa-gesa menerapkan sistem dan aturan baru untuk memutus akses Iran dari internet internasional.
"Tidak ada harapan untuk membuka kembali akses internet internasional, dan bahkan setelahnya, akses pengguna ke internet internasional tidak akan pernah kembali ke bentuk sebelumnya," kata FilterWatch, mengutip sumber pemerintah yang tidak disebutkan namanya, dilansir dari BBC, Senin (19/1/2026).
Baca juga: Pemimpin Tertinggi Iran Akui Ribuan Orang Tewas dalam Aksi Protes dan Menyebut AS PenyebabnyaMeskipun BBC tidak dapat memverifikasi secara independen laporan ini atau waktu penerapannya, jurnalis yang berbicara kepada BBC Persia juga mengatakan bahwa mereka diberitahu bahwa akses internet tidak akan dipulihkan dalam waktu dekat.
Saat ini Iran telah memegang kendali ketat atas internet selama bertahun-tahun, dengan sebagian besar aplikasi dan platform media sosial Barat diblokir, serta situs web berita eksternal seperti BBC News.
Namun, banyak orang berhasil mengakses aplikasi populer seperti Instagram menggunakan Jaringan Pribadi Virtual (VPN).
Para pegiat kebebasan internet di Access Now mengatakan, Iran secara konsisten menggunakan pemadaman sebagai cara untuk menutupi kekerasan massal dan penindakan brutal terhadap para demonstran, seperti yang terlihat selama pemadaman internet nasional selama protes November 2019 dan September 2022.
Kejadian ini bukan yang pertama, sebelumnya pemadaman internet juga diberlakukan selama konflik Iran-Israel pada Juni 2025. Namun tidak berlangsung lebih lama dibandingkan pemadaman saat ini.
Baca juga: Dianggap Berbahaya, Kini Giliran Inggris Bersiap Blokir Grok AIDalam pernyataan publik, organisasi amal Access Now mengatakan bahwa pemulihan penuh akses internet sangat penting.
"Membatasi akses ke layanan penting ini tidak hanya membahayakan nyawa tetapi juga mendorong pihak berwenang untuk menyembunyikan dan menghindari pertanggungjawaban atas pelanggaran hak asasi manusia," katanya.
Sudah ada laporan bahwa mata pencaharian di Iran sangat terpengaruh oleh pemadaman internet, terutama e-commerce.
Pada 18 Januari, Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia (HRANA) memperkirakan bahwa lebih dari 3.300 kematian demonstran telah tercatat, dengan lebih dari 4.380 kasus sedang ditinjau. HRANA juga melaporkan bahwa jumlah penangkapan telah mencapai 24.266 di 187 kota. (*/lsi/bbc)
(lsi)