LANGIT7.ID-, Jakarta - -
Bulan Ramadhan identik dengan pengeluaran rumah tangga yang meningkat akibat pola konsumsi yang tak terkendali.
Menanggapi fenomena ini, Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI),
KH Anwar Iskandar, mengajak
umat Islam untuk lebih bijak dan menghindari
gaya hidup konsumtif selama bulan suci Ramadhan.
Baca juga: Jangan Boros di Akhir Tahun, Simak 4 Tips Berbelanja dari UlamaKiai Anwar menegaskan bahwa Islam pada dasarnya tidak melarang umatnya untuk menikmati fasilitas maupun kenikmatan hidup.
Agama memberikan ruang bagi setiap manusia untuk makan, minum, dan merasakan kebaikan di dunia sebagai bentuk syukur atas karunia Allah Ta'ala. Namun, kebebasan tersebut tetap memiliki batasan syariat yang harus dijaga.
Seperti disebutkan dalam
surah Al-A'raf ayat 31:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ
Artinya :
“Wahai orang-orang yang beriman, makan dan minumlah kamu, tetapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.”“Agama membolehkan kita menikmati kehidupan ini sebagai bagian dari hasanah (kebaikan) di dunia. Tetapi jangan lupa, yang kita kejar juga adalah hasanah di akhirat,” ujar Kiai Anwar seperti dikutip dari laman resmi MUI, Jumat (27/2/2026).
Baca juga: Islam Larang Hidup Boros, Atasi dengan Rencana Keuangan yang BaikIa pun mengajak umat untuk senantiasa mengamalkan
doa Sapujagat agar mendapatkan keseimbangan kebahagiaan di dunia maupun di akhirat.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Lebih lanjut, Kiai Anwar menjelaskan bahwa perilaku berlebihan atau israf tidak hanya berdampak buruk pada kondisi finansial atau spiritual diri sendiri, tetapi juga memiliki dampak sosial.
Di tengah masyarakat yang majemuk dengan tingkat ekonomi yang beragam, pamer kemewahan atau konsumsi yang melampaui batas dapat melukai perasaan orang lain.
“Hidup bermasyarakat itu harus menjaga perasaan orang lain. Jangan sampai sikap berlebihan justru menimbulkan kecemburuan atau ketidaknyamanan,” tegasnya.
Kiai Anwar menekankan akan pentingnya prinsip moderasi (wasthiyah) dan keseimbangan. Islam mengajarkan umatnya untuk berada di jalan tengah, tidak kikir, namun juga tidak boros.
Baca juga: Gaya Hidup Islami, Hindari Perilaku BorosMenurutnya segala sesuatu yang melampaui batas, baik itu dalam urusan konsumsi maupun penggunaan fasilitas dunia, sangat tidak disukai oleh Allah SWT. Prinsip utamanya adalah kepantasan.
“Boleh menikmati, tetapi tetap dalam koridor syariat dan kepantasan,” pungkas Kiai Anwar.
(est)