LANGIT7.ID, Jakarta - 12 Rabiul Awal dalam penanggalan Hijriyah adalah tanggal yang sangat bersejarah bagi umat Islam. Tanggal itu mencatat kelahiran Nabi Muhammad SAW. Umat Islam di berbagai belahan dunia bersukacita dengan kelahiran beliau.
Maka tak heran, jika sejak abad keempat Hijriah muncul satu tradisi untuk mengenang perjuangan beliau, yakni Maulid Nabi Muhammad. Maulid berisi shalawatan dan berbagai ibadah lainnya. Namun hal terpenting dalam perayaan itu yakni menumbuhkan rasa cinta dan kerinduan kepada baginda nabi.
Baca Juga: Pandangan Para Ulama Mengenai Perayaan Maulid Nabi
Ustadz Adi Hidayat (UAH) menjelaskan, maulid nabi adalah suatu momentum yang mengajak umat Islam mengingat baginda nabi. Upaya itu dilakukan dalam bentuk taklim yang membahas sejarah dan kepribadian Rasulullah, mengulas ajaran beliau, memperbanyak shalawat, dan ibadah lain yang sesuai tuntunan Al-Qur’an dan Sunnah.
“Jika yang dimaksudkan adalah nilai-nilai ini, maka sejak dulu sudah ada,” kata UAH kanal youtube Akhyar TV, dikutip Jumat (15/10/2021).
Dia menjelaskan, jika memahami sesuatu dengan cara langsung membandingkan dengan kehidupan di zaman baginda nabi, maka akan banyak dijumpai bid’ah. Cara menyimpulkan hukum bukan dengan perbandingan langsung antara kehidupan saat ini dengan kehidupan pada masa Rasulullah.
Namun cara menyimpulkan hukum yakni dengan melihat turunan dari penjelasan dalil dan pemahaman ulama yang ada. Maulid nabi dianggap sebagai bentuk mengingat baginda nabi dan ajaran yang telah diberikan kepada umat Islam.
Baca Juga: Penjelasan Ustadz Abdul Somad Tentang Hukum Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW
“Maka hal tersebut termasuk sebagai bentuk hukum terapan dalam kehidupan kita, dan tidak bisa disebut dengan bid’ah,” ucapnya.
UAH meminta masyarakat untuk tidak langsung menilai maulid nabi sebagai bid’ah. Momentum maulid nabi diisi dengan taklim yang mengajak umat mengingat perjuangan Rasulullah dan ajaran syariat Islam. Sebab, cara itu akan menjadi bagian dari mengamalkan petunjuk-petunjuk ayat dan bukan mengkhususkan pada waktu tertentu. Ini karena taklim adalah kegiatan yang selalu diadakan.
Pengadaan taklim mengenai Nabi Muhammad SAW pada waktu maulid diperkenankan karena momentum itu adalah salah satu momen ketika banyak umat Islam mengingat beliau.
(jqf)