LANGIT7.ID-, Pakistan - Perundingan antara
Iran dan
Amerika Serikat (AS) menemui jalan buntu alias gagal mencapai kesepakatan setelah pembicaraan 21 jam dilakukan di Islamabad,
Pakistan yang dimulai sejak Sabtu, 11 April.
Wakil Presiden AS JD Vance yang diutus sebagai kepala delegasi AS pada pertemuan tersebut mengungkapkan bahwa Iran memilih untuk tidak menerima persyaratan gencatan senjata AS. Sementara Iran mengatakan tidak mengharapkan kesepakatan dalam pertemuan pertama.
"Kabar buruknya adalah kita belum mencapai kesepakatan, dan saya pikir itu kabar buruk bagi Iran jauh lebih besar daripada kabar buruk bagi Amerika Serikat," kata Vance kepada wartawan pada hari Minggu, sesaat sebelum ia meninggalkan Islamabad setelah pertemuan tingkat tertinggi antara Washington dan Teheran sejak Revolusi Islam 1979.
Ia menambahkan, Iran memilih untuk tidak menerima persyaratan AS. Vance pun menilai AS perlu melihat komitmen mendasar dari Teheran untuk tidak mengembangkan senjata nuklir.
"Kita perlu melihat komitmen tegas bahwa mereka tidak akan mencari senjata nuklir dan mereka tidak akan mencari alat yang memungkinkan mereka untuk dengan cepat mencapai senjata nuklir."
Baca juga: Iran Setuju Gencatan Senjata 2 Pekan, Sekaligus Klaim Kemenangan Atas AmerikaIran Berharap Ada Pertemuan LainKementerian Luar Negeri Iran mengatakan bahwa tidak ada yang mengharapkan pembicaraan dengan AS mencapai kesepakatan dalam satu hari.
"Tentu saja, sejak awal, kita seharusnya tidak mengharapkan tercapainya kesepakatan dalam satu sesi saja. Tidak ada yang mengharapkan hal itu," kata juru bicara kementerian Esmaeil Baghaei, menurut stasiun televisi pemerintah IRIB.
Ia mengatakan Teheran yakin bahwa kontak antara Iran dan Pakistan serta negara lainnya di kawasan ini akan terus berlanjut.
Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf, pemimpin delegasi Teheran di Islamabad, mengatakan bahwa delegasi tersebut mengangkat inisiatif yang berwawasan ke depan, tetapi AS gagal mendapatkan kepercayaan delegasinya dalam pembicaraan tersebut.
"AS telah memahami logika dan prinsip Iran, dan sekarang saatnya bagi mereka untuk memutuskan apakah mereka dapat memperoleh kepercayaan kita atau tidak," kata Ghalibaf dalam sebuah unggahan di X.
Bagaimana Nasib Gencatan Senjata Iran-AS?Perundingan antara Iran-AS memang mengalami jalan buntu namun begitu Pakistan menyerukan kepada kedua negara tersebut untuk menjunjung tinggi komitmen mereka terhadap
gencatan senjata. Keduanya diminta melanjutkan upaya untuk mencapai perdamaian yang langgeng.
"Atas nama Pakistan, saya ingin menyampaikan rasa terima kasih kepada kedua pihak atas apresiasi mereka terhadap upaya Pakistan untuk mencapai gencatan senjata dan peran mediatornya. Kami berharap kedua pihak terus melanjutkan dengan semangat positif untuk mencapai perdamaian dan kemakmuran yang langgeng bagi seluruh kawasan dan sekitarnya," kata Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar.
Baca juga: Iran dan Oman Diizinkan Pungut Biaya Bagi Tiap Kapal yang Melintasi Selat HormuzSementara itu, Oman sebagai mediator turut angkat bicara terkait hal ini. Menteri Luar Negeri Oman, Badr Albusaidi, mengatakan mendapat kesan ketika bertemu Vance, tepat sebelum perang dimulai bahwa wakil presiden dan Trump memiliki "keinginan yang tulus dan kuat untuk menghindari keterlibatan dalam perang".
"Oleh karena itu, saya mendesak agar gencatan senjata diperpanjang dan pembicaraan dilanjutkan. Keberhasilan mungkin membutuhkan konsesi yang menyakitkan dari semua pihak, tetapi ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan penderitaan kegagalan dan perang," kata Albusaidi pada X. (*/lsi/Aljazeera)
(lsi)